"Bro tolong berita soal Maladewa dicabut"

Isi pesannya, justru minta agar tidak memberitakan teddy bear lucu di Maladewa. “Bro tolong berita Maladewa dicabut"

Rita
Oleh Rita - Reporter
"Bro tolong berita soal Maladewa dicabut"
Lucunya Cerita Teddy Bear dan Capres. ©shutterstock.com/Samuel Borges

Suatu saat, seseorang yang kenal baik dengan Pemimpin Redaksi Didik Supriyanto mempertanyakan, “kok beritanya banyak soal Prabowo ya”. Di saat yang tak lama kemudian, ganti dituding tendensi menyerang Jokowi. Tapi ada juga yang berpendapat, kebanyakan mendukungnya. 

Yang paling seru, ketika kita memuat berita soal Aburizal Bakrie yang mengagumi Maladewa dan bercita-cita membuat pulau di Indonesia seindah Maladewa, malah banyak mendapat ucapan lewat SMS dan WhatsApp baik dari orang yang dikenal maupun yang baru kenal. Isi pesannya, justru minta agar merdeka.com tidak memberitakan soal “teddy bear” yang lucu di Maladewa itu. “Bro tolong berita soal Maladewa dicabut,” katanya.

Dengan tenang, tentu saja redaksi kami mohon maaf untuk tidak bisa mencabut berita yang sudah disampaikan. Bukan apa-apa, karena dalam menjalankan kegiatan jurnalistik, kami tak bisa lepas dari Kode Etik Jurnalistik yang sudah disepakati para pemangku kepentingan di dunia media. Selain itu, kami juga menghormati Pedoman Penulisan Media Saiber yang sudah ditetapkan oleh Dewan Pers.

Bagi siapapun yang merasa dirugikan atas pemberitaan media, bisa menggunakan pasal 11 Kode Etik Jurnalistik yang mengatur tentang hak jawab. Artinya, kami wajib memberikan ruang kepada pihak yang merasa dirugikan. Jadi bukan dengan cara mencabut berita. 

Hanya bila itu berhubungan dengan SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers, kami bisa mencabutnya. Sesuai dengan pasal 5 Pedoman Penulisan Media Saiber.

Nah, apakah berita tentang perjalanan indah ARB yang memeluk boneka teddy bear yang kebetulan bersama artis kakak beradik itu berkaitan dengan pasal tersebut, tentu saja tidak. Sehingga, tidak ada alasan kuat untuk mencabutnya. Meski demikian, siapapun bisa mengadukan media — tak terkecuali media saiber — bila merasa dirugikan. Bahkan di merdeka.com, bila Anda merasa dirugikan dengan alasan yang jelas tinggal masuk ke link yang disediakan yakni http://www.dewanpers.or.id/page/pengaduan/formulir/ .

Pembaca yang smart, di tahun politik ini memang banyak pihak berambisi untuk sukses, entah partainya, dirinya sendiri yang berkepentingan, dan juga capresnya. Media, sebagai bagian dari pilar demokrasi, tentu saja tak lepas dari bagian itu. Dan, ketika banyak media sudah menjadi bagian dari partai atau capres tertentu, baik melalui pemegang saham, pemilik, atau bahkan petinggi manajemennya, maka dianggapnya seluruh media demikian. 

Di sini, kami tegaskan, bahwa yang dilakukan oleh redaksi kami adalah, menangkap apapun yang ada di publik dengan tanpa tujuan apapun, kecuali bagian dari menyebarkan informasi dan kontrol. Bila informasi itu kami anggap menarik dan penting, maka akan kami beritakan. Bahwa banyak pihak mencurigai macam-macam, kita tak hirau. Independen dan integritas, sudah menjadi pilihan kami. Maka, kami juga mengharap pihak lain menghargai pilihan kami. 

Pilihan untuk itu, ternyata tidak mudah. Tetap saja ada godaan dan tudingan, bahkan cibiran. Itu tak menggoyahkan pilihan kami, termasuk wartawan-wartawan muda kami yang banyak berkecimpung di lapangan untuk liputan mengenai peristiwa dan politik. Jurnalis-jurnalis muda seperti Angga, Iwan Bjah, Sukma, dan Agil, punya pengalaman sendiri di lapangan.

Karena baru dan muda, mereka suka membagikan pengalaman liputannya. “Wah, ternyata enak ya liputan bagi wartawan merdeka itu,” kata Angga suatu kali. Kenapa? “Ya semua berita bisa ditulis,” tambahnya. Ternyata, dia kemudian membandingkan dengan rekannya dari media-media tertentu yang karena pemiliknya berafiliasi dengan parpol dan capres-cawapres tertentu, tidak semua berita bisa disampaikan. Sebaliknya, beberapa yang dinilai kurang bernilai berita, ditulis sebanyak-banyaknya. Pertimbangannya bukan menarik atau penting, tapi sesuai dengan partai pemiliknya atau tidak.

Bagi kami, apa yang disampaikan Angga dan tim reporter kami di lapangan, bukan sekadar boleh tidak menulis. Tapi, secara psikologis, mereka benar-benar merasakan kebebasan menangkap isu-isu yang menarik untuk diberitakan. Mereka menikmati kemerdekaan berpikir dan bertindak.

Baginya, kalau berita yang didapat itu menghasilkan page views (dibaca banyak orang), adalah sebuah kebanggaan, karena mereka bisa menyajikan sesuatu yang menarik dan penting buat pembaca. Maka, kami pun berharap, agar semua pihak bisa merawat bersama-sama kemerdekaan berpikir dan integritas tim redaksi kami. Karena kami sadar, bahwa pembaca kami bukan orang sembarangan, Anda pembaca kritis dan smart.

Halaman
Rekomendasi