Upah Buruh di Jawa Barat Mahal, Industri Tekstil Pindah Pabrik ke Jateng dan Jatim

Rabu, 11 Desember 2019 14:29 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Upah Buruh di Jawa Barat Mahal, Industri Tekstil Pindah Pabrik ke Jateng dan Jatim Pengusaha Tekstil di BKPM. ©2019 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Salah satu permasalahan yang tengah dihadapi industri Tanah Air adalah upah buruh yang kian mahal dari tahun ke tahun. Untuk mengatasi hal itu, banyak pabrik tekstil yang akan direlokasi dari Jawa Barat ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menyebutkan, hal ini masih perlu pembahasan lebih lanjut dengan pemerintah daerah (pemda) setempat.

"Salah satu di antaranya tenaga kerja di sana, tenaga kerjanya sudah agak mahal makanya mereka lakukan relokasi ke Jateng dan Jatim. Tapi kami lagi cari formulasi minggu depan akan bicara teknis dengan Pemda," kata dia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (11/12).

Seperti diketahui UMK tahun 2020 di Jawa Barat yang merupakan daerah industri yaitu Kabupaten Karawang (Rp4.594.324), Kota Bekasi (Rp4.589.708), Kabupaten Bekasi (Rp4.498.961), Kabupaten Purwakarta (Rp4.039.067) dan Kabupaten Bandung Barat (Rp3.145.427).

Sementara itu, UMK di Jawa Timur tergolong lebih rendah mulai dari Rp1,9 juta hingga Rp4 juta.

Sementara di Jawa tengah, UMK nya jauh lebih rendah lagi. Tertinggi adalah Kota Semarang dengan besaran Rp2.715.00.

1 dari 1 halaman

Belum Masuk Tahap Teknis

Bahlil mengungkapkan, rencana relokasi ini belum masuk tahap teknis. Dan sedang menyusun regulasi yang tepat.

"Tadi ketua dari jabar belum sampai pada tingkatan teknis berapa relokasinya, tapi kita lagi mencari alternatif dengan regulasi yang memudahkan mereka agar mereka tidak perlu ada regulasi," ujarnya.

Ditemui di tempat yang sama, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Ravi Shankar menyebutkan faktor lingkungan turut menjadi pendorong relokasi tersebut.

"Itu masalahnya terutama lingkungan, Citarum, kain tekstil kan ada celupan ada banyak dia pakai air, itu jadi di Bandung sudah mulai susah ekspansi," ujarnya.

Selain itu, dia menjelaskan relokasi tersebut juga merupakan bagian dari program skema cluster atau industrial tekstil park dalam satu tempat. Sehingga nantinya biaya produksi dapat diatur menjadi lebih efisien.

"Kalau dalam satu cluster jauh lebih gampang untuk atur cost daya saing, lingkungan semuanya bisa diatur, itu yang kita usul dan perlu kita lanjutkan. Kalau kita usul tekstil park itu dan siapkan juga bagaimana di daerah itu, Bandung bisa relokasi," ujarnya. [idr]

Baca juga:
Bertemu Bos BKPM, Pengusaha Mengeluh Kondisi Industri Tekstil Makin Mengkhawatirkan
Pemerintah Cari Cara Industri Tekstil RI Tak Dibanjiri Produk China
Tak Hanya Serbuan Impor, Ini Penyebab Perusahaan Tekstil RI Gulung Tikar
Pakaian Bekas Impor Masih Banyak Peminat di Ibu Kota
Jokowi Panggil Pengusaha Bahas Upaya Naikkan Nilai dan Kuantitas Ekspor Tekstil
Aturan Baru, Sri Mulyani Kenakan Tarif Impor Tekstil Hingga 67 Persen

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini