Respons Wali Kota Bekasi, Daerahnya Jadi Kota Paling Toleran

Setara Institute memberi skor Indeks Kota Toleran (IKT) 2018. Sepuluh besar kota peraih itu antara lain, Kota Singkawang dengan skor 6.513, urutan berikutnya adalah Salatiga dengan IKT 6.447, Pematang Siantar (6.280), Manado (6.030) Ambon (5.960), Bekasi (5.890), Kupang (5.857), Tomohon (5.833) Binjai (5.830) dan Surab

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Respons Wali Kota Bekasi, Daerahnya Jadi Kota Paling Toleran
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mendatangi pabrik cemarkan limbah. ©2017 Merdeka.com/Adi Nugroho

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengapresiasi predikat yang diberikan oleh Setara Institute soal Bekasi jadi kota paling toleran nomor enam dari 94 kota di Indonesia. Adapun kota paling toleran nomor satu adalah Singkawang, Kalimantan Barat.

"Prosesnya panjang, sejak tahun 2009 lalu. Ukuran toleran itu adalah lingkungannya aman, investasi ada kepastian dan perlindungan hukum," kata Rahmat Effendi di Bekasi, Selasa (11/12).

Setara Institute memberi skor Indeks Kota Toleran (IKT) 2018. Sepuluh besar kota peraih itu antara lain, Kota Singkawang dengan skor 6.513, urutan berikutnya adalah Salatiga dengan IKT 6.447, Pematang Siantar (6.280), Manado (6.030) Ambon (5.960), Bekasi (5.890), Kupang (5.857), Tomohon (5.833) Binjai (5.830) dan Surabaya (5.823).

Menurut Rahmat, pemerintah harus konsisten menerapkan hidup saling berdampingan, menghormati satu sama lain, perbedaan kulit, bahasa, dan keyakinan. Adapun yang menjadi esensi, ujar dia, negara atau kota wajib memberikan hak kepada masyarakat yang berlainan keyakinan itu setara, sederajat, atau adil dalam melakukan kegiatan di lingkungan masyarakat.

"Adilnya itu proporsional, itu yang diterapkan di Kota Bekasi," kata Rahmat.

Predikat yang diraih Kota Bekasi terus mengalami peningkatan. Pada 2016 lalu, kota yang juga dijuluki Kota Patriot ini berada di urutan kedua paling bawah atau peringkat ke-93, lalu pada tahun berikutnya naik ke peringkat 53.

Ia mengatakan, pionir wilayahnya menjadi kota toleran berawal dibentukan manjelis umat beragama pada 2016 lalu. Majelis ini merupakan kepanjangan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang hanya sampai dengan tingkat kecamatan.

"MUB itu lah yang akan terus menumbuh kembangkan, saling percaya membangun dinamika kebangsaan, NKRI, Pancasila, dan UUD 1945," ujar dia.

Rekomendasi