Ganjar minta polisi tindak pemotor ke trotoar usai lihat aksi Daffa

Namun, Ganjar menyesalkan dengan pernyataan polisi yang mengatakan bahwa langkah keberanian Daffa itu salah.

Parwito
Oleh Parwito - Reporter
Ganjar minta polisi tindak pemotor ke trotoar usai lihat aksi Daffa
Daffa dapat hadiah sepeda dari Walikota Semarang. ©2016 merdeka.com/parwito

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memuji aksi berani bocah Daffa Farros Oktoviarto (9), yang menyetop sepeda motor melintas di atas trotoar di Jalan Raya Jendral Sudirman, Kawasan Kalibanteng, Kota Semarang, Jawa Tengah. Bahkan, akibat keberanian anak itu, Ganjar mengaku mendapatkan banyak masukan dari warga Kota Semarang dan luar Kota Semarang di Jawa Tengah terkait aksi nekat dan polos yang dilakukan oleh siswa kelas 4A SD Negeri Kalibanteng Kulon 01, Kota Semarang itu.Meski demikian, Ganjar berharap penghargaan dan pujian jangan dilakukan secara berlebihan terhadap anak-anak apalagi berita dan kabar tersebut sudah merebak dan menjadi isu nasional di beberapa media."Itu menurut saya luar biasa. Ada anak yang berani mengungkapkan kebenaran. Saya mendapatkan masukan banyak melalui sosial media, melalui SMS. Itu Pak Gub, dihormati, dihargai. Ya...ya...ya...kita memang perlu menghormati dan menghargai tapi kita tidak perlu berlebihan," kata Ganjar usai memberikan kuliah umum di Kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) Kawasan Gunung Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (20/4).

Menurut dia, yang terpenting adalah mengambil hikmah dari aksi berani bocah Semarang. "Dari kejadian Daffa itu menunjukkan kepada kita semua anak kecil itu berani lho. Jadi yang lain tidak hanya ngomong harus berani juga. Kalau itu bisa dilakukan beberapa tempat, kita melihat kemungkaran, melihat pelanggaran ada reaksi sosial," ujar dia.Semestinya, belajar dari aksi Daffa tersebut, orang yang lebih tua dari Daffa harus merasa malu termasuk petugas yang mengatur ketertiban di jalan salah satunya petugas kepolisian. Sehingga lembaga kepolisian yang seharusnya menangani persoalan yang ditegakkan oleh seorang anak kecil ini harus melakukan perbaikan sistem pengawasan."Maka anak usia 9 tahun bisa melakukan reaksi sosial luar biasa dan itu mestinya yang tua malu. Sehingga semuanya perbaikan bisa bergerak dengan cepat. Termasuk, pak polisi saya kira polisi bisa memberikan ruang agar masyarakat bisa melapor sehingga si Daffa tidak perlu melakukan itu. Termasuk melakukan perbaikan sistem pengawasan dan pemantauannya," terang politisi PDI Perjuangan ini.Namun, jika pasca kejadian aksi Daffa itu tidak ada sama sekali perbaikan sistem, maka kejadian serupa akan terulang kembali."Tapi ketika perbaikan sistem itu belum ada, akan muncul Daffa-Daffa yang lain yang sangat menginspirasi karena kemudaan dia. Ayo! Sing tuo-tuo waras kabeh! Sadar yoo sampek kalah karo Daffa ki (Ayo yang tua-tua sadar, sadarlah jangan sampai kalah dengan Daffa). Itu sebagian harapan saya, Indonesia akan lebih baik," tegas suami Siti Atikoh Supiyanti ini.Ganjar menyesalkan dengan pernyataan polisi yang mengatakan bahwa langkah keberanian Daffa itu salah. Justru kepolisian harus melakukan sistem perbaikan pengawasan seperti memasang CCTV atau membuat ruang, media serta sarana cepat dan tepat yang diberikan kepada warga untuk melapor jika ada kejadian yang sama."Maka kemarin ketika polisi berkomentar Daffa juga salah harusnya dia lapor. Anak kecil to? Nggak! Karena sistem pelaporanya nggak ada. Daffa bener buat saya. Daffa bener. Polisi yang harus memperbaiki kalau ada seperti itu. Maka, bisa dengan CCTV, dia bisa membuat kanal laporan, bisa membuat kemana SMS, ke mana sosial media yang ini akan bisa memperbaiki sistem," pungkasnya.

Rekomendasi