Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) tengah mengembangkan Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan Indonesia (Spada) untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pembelajaran yang bermutu di perguruan tinggi.
Hal itu dikatakan oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Kemenristek Dikti, Intan Ahmad. Kata dia, sudah ada beberapa perguruan tinggi yang menerapkan Spada, seperti ITB, UGM, dan Universitas Telkom.
"Kami harap UT (Universitas Terbuka) yang sudah banyak pengalaman turut membantu, jadi akan memperkuat metode yang sedang dijalankan," ujarnya dalam acara Association of Open University (AAOU) di Hotel Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (27/9).
Sebab, menurutnya, banyak tantangan dalam menerapkan sistem tersebut. Misalnya, mempertanyakan capaian pembelajaran melalui sistem daring yang berbeda dengan pola konvensional atau tatap muka.
"Katakan face to face lebih baik dari daring atau sebaliknya, itu tergantung juga kepada niat dari mahasiswanya, karena kalau niatnya untuk mencari ilmu pengetahuan, tentunya dia mengupayakan berbagai cara," kata dia.
Pengalaman UT tersebut tercermin dari kiprahnya menerapkan sistem belajar jarak jauh sejak tahun 1984 dan sudah memiliki lulusan lebih dari 1,2 juta.
"Itu menunjukkan kepercayaan masyarakat sekarang akan memperkuat (pelaksanaan Spada)," ucapnya.
Ahmad meyakini untuk menghasilkan lulusan terbaik, tidak saja ditopang akademik semata, namun juga memiliki soft skill. Memahami persoalan yang ada di Indonesia, misalnya.
"Kalau di program studi konvensional ada kegian kurikuler dan ektrakurikuler. Nah, ini di UT bentuknya lain," ucap dia.
Ahmad menerangkan, sistem pembelajaran jarak jauh telah diterapkan di sejumlah perguruan tinggi di negara-negara maju. Lebih dari 32 negara telah mengimplementasikannya.