Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar membantah ucapannya soal 11 juta pemilih PKB tidak akan memilih Jokowi di Pemilu 2019 jika tidak menggandengnya sebagai calon wakil presiden sebagai upaya menaikkan posisi tawar. Cak Imin sebelumnya menyebut Jokowi bisa kalah jika bukan cawapresnya adalah dirinya.
"Bukan bargaining position," kata Cak Imin sapaan Muhaimin di rumah dinas Menteri Perindustrian, Jalan Widya Chandra, Selasa (8/5) malam.
Cak Imin menyebut kondisi tersebut memang fakta di lapangan. Terlebih, Cak Imin mengaku telah mengantongi dukungan dari para kiai dan ulama.
"Fakta lho. NU, pesantren itu berapa juta. Ketum PBNU dukung saya, semua ulama-ulama dukung saya. Itu bukan bargaining position tapi fakta," tegasnya.
Untuk itu, menurut Cak Imin, sebuah kerugian jika Jokowi tak memilihnya sebagai cawapres. Sehingga, ucapannya tersebut bermaksud agar dipilih oleh Jokowi.
"Karena 11 juta pemilih PKB pasti sangat mendukung. Argumen supaya saya dipilih," tandasnya.
Sebelumnya, saat meresmikan posko Cak Imin Untuk Indonesia (Cinta) sebagai wadah untuk relawan Jokowi-Cak Imin (Join) di Denpasar, Cak Imin, menceritakan alasannya untuk maju menjadi Cawapres.
Pertama, karena PKB memiliki 11 juta suara. Kedua, karena keinginan ulama dan kiai untuk maju menjadi Cawapres 2019.
"Saya punya 11 juta suara di PKB, yang kedua kalangan ulama memerintahkan saya seperti itu. Ini semua berawal dari kalangan Ulama dan Kiai yang memerintah saya. Saya tidak tahu perintahnya kok jadi Wapres. Kemudian, saya tanya kenapa tidak diperintah jadi Presiden. Iya sudah kita jalankan saja," jelasnya.
Kemudian, dia menyebut Jokowi bisa kalah jika bukan Cawapresnya adalah dirinya. Hal itu dibenarkan, sebab PKB mempunyai 11 juta suara yang nantinya tidak akan memilihnya.
"Kalau Bapak Jokowi tidak mengajak saya Wapres, itu bisa kalah. Iya PKB tidak memilih, dan 11 juta (suara) tidak memilih," ujarnya.