Salah satu ritual awak jurnalis merdeka.com selepas maghrib adalah ngeriung (berkumpul) di pinggir kolam ikan di markas redaksi kami di Tebet Barat IV nomor 3, Jakarta Selatan. Setiap sore selalu ada tema atau bahan obrolan untuk sekadar melepas lelah setelah bekerja seharian. Banyak obrolan dibahas dari ringan sampai berat, dari pengalaman liputan, persoalan bangsa yang menyita perhatian sampai soal falsafah hidup. Tentunya dikemas dengan tambahan bumbu guyonan segar.Sore itu kebetulan temanya beasiswa. Euro Management memberikan beasiswa belajar bahasa asing khusus jurnalis. Tidak dipungut biaya alias gratis. Ada lima program bahasa yang ditawarkan. Bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Belanda dan Jepang. Beasiswa ini untuk dua semester atau satu tahun. Waktu belajar atau kuliahnya satu kali dalam sepekan dengan durasi 90 menit. Pemberi beasiswa rupanya paham betul pola dan jam kerja jurnalis. Diberikan waktu pada weekend atau weekdays, serta diberi kebebasan memilih waktu belajar. Dengan gaya khasnya, Kepala Desk Nasional Hery Winarno bertanya pada salah satu uploder foto, Iqbal Nugroho atau yang akrab disapa Sitok. "Lu mau bahasa apa?" tanya Hery. Dengan enteng Sitok menjawab ketertarikannya mencoba belajar bahasa Jepang. Ada tanya dalam kepala, apa alasan Sitok memilih bahasa Jepang. "Biar ngerti kalau nonton film Jepang," kata Sitok.Kepala Desk Uang Harwanto Bimo Pratomo punya keinginan sama dengan Sitok. Tapi alasannya bukan biar paham kalau nonton film Jepang. Dia ikut beasiswa bahasa Jepang karena suatu saat akan menyambangi Negeri Sakura. "Gue mau berjuang supaya enggak ada lagi yang diklaim sama Jepang. Tempe kita sudah diklaim Jepang," kata Bimo bersemangat. Hhhmmm..niat mulia. Yulistyo Pratomo, yang diduga memiliki hubungan kerabat dengan Bimo, memilih belajar Bahasa Belanda. Dia punya mimpi besar. "Siapa tahu bisa kuliah di Belanda," tuturnya.
Peluang ini tak boleh disia-siakan. Apalagi tak dipungut biaya sepeser pun. Hery yang diketahui berniat menjadi calon ketua RT Perumahan Pura Bojonggede, mengajak semua jurnalis merdeka.com ikut belajar bahasa asing. "Supaya pintar," singkatnya. Ajakan itu disampaikan Hery melalui email ke mailing list (milis) internal redaksi. Di luar dugaan, hampir semua jurnalis merdeka.com mendaftarkan diri. Koordinatornya tentu bapak dua anak itu. Setelah melakukan proses pendataan dan verifikasi, ada 26 jurnalis merdeka.com yang masuk daftar peserta tetap atau DPT.Akhir pekan, sebagian peserta sepakat bertemu di kantor Euro Management di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Mereka berbondong-bondong datang, tapi bukan untuk tawuran, melainkan mendaftarkan diri ikut kuliah gratis bahasa asing. Hery, Nuryandi, Yulistyo dan Sitok memilih bahasa Belanda, Faiq, Rachma dan Aryo ikut program bahasa Prancis. Bimo konsisten mengambil jalur bahasa Jepang. Titin, Novita, Haris, Marsel, Yunita, Ibnu, Saugy, Desi, Hanna, Anisyah, berbondong masuk kelas bahasa Inggris, sedangkan Didi Syafirdi memilih jalur beda, bahasa Jerman."Gue enggak mau sekelas sama Sitok, nanti bercanda mulu, diusir gurunya keluar kelas," celetuk Faiq. Meski berbeda pilihan, semua masih berteman dan tidak bermusuhan.Pembaca setia merdeka.com, beginilah cara jurnalis kami meningkatkan kualitas diri. Jurnalis memang tak boleh berhenti belajar. Dan kami akan terus belajar demi hari esok yang lebih baik.Selamat belajar,
Have a good study
Bon apprentissage
gelukkig leren
Glückliches Lernen.