Mahasiswi Meninggal di Gua Lele Karawang Tak Melapor Orang Tua Saat Ikut Kegiatan

Erisa merupakan salah satu dari tiga korban meninggal dunia saat melaksanakan giat pengembaraan Gua Lele, Minggu (22/12) sekitar pukul 14.00 WIB. Sementara dua korban meninggal lainnya yakni Alief Rindu Alafah (18) dan Ainan Fatimatuzahro (19).

Bram Salam
Oleh Bram Salam - Reporter
Mahasiswi Meninggal di Gua Lele Karawang Tak Melapor Orang Tua Saat Ikut Kegiatan
Anggota Mapala Unsika Tewas. ©2019 Merdeka.com/Bram Salam

Enap (45), orangtua dari Erisa Rifiani Putri (20), pasrah atas kejadian menimpa anaknya. Erisa merupakan anggota Mapala Universitas Karawang (Unsika) ditemukan meninggal dunia usai terjebak di dalam Gua Lele, Kampung Tanah Beureum, RT 03 RW 02, Desa Taman Sari, Kecamatan Pangkalan.

Erisa merupakan salah satu dari tiga korban meninggal dunia saat melaksanakan giat pengembaraan Gua Lele, Minggu (22/12) sekitar pukul 14.00 WIB. Sementara dua korban meninggal lainnya yakni Alief Rindu Alafah (18) dan Ainan Fatimatuzahro (19).

"Pihak keluarga menerima musibah yang menimpa putri saya atas peristiwa yang terjadi," kata Enap, saat mendatang kamar jenazah di RSUD Karawang, Senin (23/12).

Enap bercerita putrinya memiliki hobby melakukan kegiatan uji nyali dialam bebas sejak masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) bersama tim sekolah. Walaupun sempat dilarang ibundanya namun keinginan berpetualang cukup besar.

"Kegiatan di alam bebas sejak duduk di SMP hingga menjadi mahasiswa, walaupun sempat dilarang ibunya karena perempuan," kata warga Parung Tanjung, Desa Cibodas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, ini.

Putrinya yang baru duduk di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsika, Semester 1, kata Enap, biasanya setiap ada kegiatan suka memberi kabar dan minta doa restu kedua orang tua. Namun dalam kegiatan ke Gua Lele, tidak memberi kabar sama sekali.

"Biasanya setiap kegiatan memberi kabar, namun dalam peristiwa ini tidak memberi kabar sama sekali," kata dia.

Firasat Nenek

Sempat neneknya mendapat firasat sebelum peristiwa terjadi, bahwa putri selalu ada dalam bayangan depan matanya, namun tidak dihiraukan ucapan neneknya tersebut, karena dua hari sebelumnya memberi kabar kepada keluarga akan pulang ke Bogor pada Rabu ini.

"Ada firasat melalui neneknya selalu membayang di depannya," imbuhnya.

Dia hanya berharap kejadian ini menjadi pelajaran untuk lebih hati-hati dalam setiap kegiatan. Terlebih di musim hujan yang memiliki resiko lebih tinggi dalam berkegiatan di alam bebas.

"Kita ambil hikmahnya dalam setiap peristiwa tidak ada niatan untuk menuntut siapapun," tutupnya.

Rekomendasi