Sikap tegas pemerintahan Jokowi redam konflik Tolikara

Pemerintah tidak tinggal diam meredam konflik di Tolikara, Papua.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Sikap tegas pemerintahan Jokowi redam konflik Tolikara
Pembakaran masjid di Tolikara. ©twitter.com

Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 17 Juli 2015 diwarnai tragedi yang menyebabkan suasana memanas di ujung timur Indonesia, Papua. Perayaan Lebaran di Kabupaten Tolikara, Papua, berubah menjadi menakutkan karena insiden pembakaran puluhan kios hingga merembet ke musala saat jamaah tengah melantunkan takbir Salat Ied sekitar pukul 07.00 WIT. Selain menghanguskan kios dan musala, seorang warga tewas dan beberapa lainnya mengalami luka akibat insiden itu.Dalam upaya pengamanan, petugas menembak tiga orang pelaku penyerangan yang tidak mengindahkan peringatan petugas. Tiga orang tersebut menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Jayapura.Insiden ini menuai reaksi berbagai pihak. Mulai dari pemuka agama, tokoh masyarakat hingga pemerintah. Pemerintah sendiri tidak tinggal diam meredam insiden ini. Berikut beberapa aksi pemerintah berupaya meredakan konflik di Tolikara, Papua:

Presiden Jokowi mengutuk keras pembakaran dan kekerasan di Tolikara
Presiden Jokowi. ©Setpres RI/Cahyo

Presiden Jokowi mengatakan, sangat berterimakasih kepada para pimpinan lintas agama, ketua adat, dan tokoh masyarakat yang telah membantu proses pemulihan atas insiden di Tolikara, Papua. Jokowi mengaku mengutuk keras insiden pembakaran puluhan kios hingga merembet ke musala saat jemaah tengah melantunkan takbir Salat Idul Idul Fitri, Jumat (17/7) sekitar pukul 07.00 WIT itu."Saya sangat berterimakasih kepada para pimpinan lintas agama, ketua adat, dan tokoh masyarakat yang telah membantu proses pemulihan keadaan di Tolikara, Papua. Saya mengutuk keras pembakaran dan tindak kekerasan di Tolikara tersebut," kata Jokowi dalam akun Facebook pribadinya seperti dikutip merdeka.com, Minggu (19/7).Jokowi mengatakan, saat insiden terjadi langsung memerintahkan Menkopolhukam, Kapolri, Kepala BIN agar segera turun ke lapangan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengambil tindakan yang diperlukan, termasuk menemui para ketua adat dan tokoh agama untuk mengambil inisiatif perdamaian di lokasi.Menurut Jokowi, situasi di Tolikara sudah kondusif. Aparat penegak hukum sudah berhasil mendapatkan beberapa fakta penting, dan saat ini terus bekerja keras untuk merangkai seluruh kejadian yang sebenarnya."Saya jamin, hukum akan ditegakkan setegak-tegaknya, bukan hanya untuk pelaku kriminal di lapangan tetapi juga semua pihak yang terbukti mencederai kedamaian di Papua. Masalah ini harus diselesaikan secepatnya agar ke depan tidak terjadi lagi kekerasan di Tanah Papua," kata Jokowi.Jokowi melanjutkan, masyarakat di Papua mempunyai kearifan, kebijakan adat turun temurun yang luhur, untuk menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi, termasuk kasus Tolikara ini. Dalam sejarah Papua, kata Jokowi, hubungan antar agama selalu terjalin harmonis."Pemerintah akan mengambil tindakan apapun untuk menjaga ketenteraman hidup berbangsa dan bernegara di seluruh pelosok Tanah Air," pungkasnya.

Polri janji ungkap dalang kerusuhan di Tolikara
Apel Siaga Polisi. Merdeka.com/Imam Buhori

Polri terus menyelidiki siapa dan motif kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Jayapura, pada Jumat lalu. Pada saatnya nanti, Polri akan mengungkap ke publik bila semua informasi sudah didapat."Biarkan teman-teman kerja dulu, jangan disibukkan," terang Karo Penmas Polri, Brigjen Pol Agus Rianto, melalui sambungan telepon, Senin (20/7).Dia menegaskan, Polri tak ingin berspekulasi siapa penyebab kerusuhan saat itu. Meskipun sejumlah pihak banyak mengaitkan dengan pihak tertentu."Dugaan itu masih dalam penelusuran. Nanti akan kami buktikan," tambahnya.Kepada masyarakat, dia berharap untuk menyampaikan segala bentuk informasi yang didapat ke kepolisian. Sementara ini, kata dia, Polri belum mau menyampaikan kesimpulan terkait insiden itu."Kalau ada informasi yang lengkap pasti kami sampaikan. Sekarang masih terlalu dini," imbuhnya.Seperti diketahui, perayaan Idul Fitri 1436 Hijriah di Kabupaten Tolikara, Papua, berubah menjadi menakutkan karena insiden pembakaran puluhan kios hingga merembet ke musala saat jamaah tengah melantunkan takbir Salat Idul Id, Jumat (17/7) sekitar pukul 07.00 WIT. Selain menghanguskan kios dan musala, seorang warga tewas dan beberapa lainnya mengalami luka akibat insiden itu.Dalam upaya pengamanan, petugas menembak tiga orang pelaku penyerangan yang tidak mengindahkan peringatan petugas. Tiga orang tersebut kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Jayapura.Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Suharsono menyebutkan bahwa Gereja Injil Di Indonesia (GIDI) memang mengedarkan surat edaran yang melarang umat muslim di Kabupaten Tolikara untuk melakukan aktivitas keagamaan.Suharsono menuturkan, GIDI mengedarkan pemberitahuan soal menolak kegiatan Salat Id. "Ada edaran pemberitahuan soal menolak kegiatan Salat Ied," kata dia.

Pemerintah cari aktor intelektual kerusuhan Tolikara
Tedjo Edhy Purdijatno. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan pemerintah bersama jajaran Kepolisian menyelidiki penyebab kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua yang terjadi pada Jumat lalu. Penyelidikan itu akan dilakukan untuk mencari tahu apakah aparat keamanan sudah sesuai dalam menjalankan tugasnya."Berdasarkan hasil rapat di sini (Kemenkopolhukam-red) Sabtu lalu (18/7), Polri akan melakukan penyelidikan terhadap tindakan yang dilakukan oleh aparat keamanan, apakah sudah sesuai dengan prosedur," kata Tedjo seperti dilansir dari antara, Senin (20/7).Menurut Tedjo, insiden yang mengakibatkan satu orang meninggal serta 54 kios dan satu Mushala terbakar itu tidak mungkin terjadi tanpa ada pemicu. Dalam rapat koordinasi yang digelar di Kemenkopolhukam tersebut, Tedjo menjelaskan didapat tujuh poin kesimpulan, antara lain upaya penegakan terhadap pelaku dan aktor intelektual di Karubaga serta penyelidikan prosedur oleh aparat keamanan pada saat kejadian."Polri juga akan melakukan penyelidikan terhadap tindakan yang dilakukan oleh aparat keamanan di sana, apakah sesuai prosedur atau tidak," ujarnya.Pascakerusuhan tersebut, Tedjo menjelaskan situasi di Tolikara sudah mulai kondusif. Sementara aparat keamanan tetap berjaga mengantisipasi supaya tidak ada insiden susulan.

Mensos Khofifah pastikan bantuan untuk pengungsi Tolikara sudah siap
Khofifah Indar Parawansa. ©2012 Merdeka.com

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan ada sejumlah warga yang harus diungsikan sementara sebagai dampak dari tragedi yang terjadi di Tolikara, Papua, Jumat (17/7). Mereka menjadi pengungsi lantaran tempat tinggalnya ikut terbakar, dalam peristiwa pagi hari di hari raya Idul Fitri tersebut."153 penduduk yang rumahnya terbakar terpaksa mengungsi di penampungan milik Kemensos, yang berlokasi di belakang Koramil," ujar Khofifah saat mengadakan konferensi pers di rumah dinas menteri, Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Senin (20/7).Khofifah memastikan, sejumlah bantuan telah dipersiapkan oleh tim dari Kemensos, berupa persediaan logistik dan bahan makanan yang saat ini sudah berada di Tolikara, Papua. Bahkan, bantuan berupa pelayanan trauma healing, atau pemulihan atas trauma bagi anak-anak Tolikara di pengungsian, sudah dibentuk sebanyak dua tim untuk melayani anak-anak tersebut."Beberapa anak-anak yang rumahnya ikut terbakar memang membutuhkan penyembuhan psikologis," ujar Khofifah.Selain itu, mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan era Presiden Gus Dur ini berharap, semua pihak bisa secara bijak menyikapi kejadian yang cukup mengkhawatirkan, yang bisa memicu peta konflik yang lebih besar hingga ke arah yang tidak diinginkan."Apa yang mungkin memicu disharmoni, baik internal maupun antar umat, mestinya sudah bisa mengambil pembelajaran mengenai multikulturalisme," pungkasnya.Diketahui, sekelompok massa yang diduga jemaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI), beramai-ramai mendatangi Mushala Baitul Mustaqin di Tolikara, Papua. Saat itu bertepatan dengan hari umat Islam menggelar shalat Idul Fitri, yaitu pada Jumat (17/7) pagi. Mereka mengaku protes dikarenakan pengeras suara panitia shalat Idul Fitri itu mengganggu acara yang saat itu juga sedang digelar oleh umat GIDI.

Rekomendasi