Orang Tua di Garut Mengeluh Harga Buku SD Mencapai Rp1 Juta

Mereka menilai harga tersebut tidak wajar dan sangat membebani.

Mochammad Iqbal
Oleh Mochammad Iqbal - Reporter
Orang Tua di Garut Mengeluh Harga Buku SD Mencapai Rp1 Juta
Murid Kelas 1 SD saat Hari Pertama Sekolah. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Sejumlah orang tua siswa sekolah dasar negeri di Kabupaten Garut mengeluhkan harga buku pelajaran yang mencapai Rp1 juta. Mereka menilai harga tersebut tidak wajar dan sangat membebani.

Wali siswa SDN Sukagalih V, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut Irman mengaku keberatan dengan mahalnya harga buku anaknya. Dia mengatakan hanya bisa membeli buku saja untuk anaknya karena total harga yang harus dikeluarkan untuk seluruh buku sangat mahal.

"Tentu dengan harga yang mencapai Rp1 juta itu cukup membebani. Itu memang buku pelajaran untuk satu tahun, namun tetap saja kan kalau ada keterbatasan dana. Jadinya saya baru bisa membelikan beberapa buku saja karena baru punya uang Rp300 ribu," ujar Irman, Kamis (25/7).

Dia mengungkapkan, guru di sekolah sang anak sebenarnya tidak mewajibkan membeli buku tersebut. Namun, buku-buku tersebut biasa dipakai saat proses belajar mengajar.

Sehingga, kata dia, mau tidak mau orang tua memutar otak agar semua buku terbeli. Oleh karena itu, dia berharap agar buku pelajaran bisa disediakan oleh sekolah bisa dibantu oleh pemerintah setempat.

"Jadi kalau ada PR atau apa mungkin, jangan dikerjakan di buku paket biar bisa dipakai lagi di tahun selanjutnya kan," ucapnya.

Sementara itu, wali siswa lain di SDN 1 Samarang juga mengeluhkan hal serupa. Dia mengaku harus membeli buku pelajaran anaknya lebih dari setengah juta. Jumlah tersebut dianggapnya terlalu mahal.

"Buku pelajaran yang digunakan dari penerbit Erlangga. Buku terbitan itu memang mahal sih. Jadinya ya kita harus ngumpulin uang dulu biar bisa beli semuanya untuk anak. Sekarang belum bisa beli karena belum ada uangnya," ujarnya.

Di SDN 1 Samarang, lanjut Sri, penjualan buku pelajaran dilakukan di sebuah ruangan bekas kantor koperasi sekolah. Karena mahalnya harga buku, tidak jarang orang tua yang meminta penjual agar dibolehkan berutang atau membayar dengan cara dicicil.

"Ya namanya juga sayang sama anak, akhirnya mungkin para orang tua melakukan upaya lobi dengan penjual buku karena materi ajarnya ada di buku itu. Saya sebetulnya berharap agar buku disediakan sekolah, disimpan di perpustakaan agar bisa dipinjam. Kalau saat dipinjam hilang ya harus diganti agar bisa terus dipakai dikemudian hari oleh siswa selanjutnya," ucapnya.

Rekomendasi