Selama 39 Tahun, Pasutri Rawat Tiga Anak Penyandang Disabilitas di Rumah Nyaris Roboh

Dengan penuh kesabaran, Rahman dan Zulfidar menerima kenyataan tersebut. Mereka tak putus asa. Keduanya tetap berupaya merawat dan menafkahi anak itu.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Selama 39 Tahun, Pasutri Rawat Tiga Anak Penyandang Disabilitas di Rumah Nyaris Roboh
Pasutri rawat tiga anak disabilitas. ©2021 Merdeka.com

Pasangan suami istri (Pasutri) asal Desa Petapa, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), merawat tiga anak mereka yang sejak lahir, menyandang disabilitas. Pasutri itu, Rahman Abdul Gani Yona dan Zulfidar Maroe.

Keduanya dikaruniai 4 orang anak. Namun, 3 diantaranya mengalami gangguan fisik dan mental. Kondisi ini membuat 3 anak mereka tidak bisa beraktivitas normal seperti anak-anak lainnya.

Dengan penuh kesabaran, Rahman dan Zulfidar menerima kenyataan tersebut. Mereka tak putus asa. Keduanya tetap berupaya merawat dan menafkahi anak itu.

Rahman bekerja sebagai petani. Akan tetapi di usianya yang sudah tak lagi muda, dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghidupi anaknya yang menyandang disabilitas. Begitu juga dengan istrinya. Selain sudah tua, juga tak punya pekerjaan tetap.

"Sekarang sudah tidak mampu lagi saya berkebun nak, fisik saya sudah kalah. Kalau dulu, saya juga jadi tukang bangunan," tutur Rahman.

Mereka kini tinggal di rumah yang reyot dan nyaris roboh akibat terdampak dengan dahsyatnya gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018 silam.

"Rumah kami nyaris roboh dengan adanya peristiwa gempa dan tsunami," ujarnya.

Disinggung terkait bantuan Pemerintah, ibu 4 anak tersebut mengaku pernah mendapatkan bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Parigi Moutong. Namun, untuk saat ini tak ada lagi.

"Pernah ada, usai kejadian bencana, kini sudah tidak ada lagi sampai sekarang," katanya.

Senada dikatakan Zulfidar, mereka biasanya juga didatangi oleh para relawan yang merasa terpanggil dan peduli dengan kondisi mereka. Mereka pun mendapatkan bantuan dari para relawan tersebut, berupa uang, beras, dan pula kebutuhan pokok lainnya.

"Ada dari relawan ACT dan juga Alkhairaat yang sudah menyambangi kami di sini," imbuhnya.

Ia berbagi cerita rasanya selama 39 Tahun merawat anak penyandang disabilitas. Menurutnya, hanya orang-orang kuat yang mampu melewati apa yang mereka sudah alami saat ini.

"Anak saya ada empat. Anak pertama normal. Anak kedua, ketiga dan yang terakhir ini ada keterbatasan (disabilitas). Anak kedua umur 39 Tahun, kelahiran 1987," kata Zulfidar .

"Ketiga kelahiran Tahun 1990, dan yang keempat ini lahir pada Tahun 1995. Berarti sudah 39 Tahun kalau dihitung dari anak pertama. Alhamdulillah masih Tuhan kasih kekuatan," ucap Zulfidar.

Reporter: Arfandi Ibrahim
Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi