Terungkap, PNS Pertama di Indonesia Ternyata Seorang Raja Jawa

Sabtu, 30 November 2019 11:30 Reporter : Merdeka
Terungkap, PNS Pertama di Indonesia Ternyata Seorang Raja Jawa sultan Hamengkubuwono IX. blogspot.com

Merdeka.com - Posisi Pegawai Negeri Sipil atau PNS saat ini adalah salah satu profesi yang banyak dicari para pencari kerja. Baik yang berstatus sarjana baru maupun yang sudah berpengalaman.

Namun tahukah kalian, bahwa PNS pertama di Indonesia merupakan seorang raja? Ya, dia adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang bertakhta di Keraton Yogyakarta selama periode 1940-1988.

Kabar tersebut dibenarkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), dengan melihat status status Hamengkubuwono IX berdasarkan Nomor Induk Pegawai (NIP) yang dimilikinya.

"Ternyata memang betul (Hamengkubuwono IX PNS), karena NIP-nya tuh belakangnya 010000001," jelas Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik (Hukip) Kementerian PANRB Andi Rahadian saat sesi Media Gathering Kementerian PANRB di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, dikutip Sabtu (30/11).

Adapun pemberitaan mengenai abdi negara pertama ini telah santer beredar sejak beberapa waktu lalu. Status PNS Hamengkubuwono IX tertuang dalam Kartu Pegawai Negeri Sipil Republik Indonesia yang diterbitkan Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) di Jakarta pada 1 November 1974 yang ditandatangani oleh Kepala BAKN pada saat itu, A E Manihuruk.

Andi selaku perwakilan Kementerian PANRB pun oleh karenanya meminta maaf lantaran baru dapat mengonfirmasi status PNS Hamengkubuwono IX. "Mohon maaf, karena kami pada saat menjawab perlu waktu juga, karena kami perlu memberikan informasi yang tepat," ujar Andi.

1 dari 2 halaman

Cerita Mobil Sultan HB X Menepi, Persilakan Lewat Rombongan Presiden Jokowi

Sultan Hamengkubuwono X jadi bahan obrolan di media sosial lantaran sikapnya yang dianggap memberi keteladanan. Saat di jalan raya, Sultan menolak kawalan voorijder, dan memilih berhenti, mempersilakan rombongan Presiden Jokowi yang kebetulan sedang berada di Yogyakarta untuk lewat.

Kisah Sultan HB X ini diungkapkan oleh pemilik akun Facebook, Hartady Nugroho, Rabu (10/12) kemarin.

"Hari ini di Jalan Kusumanegaran, Sri Sultan yang sedang berada dalam perjalanan di dalam dengan mobil dinasnya, Plat Merah AB 1. Kendaraan beliau disuruh minggir pengendara moge pembuka jalan bagi rombongan presiden Jokowi," tulis Hartady.

"Saat menyadari bahwa mobil yang disuruh menepi itu adalah raja Jogja, Sang pengawal presiden itu meminta beliau untuk ikut rombongan presiden saja agar lebih cepat sampai tujuan. Tapi ternyata ditolak sob."

Sri Sultan dan Sopirnya, lanjut Hartady, memilih untuk menunggu berhenti di tepi jalan, menyilakan rombongan presiden lewat. Dan setelah usai, Sultan kemudian melanjutkan perjalanan seperti pengguna jalan lainnya.

Dia menambahkan, mobil dinas AB 1 itu pun berjalan lagi seperti layaknya pengguna jalan lainnya, tidak meminta untuk diutamakan.

"Salut dengan pejabat macam beliau. Tidak perlu pencitraan atau mengundang wartawan untuk meliput, biarlah rakyat sendiri yang menilai. Semoga panjang umur Sri Sultan. Jogja Istimewa selalu," tutupnya.

2 dari 2 halaman

Kisah Lucu Sultan Yogya Dimarahi dan Ditodong TNI Penjaga Istana

Sri Sultan Hamengkubuwono X memilih mengalah saat rombongan Presiden Jokowi melintas. Dia ikut menepi saat voorijder pengawal Jokowi memerintahkan rakyat memberikan jalan untuk rombongan pejabat.

Aksi Sultan X ini mengingatkan apa yang dilakukan oleh ayahnya, Sultan Hamengkubuwono IX. Sang Raja Jawa ini memang dikenal egaliter. Tak mau disanjung berlebihan, tapi justru karena itu Sultan Yogya sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan seluruh penduduk Indonesia.

Ada kisah menarik soal Sultan HB IX. Lagi-lagi gara-gara Sultan tak mau pakai pengawal dan pakai mobil biasa saat blusukan.

Pada Bulan Oktober 1950, Sultan HB IX menjabat wakil perdana menteri di Kabinet Natsir. Bersama A Halim yang menjabat Menteri Pertahanan ad interim, mereka menuju Istana Bogor untuk meninjau proses renovasi.

Kisah ini dituliskan AR Baswedan dalam buku Tahta Untuk Rakyat yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2011.

Halim menyopir sendiri mobil itu, bergantian dengan Sultan. Tak ada pengawal atau ajudan yang menyertai mereka.

Saat tiba di Istana Bogor, penjaga di pos depan istana tak memperhatikan mobil yang masuk. Sultan dan Halim pun segera masuk Istana tanpa melapor.

Tiba-tiba beberapa orang penjaga dari Polisi Militer segera sadar. Mereka bergegas mengejar mobil itu. Mobil Sultan dihentikan dengan todongan senjata.

"Hei, apa-apaan ini! Stop segera!" teriak para penjaga Istana.

Komandan Polisi Militer itu menghampiri Halim. Dia membentak menteri pertahanan itu dengan mata melotot.

"Kenapa masuk saja tanpa berhenti lebih dulu? Apa tidak lihat penjagaan?" bentaknya.

Halim mengeles. "Saya hanya sopir, dan karena tidak ada orang yang menyuruh berhenti saya terus saja. Lagipula Tuan yang berada di sebelah saya ini tidak menyuruh saya berhenti," kata Halim sambil melirik Sultan.

Sultan diam saja. Para prajurit itu semua mengerubungi mobil tersebut, mencoba mengenali siapa orang di samping sopir tersebut. Tiba-tiba mereka tersadar.

"Apakah Bapak bukan Sri Sultan?" tanya pemimpin mereka.

Sultan mengangguk. Para tentara itu langsung terperanjat. Siapa yang tidak gentar mengingat Sultan HB IX dan perjuangannya mempertahankan Yogyakarta selama agresi militer Belanda.

"Siaaap! Beri Hormaaat!" teriak sang komandan sigap. Perintah ini lalu spontan diikuti seluruh anak buahnya.

Sultan tak marah dengan penodongan dan bentakan para penjaga itu. Dia segera melakukan peninjauan. Bahkan sempat makan duku di pinggir kali Ciliwung yang membelah Istana.

"Ketika dua jam kemudian kami meninggalkan istana untuk pulang, di pintu gerbang telah siap satu kompi untuk memberi hormat pada mobil kami," kenang Halim.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com

[bim]

Baca juga:
HUT ke-48 Korpri, Anies Minta ASN Terus Berinovasi Mengikuti Perkembangan Zaman
Presiden Jokowi Perintahkan Layanan Eselon III & IV Diganti dengan Kecerdasan Buatan
Tolak Peralihan Jadi ASN, Tiga Pegawai KPK Ajukan Pengunduran Diri
Soal Pakaian ASN, Mendagri Tito Ingatkan Ikuti Aturan
Presiden PKS Ingatkan Jokowi: Kita Mau Maju, Jangan 'Setback' ke Belakang
Pembahasan APBD Molor, PNS DKI Dilarang Cuti
Update Terbaru, 10 Lowongan CPNS yang Belum Ada Peminat Sama Sekali

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini