Polisi memetakan sejumlah titik rawan tawuran di Depok. Antara lain di Pancoran Mas, Sukmajaya, Cimanggis, Sawangan dan Bojonggede.
"Yang paling banyak di Pancoran Mas yang sering terjadi tawuran," kata Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar, Kamis (10/3).
Skema pengamanan patroli pun sudah diperketat dan diubah polanya. Tim gabungan yang terdiri dari Polres dan polsek akan patroli lebih intensif di jam-jam rawan. Yaitu antara pukul 00.00-04.00 WIB.
"Jadi kita perbanyak personel bergantian antara personel polres dan polsek. Dan itu terbukti beberapa tawuran bisa digagalkan. Malam minggu itu ada dua, yang digagalkan, semalam dua, ada 4 jadinya," ungkapnya.
Pihaknya juga meminta peran serta masyarakat terutama para orangtua agar ikut memantau anaknya. Anak-anak yang keluar rumah malam hari tanpa alasan jelas diimbau agar tidak diperbolehkan untuk menghindari terjadinya tawuran. Anak-anak kerap beralasan keluar rumah malam hari untuk membeli makanan atau minum kopi namun sebenarnya mereka justru berkumpul dan mabuk kemudian terlibat tawuran.
"Kami juga imbau agar orang tua lebih ketat mengawasi anaknya. Mereka ini mabuk mengonsumsi minuman sebelum beraksi," imbaunya.
Saat ini pihaknya juga masih mengejar sejumlah orang yang terlibat tawuran di Pitara, Pancoran Mas beberapa hari lalu yang menyebabkan tiga warga terluka. Geng bernama T2CR atau Geng Tanjok, Casino dan Kresek itu sebelumnya janjian tawuran dengan geng Turki namun kalah. Kemudian mereka pulang dan di perjalanan melihat warga sedang berkumpul dan langsung diserang.
"Mereka salah sasaran menyerang warga hingga ada tiga yang terluka," ucapnya.
Delapan orang sudah diamankan berikut barang bukti berupa senjata tajam. Dari delapan orang itu, tiga yang melakukan pembacokan. Pihaknya masih mengejar tiga orang lagi yang masih buron yang terlibat pembacokan.
"Pelaku yang ada di lokasi 14 orang. Delapan sudah diamankan, kita sedang cari yang lainnya. Kita sedang mencari tiga lainnya yang melakukan pembacokan pada warga," tegasnya.
Usia pelaku yang diamankan antara 17-19 tahun dan ada yang masih bersekolah di bangku SMP. Mereka berbekal sajam yang dibeli online dan buat sendiri.
"Beli sajamnya seharga Rp165ribu. Ada juga yang mereka buat sendiri sajamnya dan sudah kami amankan sebagai barang bukti," pungkasnya.