Rapat dengan Disdik DKI, PSI Pertanyakan Anggaran Alat Peraga Pasir untuk SMK

Politisi PKS itu mempertanyakan relevansi alat peraga pasir untuk tingkat SMK teknologi. Sepengetahuannya, alat peraga pasir tidak ada di tingkat itu. Meski tidak menjawab rinci, pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan menjawab bahwa ada kebutuhan SMK berupa pasir sebagai alat peraga.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Rapat dengan Disdik DKI, PSI Pertanyakan Anggaran Alat Peraga Pasir untuk SMK
Gedung Baru DPRD DKI Jakarta. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Komisi E DPRD DKI Jakarta bersama Dinas Pendidikan menggelar rapat pembahasan anggaran kebijakan umum anggaran prioritas plafon anggaran sementara (KUA-PPAS). Rapat tersebut dihujani dengan pertanyaan mata anggaran aneh dengan nilai fantastis.

Hampir satu jam, anggota komisi secara bergantian mengajukan alasan adanya pengadaan lem Aibon di sekolah Jakarta Barat. Namun, Wakil Ketua Komisi dari fraksi PSI, Anggara Wicitra Sastroamidjojo, mempertanyakan pengadaan alat peraga berupa pasir untuk tingkat SMK.

"Kalau masih data yang kemarin (belum ada revisi) banyak banget, tinta printer Rp105 M untuk penyediaan operasional SDN Jakarta Timur. Terus ada lagi alat peraga pasir 55 ribu sekian untuk SMK negeri teknologi," ujar Anggara, Jakarta, Kamis (31/10).

Politisi PKS itu mempertanyakan relevansi alat peraga pasir untuk tingkat SMK teknologi. Sepengetahuannya, alat peraga pasir tidak ada di tingkat itu.

"Ini untuk apa? Alat peraga untuk SMK?" cecar dia.

Meski tidak menjawab rinci, pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan menjawab bahwa ada kebutuhan SMK berupa pasir sebagai alat peraga.

Ketua Komisi Imam Satria menimpali agar penyusunan usulan anggaran sedianya berkaca pada kebutuhan sekolah tahun sebelumnya. Sehingga, kata dia, dalam mengisi komponen tidak 'blunder' terlebih anggaran dianggap aneh bagi penerima.

Politisi Gerindra itu juga mengatakan kegiatan pengisian kebutuhan seperti ini bukan hal baru, melainkan rutinitas.

"Ini kan kegiatan rutinitas. Emang pagunya berubah? Kan tinggal menyesuaikan jumlah siswa," ujarnya.

Rekomendasi