Wates adalah ibukota Kabupaten Kulonprogo, yang kini terus berkembang seiring berdirinya bandara YIA (Yogyakarta International Airport). Para pendatang mulai mendatangi Wates untuk memulai peruntungan bisnis di sana.
Para warga asli juga tak segan menjual tanah mereka kepada para pendatang. Bisnis-bisnis baru bermunculan. Bahkan, beberapa lembaga pendidikan tinggi mulai membangun kampus di sana.
Di balik keadaan Wates yang semakin berkembang, kota itu punya nilai sejarah. Dulunya Wates merupakan daerah rawa-rawa yang menandakan batas Kerajaan Mataram. Berikut 5 fakta Wates, salah satu kota sarat sejarah di Yogyakarta yang kini dijadikan lokasi bandara baru, YIA.
Advertisement
Dikutip dari Liputan6.com, Kamis (5/3), menurut sejarawan Ahmad Athoillah, secara etimologi Kota Wates artinya "Batas". Kota itu dulunya menjadi batas antara Negara Gading (Mataram Selatan) dan Mataram Krajan (Mataram Kulon) saat kekuasaan Kerajaan Mataram masih berpusat di Kartasura.
Namun posisinya semakin betul-betul menjadi batas ketika wilayah bekas negara Gading yang membentang dari Galur sampai Temon menjadi Kadipaten Karang Kemuning pada 1813. Waktu itu, posisi Wates menjadi titik perbatasan antara kadipaten itu dengan wilayah Kasultanan Yogyakarta di Pengasih.
Advertisement
Sebelum tahun 1951, wilayah di Kabupaten Kulon Progo terbagi atas dua, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Adikarto. Kabupaten Kulonprogo merupakan wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sementara Kabupaten Adikarto merupakan wilayah Kesultanan Pakualaman.
Berdasarkan situs kulonprogokab.go.id, sebelum berada di Wates, ibukota Kabupaten Adikarto berada di Brosot, namun pada 1903 pindah ke Wates.
Advertisement
Sebelum menjadi sebuah kota, wilayah Wates dulunya merupakan daerah rawa-rawa. Kemudian pesawahan mulai dibangun agar bisa membangun perekonomian masyarakat sekitar.
Kemudian Pakualam VI membangun Wates didukung oleh para diaspora dari Tionghoa. Setelah kekuasaannya berganti ke tangan Pakualam VII, para Tionghoa itu diizinkan mengontrak tanah di Wates selama 75 tahun.
"Setelah penanda tanganan kontrak itu, para Tionghoa kemudian sukses dengan warung opium dan jenis perdagangan lain," kata Athoillah dilansir dari Liputan6.com, Kamis (5/3).
Advertisement
Bila mengunjungi Kota Wates, kita akan menjumpai sebuah patung yang berada di tengah-tengah persimpangan jalan. Oleh masyarakat setempat, patung itu dinamakan patung kuda.
Namun sebenarnya, patung itu merupakan patung dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Serang yang mengendarai kuda tersebut.
Nyi Ageng Serang merupakan pahlawan nasional yang ikut bertempur melawan Belanda dalam Perang Diponegoro. Dia bersama para prajurit lainnya berperang melawan Belanda di wilayah Pegunungan Menoreh, Kulonprogo.
Advertisement
Walaupun sarat dengan sejarah, namun banyak orang tak tahu sejarah Wates. "Saya orang Wates tapi saya tidak tahu kenapa dinamakan Wates," kata Agus, salah seorang warga Wates dikutip dari Liputan6.com, Kamis (5/3).
Selain dengan Agus, Joko, warga Pengasih juga tak tahu kenapa dinamakan Wates. Dulu kata simbah, pusat kotanya juga ada di Wates. Tapi kenapa dinamakan Wates saya juga tidak tahu walaupun dekat dengan Pengasih," kata Joko dikutip dari Liputan6.com.