Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jaga Kesehatan Jelang Wukuf, Jemaah Haji Lansia Diajak Senam di Hotel

Jaga Kesehatan Jelang Wukuf, Jemaah Haji Lansia Diajak Senam di Hotel Jemaah haji di Makkah melaksanakan senam lansia di hotel. ©Media Center Haji 2023

Merdeka.com - Puncak pelaksanaan ibadah haji akan berlangsung kurang dari dua pekan lagi. Jemaah haji Indonesia, terutama yang berusia lanjut diminta menjaga kesehatan. Caranya, kurangi aktivitas di luar hotel dan berolahraga agar tidak jenuh.

Wukuf di Arafah akan berlangsung pada 9 Zulhijjah atau 27 Juni 2023. Hingga Kamis 15 Juni, jemaah gelombang kedua terus berdatangan melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Makkah.

Sementara di Madinah, sebanyak 24 kloter jemaah kuota tambahan akan mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz mulai hari ini. Setelah beristirahat semalam, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk melakukan umrah wajib.

Suasana di Kota Makkah semakin padat. Setelah pemerintah Arab Saudi memberlakukan kuota normal, diperkirakan ada 2,5 juta lebih jemaah haji dari seluruh dunia yang akan berkumpul saat puncak pelaksanaan haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Direktur Bina Haji Kementerian Agama Arsad Hidayat, mengimbau kepada jemaah haji Indonesia untuk menjaga kondisi kesehatannya agar bisa melaksanakan rangkaian rukun dan wajib haji.

"Kita kurangi aktivitas supaya punya tenaga yang cukup untuk melaksanakan puncak ibadah haji. Jangan sampai nanti pada saat pelaksanaan wukuf kita drop, karena kita salah pasang strategi," ujar Arsad di Bandara KAAIA Jeddah, Rabu (14/6).

Arsad menyarankan, bila jemaah haji merasa kurang fit, lebih baik melaksanakan aktivitas ibadah di hotel atau di masjid-masjid terdekat. Tidak perlu memaksakan salat ke Masjidil Haram, atau melakukan umrah sunah berulang-ulang.

Berdasarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), hingga hari ke-23 operasional misi haji Indonesia, sudah 62 jemaah yang wafat baik di Makkah dan Madinah.

Arsad mengatakan, untuk menekan angka kematian jemaah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) akan mencoba mendekatkan pelayanan kesehatan kepada jemaah melalui layanan satelit yang ada di hotel.

"Jadi bukan lagi di sektor ya, sektor kan terdiri dari beberapa hotel. Nah sekarang kita buka di setiap hotel. Mereka (jemaah) turun dari kamar ke lantai paling bawah ada di situ layanan satelit. Mereka bisa sekadar memeriksa tensi setelah pulang dari masjid," papar Arsad.

Menurut Arsad, tenaga kesehatan sudah melakukan upaya antisipasi agar tidak terjadi kegawatdaruratan. Untuk jemaah haji yang meninggal sebelum puncak haji, akan dibadalkan oleh pemerintah. Adapun jemaah yang berhak mendapatkan badal haji, yakni mereka yang meninggal dunia setelah masuk asrama haji sampai menjelang pelaksanaan wukuf.

"Kita dari pemerintah menyiapkan nanti siapa yang berhak untuk mendapatkan badal haji," ujarnya.

Jemaah lainnya yang berhak mendapatkan badal haji yakni mereka yang sakit. Dia mencontohkan orang-orang yang dirawat di rumah sakit, yang kalau di copot alatnya (infusnya) bisa terjadi kondisi fatal. Sedangkan untuk jemaah yang demensia, akan dilihat kondisinya.

"Kondisinya mungkin lumayan cukup parah, sehingga dia tidak bisa dimobilisasi. Nah itu bisa juga masuk kategori (dapat badal haji)," jelas Arsad.

Senam Lansia

Selain mengurangi aktivitas, cara jemaah haji menjaga kesehatan dapat dilakukan dengan melakukan olahraga. Seperti yang diinisiasi oleh petugas haji daerah kloter 13 SOC, Budi Abadi.

Budi yang sehari-hari menjabat sebagai Kapolsek Semarang Utara itu mendampingi 360 jemaah asal Kendal dan Semarang, Jawa Tengah. Sebagian besar lansia berumur di atas 60 tahun. Setiap pagi, Budi mengajak mereka untuk melakukan senam lansia, di aula Hotel Risq Palace, Misfalah, Makkah,.

"Karena ibadah haji adalah ibadah fisik, kami berinisiatif menyelenggarakan senam lansia. Kami berharap setidaknya membantu memberikan tubuh yang bugar kepada para lansia, agar nanti di puncak haji benar-benar siap fisiknya," kata Budi Abadi Rabu (12/6).

Kegiatan itu mendapat tanggapan positif para jemaah. Mereka antusias mengikuti senam.

"Senang sekali karena jadi enteng badannya setelah kita melakukan aktivitas fisik di Masjidil Haram. Senam ini juga bisa mengusir kebosanan," kata Ummi Fatiyah (48), jemaah asal Kota Semarang.

Budi Abadi menambahkan, dalam mendampingi dan melayani jemaah lansia, dia berkoordinasi dengan dokter Kloter 13.

"Karena banyak yang sepuh, makanya saya berikan sedikit senam kebugaran agar reaksi otak dan tenaga harus laras, sekaligus memberikan motivasi kepada jemaah," katanya.

Senam juga membuat para lansia yang sudah berada di Tanah Suci sejak 28 Mei lalu itu tidak bosan. Aktivitas rutin salat ke Masjidil Haram atau di hotel, dan menunggu puncak haji yang masih lama, membuat sebagian jemaah merasa jenuh dan stres.

Tak lupa, Budi berpesan agar jemaah jangan memaksakan diri ketika kondisi tubuh tidak kuat.

"Dengan sehat kita bisa melaksanakan ibadah serta selalu menjaga barang-barang saat ibadah. Jangan keluar hotel jika tidak terlalu terpaksa. Jika pergi ibadah, usahakan jangan sendiri, bersama rombongan, minimal berdua," ujarnya.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP