Tak Mau Air Tercemar, Warga Minta Pabrik Penyamakan Kulit Sukaregang Dipindah

"Kami warga di sini ingin sehat, tidak mau air yang digunakan tercemar limbah B3," ungkapnya.

Mochammad Iqbal
Oleh Mochammad Iqbal - Reporter
Tak Mau Air Tercemar, Warga Minta Pabrik Penyamakan Kulit Sukaregang Dipindah
Warga demo minta pabrik penyamakan kulit dipindah. ©2019 Merdeka.com

Ratusan warga di Kelurahan Regol, Minggu (12/5) sore melakukan aksi damai menyikapi limbah produksi kulit di Sukaregang yang dianggap sangat mengganggu. Mereka menuntut agar pabrik-pabrik yang ada di Sukaregang bisa dipindahkan karena mencemari lingkungan sekitar.

Dalam aksinya, mereka sempat membuang air yang sudah tercemar limbah kulit ke jalan sehingga membuat udara beraroma tidak sedap. Selain itu, mereka menutup sebagian Jalan Ahmad Yani yang membuat arus lalulintas terganggu. Warga pun mendatangi beberapa pabrik penyamakan dan langsung menutupnya.

"Aksi ini merupakan kesekian kalinya dilakukan karena sebelumnya setelah melakukan aksi tidak ada perubahan yang signifikan dan tidak diperhatikan pemerintah. Kami berharap agar limbah pabrik tidak dibuang ke sungai secara langsung. Ipal yang ada saat ini hanya menjadi hiasan saja," kata salah seorang warga, Dede (34).

Selain itu, Dede menegaskan harus ada tindakan tegas dari aparat pemerintah, baik itu dinas terkait maupun kepolisian. Selama ini, pencemaran lingkungan oleh limbah B3 sehingga dampaknya sangat terasa. Namun, kata Dede, tidak pernah ada langkah hukum yang diambil oleh aparat.

"Seingat saya, saat Kapolda Jabar melakukan kunjungan ke Poskamling pernah meminta kepada bapak Kapolres agar memerhatikan kasus pencemaran ini. Namun hingga saat ini masih belum ada langkah penegakan hukum yang dilakukan. Kami warga di sini ingin sehat, tidak mau air yang digunakan tercemar limbah B3," ungkapnya.

"Kami sangat berharap agar seluruh pabrik penyamakan kulit yang ada di Sukaregang ini dipindahkan ke lokasi yang jauh dari pemukiman masyarakat," tambahnya.

Warga lainnya, Ahmad (45) menegaskan jika tuntutan warga yang melakukan aksi tidak diindahkan oleh aparat pemerintah, maka bukan tidak mungkin aksi serupa akan kembali dilakukan. Selain itu juga, dia menyebut dengan melakukan perlawanan dengan tidak membayar pajak bumi dan bangunan kepada pemerintah.

"Nanti kita akan tutup juga semua lubang pembuangan limbah dan akan mendatangi satu persatu pabrik dan akan kita tutup langsung," tegasnya.

Rekomendasi