Atraksi topeng monyet mungkin sudah mulai menghilang dari kampung-kampung di Jakarta. Sebab kini, hewan mamalia itu justru banyak ditemukan di perempatan lampu lalu lintas.Pawang sengaja memakai jasa topeng monyet untuk menarik perhatian pengemudi motor yang sedang berhenti. Harapannya tak lain kalau bukan uang.Yang membuat prihatin, dari fisik dan gerakannya, monyet-monyet itu terlihat tak sehat. Mereka seperti tak diurus sang pawang.Bahkan beberapa pecinta satwa sempat protes dengan keberadaan pawang monyet. Sebab dianggap menyiksa binatang.Cerita soal topeng monyet, Jokowi saat menjadi gubernur DKI juga pernah berbicara keras soal itu. Apa kata Jokowi?
Advertisement
Jokowi saat itu gencar merazia topeng monyet lantaran mengganggu ketertiban umum dan dapat menularkan penyakit. Bahkan dia menargetkan pada 2014, Jakarta bisa bebas dari topeng monyet."Itu bisa menjadi ya demi ketertiban mengganggu di perempatan ya menyebar penyakit rabies makanya mau bina. Kita tertibkan. Minggu ini mulai kita bereskan. Ya masukkan binatangnya ke Ragunan," ujar Jokowi saat itu.Jokowi mau monyet-monyet tersebut menjadi tanggung jawab dari Dinas Peternakan, Pertanian dan Kelautan DKI Jakarta. Sebagai kompensasi, Jokowi akan memberikan dana sebesar Rp 1 juta untuk para pawang yang monyetnya dirazia. Uang itu, katanya, bukan sebagai pengganti monyet tersebut, tetapi untuk pengganti usaha lainnya selain topeng monyet."Kita itu tidak beli monyet. Kita ini memberikan kompensasi itu usaha bukan untuk beli monyet," jelas Jokowi.Langkah Jokowi saat itu sempat dikritik. Sebagai gubernur, Jokowi diminta tak cuma mengurusi topeng monyet."Meski ada yang katakan Jokowi gubernur monyet, tidak apa-apa. Itu merupakan Konsekuensi dari kebijakan dan keputusan," tegas mantan wali kota Solo itu.Menurut Jokowi, binatang monyet sering membawa penyakit. Bahkan, penyebaran penyakit oleh monyet lebih terasa ketimbang binatang lain. Hal itulah yang membuat Jokowi ingin menertibkan para tukang monyet."Ada yang kena hepatitis, seperempat kena TBC, 100 persen kena cacingan itu menular. Dan kita cek ke kampung monyet, anak-anaknya ada yang kena hepatitis dan TBC. Saya kira nilai yang perlu kita gerakkan. Perlu kita lakukan," kata dia.Bila dulu Jokowi dibuat repot karena topeng monyet. Kini Gubernur Basuki, sibuk mengurusi peredaran daging anjing di Jakarta. Apa yang dilakukan Ahok?
Advertisement
Ahok, sapaannya, ingin daging anjing yang akan disajikan di sejumlah tempat kuliner diperiksa dulu apakah cukup sehat atau tidak.Kebijakan itu, kata dia, untuk mencegah wabah penyakit rabies yang sebenarnya sudah terbebas dari Jakarta."Kita sedang siapkan aturannya supaya bisa tanya, kamu beli anjingnya di mana? Nyolong punya orang enggak?" ujar Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (29/9)."Kita bisa kenakan sanksi, dan kita akan kerja sama dengan polda nanti," katanya menambahkan.Ahok mengatakan, nantinya para penjual daging anjing, terutama di lapo-lapo dan tempat makan yang menyediakan menu tersebut, akan diperiksa oleh pihak Pemprov DKI Jakarta. Dirinya berharap, masyarakat pun mawas diri karena daging anjing tidak diawasi melalui pemeriksaan, oleh badan atau lembaga yang berwenang."Silakan masuk (daging anjing), tapi harus diperiksa, kayak daging sapi. Saya sih berharap orang mulai takut makan daging anjing, karena daging anjing enggak diperiksa," ujar Ahok.Niatan Ahok sempat disalahartikan komunitas penyayang binatang. Ucapan Ahok dinilai melegalkan daging anjing dikonsumsi."Saya tentu kecewa apabila Pak Ahok legalkan hal itu. Saya selaku para pencinta anjing dan atau mewakili seluruh pencinta hewan menunggu klarifikasi perihal alasan Pak Ahok melegalkan hal tersebut," kata Reinard saat ditemui di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (30/9).Menurutnya, berdasarkan pengetahuan umum, untuk jenis hewan yang ada di muka bumi ini, dijelaskannya terbagi atas 3 kategori, yaitu pertama life stock (hewan ternak), kedua pets (hewan peliharaan), dan yang ketiga wild life (hewan buas). Karena itulah, tambahnya Ahok seharusnya bisa memilah dan membedakan mana hewan kategori yang dapat dikonsumsi dan mana hewan yang khusus untuk dipelihara."Unggas pun harus dibedakan, contoh ayam dengan rajawali. Ayam termasuk kategori 'life stock' dan rajawali adalah 'wild life' yang artinya tidak dapat dikonsumsi atau diternak," tandasnya.Tapi buat sebagian pemilik tempat makan, ide itu malah disambut baik. Apalagi, mereka sendiri tak tahu asal muasal daging anjing segar yang mereka peroleh."Silakan saja kalau maunya seperti itu. Kami tidak keberatan. Kita gak tahu anjingnya dari mana. Kita kan beli dalam bentuk daging sesuai pesanan," kata salah pemilik tempat makan di Cililitan.