Calon Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno menegaskan kesenian dan kebudayaan tidak akan pernah mati, seberapa pun lamanya. Bahkan di era digital ini, kebudayaan akan terus tumbuh dan justru berkembang dengan inovasi dan kreativitas yang baru.
"Kebudayaan itu bukan sesuatu yang 'zaman old'. Bicara kebudayaan itu 'zaman now'," kata cucu dari Bapak Proklamator RI Soekarno (Bung Karno) ini, usai menghadiri forum 'Strategi Membangun Karakter Seni Budaya Jawa Timur' bersama praktisi maupun pengamat seni, di Hotel Ibis Surabaya, Sabtu (24/2).
Saat ini, lanjut dia, kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan untuk memajukan kebudayaan dan seni. Semisal promosi dan marketing produk kebudayaan berbasis media sosial. Selain itu, dari kemajuan teknologi, para pelaku kesenian bisa lebih membuka cakrawalanya, khususnya dalam mencari inovasi maupun kreasi dari internet.
"Bagaimana supaya tampilannya, tekniknya, koreografinya ataupun kostumnya lebih bagus bisa mereka cari melalui YouTube. Juga di sana bisa lihat bagaimana model kesenian di daerah lain," paparnya.
Ia menambahkan, untuk kesenian tradisional yang memang pakemnya tidak bisa dirubah dan harus selalu dilestarikan. Namun modern ini, ada juga sedikit keluar dari pakem. Misalnya dalam wayang orang, Gatotkaca terbang pakai sling. Kemudian di bawahnya api kawah Candradimuka nanti dibuat dengan teknik digital supaya terlihat apinya lebih nyata.
Puti di forum Strategi Membangun Karakter Seni Budaya Jawa Timur ©2018 Merdeka.com
"Sehingga, pertunjukan kesenian ini juga menarik anak-anak muda dengan daya kreativitas yang baru," ungkap mantan anggota DPR Komisi X ini.
Ditambah saat ini dikenal 'leisure economy'. Di mana masyarakat beralih dari kecenderungan memiliki barang-barang, menjadi lebih menyukai menghabiskan uangnya (spending money) untuk mencoba hal-hal baru di waktu luangnya (leisure), semisal berwisata.
Kaitannya dengan kesenian dan kebudayaan, Puti menjelaskan, dirinya bersama Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memiliki program 'Seribu Dewi'. Di dalamnya, selain mendorong lahirnya desa-desa wisata di Jatim, juga memfasilitasi kelompok sadar wisata (pokdarwis).
Termasuk, kalangan seniman maupun budayawan di sana, memiliki kesempatan untuk menunjukkan produk seninya, sehingga turut meningkatkan kesejahteraannya.