Musibah yang menimpa maskapai AirAsia pasca hilang kontak sampai dengan hari kedua dan belum diketahui lokasinya, menyedot perhatian publik. Sejak Minggu pagi, tim redaksi pun sibuk.
Hari Minggu, biasanya kita tidak tampil dengan kekuatan penuh. Maklum, wartawan juga manusia, sehingga perlu libur juga. Tapi, setiap ada peristiwa adalah panggilan tugas. Naluri wartawan pun naik. Ketika peristiwa itu diangkat dalam grup milis, maka baik yang sedang piket maupun yang tidak, saling bersahutan. Mereka pun siap menerima panggilan tugas.
Pada hari itu, koordinator liputan pun sibuk mengatur tim. Pesawat AirAsia A-320 dengan kode penerbangan QZ8501 dari Surabaya ke Singapura yang hilang kontak sekitar pukul 7.24 wib, dikabarkan jatuh di perairan sekitar Bangka Belitung. Paling tidak seperti terpantau dari flightradar dan laporan resmi, menjadikan alasan kami untuk mengirim wartawan ke Bangka-Belitung.
Melihat jumlah penumpang yang begitu besar, sekitar 162 orang (7 diantaranya kru), kejadian hilang kontak ini mengingatkan pada kasus hilangnya Adam Air pada tahun 2007 lalu. Siapapun mereka, tak peduli suku bangsanya, agamanya, ini adalah peristiwa kemanusiaan. Kita patut berdoa buat mereka, berharap mukjizat akan keselamatan mereka.
Besarnya magnitude kemanusiaan dan dunia penerbangan, dimana AirAsia adalah meteor LCC (low cost carrier) kelas dunia, maka jadi alasan kuat untuk melakukan pemberitaan all out. Reporter di Surabaya. M Andriansah Syafie, sebagai tempat asal keberangkatan pesawat dari Juanda, langsung mendapat tugas khusus. Hari-hari ini, Andrian pun bagai berumah di Juanda karena kesibukan informasi dan para nara sumber ada di sana. Juanda jadi crisis center kasus AirAsia ini.
Di Jakarta pusat-pusat pemberitaan jadi perhatian, mulai Basarnas, Perhubungan, Angkasa Pura, dan AirAsia Indonesia. Dan, tak ada yang terlewatkan untuk mengirim reporter kami. Hari itu, puluhan berita pun dilayangkan, sebagai bagian dari pemberitaan dan informasi yang perlu untuk masyarakat bahkan juga keluarga penumpang.
Sedangkan untuk ke Bangka-Belitung, koordinator liputan mengerahkan dua wartawan muda: Imam Buchori alias Ibe (foto) dan Dharmawan M Sutanto. Ibe barangkali sudah sering mendapat tugas khusus. Sedangkan Iwan, panggilan Dharmawan, sebagai reporter yang relatif muda dan baru setahun, begitu mendapat tugas terbang ke Bangka-Belitung langsung semangat dan menyatakan siap!
Kawasan Bangka-Belitung tentu saja daerah kepulauan. Adalah kebetulan bahwa selama sepekan sebelumnya, Iwan – panggilan Dharmawan – jalan-jalan keliling Kepulauan Seribu. Meski tentu saja medannya berbeda. Senin pagi, dari kawasan Manggar di Belitung, Iwan sudah mengabarkan posisinya. Dia segera bergabung dengan beberapa nelayan dan tim pencari lain untuk siap-siap ke lokasi. Meski dalam ketidakpastian, Iwan sudah mengumpulkan berbagai informasi yang bisa disampaikan.
Iwan selama ini dikenal easy going. Hampir selalu kalau sedang bicara dan dikomentari apapun oleh pihak lain, dia dengan santainya membalas. Dan, hampir setiap balasan-balasannya, bisa membuat pihak lain bawaannya tertawan atau minimal senyum-senyum. Tak terkecuali pengagumnya, Laurencius selaku editornya. “Kenapa ya kalau baca jawaban Iwan kok bawaan saya pengin ketawa ya,” tulis Lauren suatu kali.
Sebagai penggemar sepakbola sejati, terutama Inter Milan, Iwan memang sangat bangga dan berharap dengan internisti berjaya kembali. Kalau di bagian lain dia bisa santai menanggapinya, tapi jangan coba-coba untuk membully Inter, bisa-bisa dia akan membela habis-habisan.
Itulah tokoh kita kali ini. Lulusan IISIP jurusan jurnalistik angkatan 2006 ini, jiwanya adalah wartawan. Sejak di SMA Diponegoro sudah suka dengan dunia wartawan. Ia juga aktif dalam Himpunan Mahasiswa Jurnalistik ketika di bangku kuliah. Ini barangkali tugas penting pertamanya. Namun, tidak perlu diragukan lagi pada darah muda ini. Hanya dengan kepercayaan kita bisa mendapatkan hasil yang sesungguhnya.
Selain soal AirAsia, Iwan juga sudah mendapat pesanan untuk melakukan liputan soal timah di Bangka/Belitung. Soal apanya, hanya Iwan dan atasannya yang memberi tugas yang tahu. Tunggu saja catatan-catatan Iwan di hari-hari mendatang.
Pembaca merdeka.com yang kami hormati, apa yang kami lakukan di atas, adalah sebagai tanggungjawab moral kami untuk memberikan info yang terbaik. Kalau perlu dari tangan pertama. Bukan sekadar mengutip pihak lain. Meski dalam beberapa hal tak terhindarkan. Yang pasti, di peristiwa yang menyangkut kemanusiaan ini, tentu redaksi tetap harus hati-hati, tak gegabah dan hanya mengejar sensasi tanpa empati. ***