Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyebut, radikalisme terjadi karena adanya kemiskinan. Pelaku teror, apalagi yang disiapkan sebagai calon pengantin, kebanyakan berlatar belakang keluarga miskin.
Menko Luhut menyampaikan ini di hadapan ratusan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) saat memberi kuliah umum di Aula Barat Kampus ITB, Jalan Ganeca Bandung, Rabu (1/3). Dalam kuliah umum, mantan Menkopolhukam itu mengambil contoh Yayat Cahdiyat alias Abu Salam (42) terduga pelaku teror bom di Bandung.
"Masalah radikalisme itu karena kemiskinan. Itu, teroris yang bom di Bandung kemarin, itu orang miskin," kata Luhut.
Permasalahan mendasar itulah yang menjadi perhatian pemerintah saat ini. pemerintah mengalokasikan Rp 500 triliun untuk mengatasi permasalahan ini. Uang tersebut menyasar banyak sektor dimana mutu pendidikan ditingkatkan, fasilitas kesehatan dan pemerataan pembangunan.
"Hasilnya sekarang ada peningkatan akses pendidikan dan kesehatan. Kami juga tidak ingin ada anak yang tak sekolah," terangnya.
Dia menyebut alokasi anggaran lebih besar tersedot ke sektor pendudukan. "Kami siapkan beasiswa dan di pendidikan. Generasi kami yang menyiapkan untuk generasi kalian (mahasiswa) ini harus detil. Kalau enggak, di bawahnya akan banyak masalah yang kecil-kecil itu," katanya.
Luhut juga mengaku, serangan terorisme bisa menyasar siapa dan di mana saja. Hal itu berkaca dari kejadian terorisme di Bandung yang meledakkan bom di Lapang Pendawa, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.
"Soal serangan itu kapan dn dimana saja bisa terjadi. Bukan hanya di Indonesia saja kan. Tapi saya kira polisi sudah menangani dengan cepat. Polisi langsung mengidentifikasi dengan cepat. Saya kira enggak ada masalah," ucapnya.