Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kronologi Perkenalan hingga Pelaku Aniaya Wanita di Hotel Tamansari

Kronologi Perkenalan hingga Pelaku Aniaya Wanita di Hotel Tamansari garis polisi. shutterstock

Merdeka.com - Malam itu, Udara sangat dingin, maklum saja Jakarta baru saja diguyur hujan deras, Muhajirin alias koneng, merasa kesepian. Tak ada satupun teman wanita yang ingin sekedar menyapa untuk sekedar menanyakan kabar.

Hatinya kosong bagaikan ember tak diisi air. Muhajirin mencoba mengunduh aplikasi kencan Michat untuk mengusir kegundahan hati. Seperti sosial media pada umumnya, Muhajirin memasang foto profil yang menurutnya bisa menarik perhatian wanita-wanita manis dan cantik atau istilah kerennya Macan.

Dari sekian banyak pesan pertemanan yang dikirimkan, ada satu wanita yang betul-betul ingin digaetnya. Dia adalah E (19), wanita berkulit kuning langsat, dan berbadan mungil.

Muhajirin mengeluarkan jurus gombalan maut untuk meluluhkan hati E. Bahkan, Muhajirin sampai mencoba menggoda dengan uang.

Mungkin dalam benaknya"uang adalah segalanya, atau time is money (waktu adalah uang), sehingga pikirnya semua orang pasti membutuhkannya. Muhajirin terkesiap, umpannya disambut hangat. E terus-terusan membalas pesan yang dikirimkan Muhajirin.

Salah satu pesan berbunyi mengajak menginap di hotel. Muhajirin menjanjikan uang Rp600 ribu, asalkan tubuh E bersedia dijamah olehnya semalaman.

Entah E profesinya adalah pelayan pria hidung belang atau lagi kepepet membutuhkan uang, akhirnya tak keberatan menuruti permintaan itu. Muhajirin mengatur waktu dan tempat pertemuan. Dipilihlah sebuah hotel di Kawasan Tamansari, Jakarta Barat. Saat itu, keduanya sepakat bertemu langsung di hotel.

E tiba lebih awal di hotel dibandingkan Muhajirin. Saat itu, waktu sudah larut malam Muhajirin tak kunjung datang. Padahal, janjinya akan tiba pada pukul 23.00 WIB. E mulai berprasangka buruk kepada Muhajirin.

Lanjutan

Pesan singkat bernada kasar dikirimkan ke Muhajirin sebagai bentuk luapan emosinya. Punya uang enggak, kalau enggak punya uang ya sudah," tulisan di akun michat E.

Muhajirin tak kuasa menahan emosi ketika membaca pesan itu. Ia pun berniat memberikan pelajaran kepada E. Di samping, Muhajirin memang ingin menggasak harta benda milik E.

Muhajirin baru tiba di hotel pada pukul 02.00 WIB. E membuka pintu dengan wajah yang sedikit cemberut. Muhajirin langsung menyerahkan uang Rp600 ribu sesuai janjinya itu.

Keduanya lantas berhubungan badan. Usai melampiaskan hasratnya, Muhajirin terlanjur kesal menganiaya E dengan pisau lipat yang disimpannya di bawah pakaian

Muhajirin menikam 12 kali tubuh E dengan pisau lipat itu. Bahkan, pisau lipat dibiarkan menancap di leher belakang E. Muhajirin lalu dengan leluasa menguras harta benda yang dibawa E saat itu seperti uang, ponsel dan cincin.

E ditemukan petugas hotel pada Minggu (3/5). Kondisi berlumuran darah dam dalam keadaan telanjang. Beruntung nyawa E masih tertolong.

Kisah pertemuan Muhajirin dengan E diceritakan Kapolsek Tamansari Jakarta Barat, AKBP Abdul Ghafur saat Konferensi Pers, Jumat (8/5).

Abdul menerangkan, Muhajirin ditangkap di tempat persembunyiannya Kawasan Duri Pulo, Gambir, Jakarta Pusat pada Rabu (6/5) malam. Selain itu, turut diamankan pula IR (39) seorang penadah barang curian milik E.

Saat ini, polisi masih memburu D, rekan Muhajirin yang ikut membantu melancarkan aksi penganiayaan itu.

"D itu perannya juga yang mengantar pelaku ke hotel kemudian setelah itu menjemput kembali serta membawa pelaku ke rumah sakit untuk mengobati luka hasil gigitan korban," ucap dia.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP