Rata-rata umur manusia di era milenium ketiga ini berkisar antara 60-70 tahun. Bila seseorang memiliki umur di atas rata-rata, orang menyebutnya sebuah mukjizat. Adalah Nenek Anami dan Mbah Gotho, dua orang yang memiliki umur di atas rata-rata. Umur Nenek Anami tahun ini 141 tahun sementara Mbah Gotho asal Sragen umurnya 145 tahun. Anami, nenek asal Kabupaten Purwakarta Jawa Barat ini tinggal di Kampung Bungur Sarang, Desa Cisaura, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Semasa hidupnya nenek yang pernah bekerja sebagai kuli penderes getah karet di masa penjajahan Belanda ini mengaku pernah menikah hingga 4 kali.
Nenek Anami ©2015 merdeka.com/juven
Lucunya, saat ditanya bagaimana rasanya menikah empat kali, nenek Anami pun menjawab dengan pernyataan yang membuat seisi rumah tertawa. "Kawin empat kali. (Rasanya) Yah enak atuh ngerasain yang gimana aja," kata Nenek Anami kepada merdeka.com saat ditemui di rumahnya, Jakarta, Rabu (13/5/2015) lalu.Nenek Anami masih mengingat empat nama suaminya yakni Ki Ahlan, Ki Supri, Ki Ingkit dan Haji Masum. Nenek Anami juga menceritakan salah satu suaminya ternyata tukang selingkuh. Karenanya Nenek Anami mengaku pernah dimadu oleh sang suami."Saya punya suami nakal sama perempuan lain (istri muda), saya enggak pernah marah. Sabar walaupun setiap pengkolan ada aja selingkuhannya," akunya.
Advertisement
Hal yang sama juga dialami oleh Mbah Gotho. Pria yang memiliki 3 orang anak, 12 cucu, 17 cicit dan 2 canggah ini juga pernah menikah hingga 4 kali. Yang pertama dia menikahi saudara sepupunya sendiri, namun gagal di tengah jalan. Pernikahannya yang terakhir dengan Rayem yang usainya terpaut jauh dengannya dan sudah meninggal tahun 1997 lalu."Saya sudah menikah empat kali, anak saya lima, tapi yang dua meninggal saat masih anak-anak, cucu saya banyak. Tapi istri saya ada yang cerai ada yang meninggal. Tiga anak saya yang hidup hingga dewasa semua dari istri terakhir. Dari tiga itu, sekarang yang dua sudah meninggal juga. Semua saudara saya juga sudah lama meninggal, tinggal saya saja. Saya menuruni simbah saya yang juga panjang umur," cerita Mbah Gotho yang ditemui merdeka.com, Selasa (30/8) malam di rumahnya.
Mbah Gotho ©2016 merdeka.com/arie sunaryo
Saat ini, Mbah Gotho tinggal di rumah milik salah satu cucunya bernama Suryanto di Kampung Dukuh Segeran, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Mbah Gotho memiliki nama asli Saparman. Kemudian setelah menikah sesuai tradisi masyarakat Jawa saat itu, dia berganti nama menjadi Sodimejo. Nama Gotho sendiri di kalangan pedesaan bermakna sebagai seseorang yang selalu bersemangat dan cenderung menggunakan otot ketika berjalan atau bertindak.Meski kesehatannya mulai berkurang, namun untuk umur setua Mbah Gotho tergolong luar biasa. Setahun terakhir dia terlihat semakin sulit berjalan, lebih banyak menghabiskan waktu duduk di ruang tengah rumah cucunya itu sembari menikmati sebatang demi sebatang rokok yang disediakan cucunya."Simbah tidak pernah menderita sakit serius. Dulu ikut emak saya, tapi setelah emak wafat, beliau ikut saya," kata salah satu cucunya bernama Suryanto.Saat ini badan badan Mbag Gotho sudah membungkuk dan lebih banyak duduk. Fungsi pendengaran Mbah Gotho juga sudah semakin melemah. Kendati umurnya sudah renta namun ingatannya masih jernih dan penuturannya masih lancar dan runtut.
Advertisement
"Saya ini lahir di hari Kamis Wage, bulan Sapar, makanya orang tua saya memberi nama Saparman," ujarnya saat ditemui wartawan, Selasa (30/8) malam.Sedang untuk tahun lahir, dia tidak ingat pasti. Namun seingat dia, saat masih muda dia pernah menyaksikan peresmian Pabrik Gula Gondang. Pabrik Gula Gondang Sragen menurut sejarah dibangun pada tahun 1880.
Mbah Gotho ©2016 merdeka.com/arie sunaryo
"Saya ingat saat itu saya sudah ikut datang menonton peresmian Pabrik Gula Gondang. Saat itu saya sudah besar dan bisa membantu bapak membajak di sawah, umur 10 tahun saya sudah diajari membajak," ucapnya lancar.Mbah Gotho mengaku saat ini tak lagi punya harapan atau impian pada kehidupan di dunia. Dia hanya ingin segera menemukan kematian dengan tenteram dan bersatu dengan nyanyian alam raya."Saya ini hanya tinggal menunggu mati. Menjadi orang itu harus sabar dan narimo (menerima apa adanya)," tutupnya.