Rabu sore, 28 Mei 2014, markas merdeka.com di Tebet kedatangan seorang Capres. Bukan yang sedang bertarung sekarang, tapi memang dia orang Gerindra. Dan, dia siap menjadi calon presiden untuk Indonesia, untuk periode 2019 ke depan.
Bukan Prabowo, tapi dia adalah Basuki Tjahaja Purnama atau populer dipanggil Ahok , yang saat ini menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta. Sementara Jokowi cuti sebagai calon presiden yang mesti kampanye kesana-kemari, Ahok kini menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI.
Datang sekitar pukul 16.00 WIB, didampingi ajudan, Ahok disambut hangat awak redaksi merdeka.com yang dipimpin oleh Didik Supriyanto, Steve Christian, Titis Widyatmoko dan seluruh kru. Bahkan team dari grup KLN Network, yakni Kapanlagi yang dimotori Teddy Kurniawan dan redaksi Dream.co.id yang bertetangga dengan kami juga memenuhi ruang rapat redaksi merdeka.com yang berkapasitas 20 orang, kali itu mencatat rekor sekitar 35 orang hadir hingga berdiri, menyaksikan pertunjukan Ahok .
Lelaki asal Belitung Timur yang lulusan Trisakti itu, mengaku paling lengkap diantara politisi lain. Sudah pernah membuat partai yakni PIB (Partai Indonesia Baru), pernah jadi sekjen partai, pernah jadi DPRD, DPR Pusat, membuat LSM, jadi wakil gubernur, bahkan sekarang gubernur meski masih Plt. Bahkan dia juga mendirikan LSM yang berisi kajian-kajian. Di DPR berada di badan legisliasi yang bertanggungjawab pada perundangan.
Jadi, tinggal jadi presiden berarti? “Ya, yang belum pernah coba. Makanya kita mesti coba,” kata Ahok lugas.
“Saya mau jadi presiden untuk kontrol seluruh provinsi di Indonesia. Kunci di presiden. Jadi dari sisi tata negara kita, makin tinggi jabatan Anda, maka Anda makin berkuasa. Kenapa kontrol? Anda kalau jadi gubernur Jawa Timur, Anda tidak bisa kontrol semua bupati, wali kota. Kalau jadi presiden beda lagi. Presiden berkuasa, bisa kontrol seluruh Indonesia,” katanya. Begitulah Ahok , berapi-api.
Sebenarnya tidak banyak yang ditanyakan ke Ahok . Tapi, jawabannya panjang lebar. A sd Z. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rasanya, sayang juga untuk memotong ucapan-ucapannya. Seru. Kalah film action. Serius, tanpa tedeng aling-aling, dan terbuka siap berdebat. Karakter dan nyalinya tegas. Dia tidak takut dengan nyinyir tentang keberadaan dirinya yang keturunan Cina, beragama Kristen, dan label apapun yang bermakna minoritas.
“Saya sudah kenyang difitnah, kampanye hitam,” katanya. Bukan saat pemilu DKI, tapi saat dia menjadi cabup Belitung Timur yang penduduknya mayoritas muslim dan 55% dimenangkan oleh PBB (Partai Bulan Bintang).
“Kamu bisa bayangkan tinggal di lingkungan muslim, tiba-tiba kamu mau jadi bupati. Tiba-tiba tetanggamu muslim yang baik-baik itu menyerang kamu soal suku dan agama. Kamu terbayang nggak? Karena saya merasa saya punya hak atas negara ini. Kalau Anda lebih nasionalis, tunjukkan Anda nggak korupsi,” katanya mantab.
“Memang aku nggak punya jasa atas negara ini? Enak aja. Cuma gara-gara gue lahir keturunan China mereka bisa seenaknya. Gue nggak terima. Kalau ada Kristen masuk neraka, gue juga nggak tahu masuk surga apa masuk neraka. Aku sudah kenyang dikerjain begitu. Kenyang benar. Didatengin, diancam,” jelasnya. Ancaman-anamcan itu memang berat. Tapi, dia merasa sudah lulus. Ibaratnya, kalau ada kampanye hitam itu seperti angkat berbel. Dia merasa sudah pernah angkat barbel 150 kg, maka kalau ada barbel 40 kg, berasa enteng.
Dalam waktu dua jam, Ahok bersilaturahmi ke markas redaksi, rasangan sangat singkat. Janji jam 16.00 WIB, Ahok datang tepat waktu. Menunjukkan kesungguhan, menghargai pengundang, dan disiplin. Dan, Ahok konsisten pada komitmen. Sebagai orang Gerindra, dia menyatakan dalam pilpres akan mendukung Prabowo. Meski dia menghormati Jokowi. Selama jadi Plt Gubernur DKI Jakarta, saat Jokowi banyak sibuk sebagai capres, dia tetap melakukan dialog dengan Jokowi. “Saya sediakan waktu khusus untuk Pak Jokowi. Malam hari kami tilpun-tilpunan.”
Ahok memang cukup fenomenal. Dalam setiap pemberitaan, dia meskipun keras, ternyata banyak yang mendukung. Sebaliknya kalau ada wartawan yang tanya keras ke Ahok , yang bersangkutan tidak masalah dan oke-oke saja. Hanya pendukungnya saja yang marah-marah. Salah satu wartawan merdeka.com, Jule pernah tertangkap kamera bertanya kritis pada Ahok , dan Ahok enjoy saja. Anehnya pendukungnya sampai kirim email ke redaksi, ada yang menelpon kantor, menilai wartawan kita tidak sopan. Ahoknya, santai saja. Bahkan dalam setiap kesempatan dia mengajak diskusi dengan wartawan merdeka.com.
Bahkan, sampai dengan pertemuan dengan Ahok di markas redaksi merdeka.com di Tebet, tak lepas dari peran Jule. Karena pejabat resmi, maka redaksi pun mengirim surat mengundang Ahok . Saugy yang ngepos di Balai Kota pun menyampaikan surat tersebut dan beberapa kali konfirmasi. Sementara Jule dalam beberapa kali kesempatan melakukan lobi-lobi kepastiannya Ahok , sampai akhirnya disepakati pada 28 Mei sore itu.
Hasil dari pertemuan itu, memang menarik, Banyak sekali yang bisa dibuat berita. Para wartawan, terus terang terpukau dengan penjelasannya yang terbuka, rinci, gamblang, on the record. Saking asyiknya, beberapa kali ajudannya mengingatkan waktu habis, Ahok cuek saja melayani pertanyaan wartawan. Dia memang memiliki autentifikasi yang lain.
Karena kelebihan, keberanian, karakter, dan autentifikasi yang dimilikinya, Ahok pun jadi idola. Tak pelak bila begitu pulang, banyak yang berminat foto bareng (Fobar) dengan Ahok . Laris manis, sampai waktu benar-benar habis. Dan, semua berita tentang kunjungan Ahok sudah Anda nikmati sejak hari itu juga dan beberapa hari berikutnya.
Begitulah pembaca worksatation yang smart, kami selalu berusaha mengundang tamu-tamu spesial. Selain untuk menjaga hubungan, juga bisa menggali info-info menarik yang tak muncul di saat-saat sebelumnya. Dan, kali ini tamunya istimewa, Plt Gubernur DKI yang siap nyapres 2019, Ahok .