Ajak Masyarakat Kembali ke Alam, Intip Keunikan Sekolah Paguyuban Sunda Hejo di Garut

Sekolah yang terletak di Garut Lembang, Kecamatan Leles, tersebut merupakan wadah untuk mengenal kondisi lingkungan sekitar melalui konsep sekolah alam terbuka di area pegunungan Kabupaten Garut.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Ajak Masyarakat Kembali ke Alam, Intip Keunikan Sekolah Paguyuban Sunda Hejo di Garut
Sekolah Paguyuban Sunda Hejo. ©2021 liputan6/editorial Merdeka.com

Sinergisitas antara manusia dengan alam merupakan hal terpenting untuk mencegah kerusakan lingkungan. Saat ini kegiatan tersebut mulai dijalankan oleh beberapa komunitas, salah satunya Sekolah Paguyuban Sunda Hejo di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sekolah yang terletak di Garut, Lembang, Kecamatan Leles, tersebut merupakan wadah untuk mengenal kondisi lingkungan sekitar melalui konsep sekolah alam terbuka di area pegunungan Kabupaten Garut.

Bahkan di tengah pandemi Covid-19, antusiasme masyarakat dan kalangan remaja untuk mendapatkan materi pendidikan lingkungan yang diajarkan di Sekolah Paguyuban Sunda Hejo masih terus berjalan. Simak ulasan lengkapnya berikut ini yang telah merdeka.com rangkum dari Liputan6.

Tawarkan Materi Reforestasi Hutan

Salah satu misi yang dibawa oleh Sekolah Paguyuban Sunda Hejo adalah reforestasi untuk kepentingan pemulihan alam sekitar. Hal tersebut turut diutarakan oleh Hamzah Fauzi Nur Amin, selaku Ketua Paguyuban Koperasi Kopi Sunda Hejo Garut.

Menurutnya, sampai pertengahan tahun ini, paguyuban Sunda Hejo tengah menjalankan misi sekolah alam yang memulihkan fungsi hutan. Hal ini berguna untuk mencetak regenerasi petani di kalangan remaja.

"Intinya bagaimana mereka memiliki tekad yang kuat memajukan daerahnya. Namun tetap melestarikan alam sekitar melalui regenerasi petani di masing-masing wilayah," ujar Ketua Paguyuban Koperasi Kopi Sunda Hejo Garut Hamzah Fauzi Nur Amin beberapa waktu lalu.

Penguatan Melalui Materi Pembanding

©2021 liputan6/editorial Merdeka.com

Pria yang akrab disapa Robet tersebut mengungakapkan bahwa kegiatan tak hanya sebatas reforestasi hutan. Sekitar 46 peserta perwakilan dari 14 kecamatan yang terlibat dalam pelatihan tersebut juga mendapatkan materi dengan ragam pengetahuan seperti budi daya tanaman, peternakan, pemahaman IT, bahasa asing, adat budaya hingga kesenian daerah.

Konsep praktiknya sendiri terdiri dari 70 % praktik di alam dan selebihnya belajar di dalam ruangan dengan pendampingan masing masing dari mentor.

"Ada dosen dari akademisi kampus, pengusaha, hingga volunter yang sengaja kita undang untuk memberikan motivasi bagi mereka selama enam bulan ke depan,” terangnya.

Penting untuk Regenerasi Petani

Menurutnya, konsep sekolah alam amat penting bagi regenerasi petani untuk menjaga dan melestarikan alam sekitarnya. Dengan modal tenda dan peralatan yang telah disediakan, mereka akan diajarkan agar terbiasa di alam terbuka, membentuk karakter, termasuk membaur langsung dengan para petani maupun pecinta alam.

"Nanti di akhir semester mereka akan mendapatkan nilai sesuai dengan kurikulum yang telah kami siapkan," kata dia.

Kegiatan tersebut diharapkan bisa memahamkan pentingnya menjaga alam melalui tambahan pengetahuan baru mengenai pengelolaan hutan yang tepat guna seperti budi daya kopi, alpukat, pisang, jeruk, jahe, termasuk aspek peternakan seperti domba, kambing.

Kemudian peserta juga bisa mempelajari aspek ekonomi dari pendidikan tersebut, tanpa mengeksploitasi lingkungan di sekitarnya sembari menciptakan ekosistem hutan sebagai taraf kesejahteraan yang lebih baik.

"Kalau budi daya sapi mungkin belum kami berikan sebab akses budi daya sapi di hutan belum terbiasa, makanya kami berikan ilmu sambil merawat ekosistem hutan," ujar dia.

Rekomendasi