Pemerintah Venezuela mengatakan migrasi massal di antara negara OPEC adalah hal wajar tanpa perlu dibesar-besarkan.
"Ada niat untuk mengubah aliran migrasi yang normal menjadi krisis kemanusiaan untuk membenarkan intervensi asing di Venezuela," kata Wakil Presiden Delcy Rodriguez, dikutip dari Reuters, Selasa (4/9).
"Kami tidak akan mengizinkannya," ujarnya.
Dia justru mengkritik pihak-pihak asing yang menggunakan angka emigrasi Venezuela dari negara lain, bukan dari angka yang dikeluarkan Pemerintah Venezuela.
Bulan lalu lembaga PBB yang mengurusi migrasi mengatakan eksodus warga dari Venezuela mendekati "saat krisis" yang sebanding dengan situasi pengungsi di Mediterania.
Hal serupa juga disampaikan organisasi migrasi dan pengungsi AS, jumlah pengungsi Venezuela per Agustus mencapai 2,3 juta orang dan lebih dari 1,6 juta orang telah meninggalkan negara itu sejak 2015
Presiden Nicolas Maduro dalam siaran televisi mengatakan, justru sanksi yang diberikan AS telah menyebabkan beberapa orang Venezuela pergi dari negara itu dan mencoba peruntungan mereka di negara lain.
Namun ia mengklaim, banyak dari mereka yang menyesal telah meninggalkan negara itu, kata dia, jumlahnya mencapai lebih dari 90 persen.
"Kelompok ini tak lebih dari 600.000 orang Venezuela yang telah meninggalkan negara dalam dua tahun terakhir" katanya tanpa memberikan rincian lebih.
Sejumlah foto yang tersebar di media massa menunjukkan warga Venezuela meninggalkan negaranya dengan berjalan kaki melewati perbatasan. Menghindari krisis hiperinflasi dan kekurangan pangan.
Negara-negara seperti Ekuador, Peru, dan Chili berusaha mempersiapkan arus pendatang yang terus bertambah.
Sejumlah pejabat Venezuela mengatakan gambar-gambar itu tak ubahnya seperti adegan yang dipentaskan oleh media dan musuh politik untuk menodai pemerintahan Maduro.
Pemerintah mengumumkan bulan lalu bahwa mereka telah memulangkan 89 orang Venezuela dari Peru setelah mereka mengeluh dipermalukan.