Polisi masih mengejar pelaku penyebaran berita bohong alias hoaks rasisme yang menimbulkan kerusuhan di Wamena, Papua. Akibat kerusuhan kemarin, 22 meninggal dunia, 1 di rumah sakit yang kritis,
"Kami masih melakukan pencarian terhadap pelaku yang memberikan keterangan palsu atau hoaks sehingga terjadinya mobilisasi massa yang mengakibatkan pembunuhan, penganiayaan dan pembakaran sejumlah kantor pemerintah, fasilitas umum dan pemukiman warga," tutur Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal dalam keterangannya, Selasa (24/9).
Kamal menyebut, pihaknya sudah mengonfirmasi video rasisme tersebut ke pihak sekolah dan guru.
"Terkait dengan isu ucapan rasisme itu tidak benar. Kami juga sudah menanyakan kepada pihak sekolah dan guru dan kita pastikan tidak ada kata-kata rasis," jelas dia.
Kepolisian meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi atas isu-isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
"Kami harap masyarakat di Wamena dan di Tanah Papua tidak mudah untuk terprovokasi isu yang belum tentu kebenarannya," tegas Kamal.
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menilai ada indikasi provokasi dari pihak asing terkait kerusuhan di Wamena, Papua pagi ini. Dia mengungkapkan, ada pihak yang ingin membuat Indonesia melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat.
Menurutnya, Indonesia sengaja dipancing untuk melakukan hal tersebut. Sehingga penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua ditangani oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Reporter: Nanda Perdana Putra
Sumber: Liputan6.com