Tekan Impor Minyak, PLN Ubah Bahan Bakar 52 PLTD Menjadi Gas Bumi dalam 2 Tahun

Kamis, 23 Januari 2020 20:46 Reporter : Merdeka
Tekan Impor Minyak, PLN Ubah Bahan Bakar 52 PLTD Menjadi Gas Bumi dalam 2 Tahun Wakil Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasodjo. ©2020 Merdeka.com/Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan mengurangi pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) untuk mengurangi impor minyak. Harapannya dapat memperbaiki defisit neraca perdagangan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Wakil Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan salah satu potensi pengurang konsumsi BBM adalah sektor kelistrikan. Saat ini, PLN masih mengonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebanyak 2,6 juta Kilo Liter (KL) sebagai bahan bakar PLTD.

Perusahaan tersebut pun berkomitmen mengurangi konsumsi BBM guna menekan impor minyak, dengan mengubah konsumsi BBM 52 PLTD menjadi Bahan Bakar Gas (BBG). "Kita mengubah BBM yang diimpor ini. Untuk itu Kementerian ESDM mengeluarkan strategi cukup cerdas, mengubah 52 PLTD dengan gas," tuturnya di Jakarta, Kamis (23/1).

‎Darmawan menuturkan, harga gas jauh lebih murah. Di mana, 1 Million British Thermal Unit (MMbtu) minyak senilai dengan USD19. Sementara, dengan volume yang sama, 1 MMbtu gas senilai USD 6 sampai USD7.

Saat ini PLN sedang memperhitungkan penggantian bahan bakar PLTD dari BBM ke BBG.
"Ini sedang kita hitung Pak Dirut memberi tugas bagaimana dikolaborasikan, dilaksanakan sesuai target dua tahun," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Genjot Pertumbuhan Ekonomi

ekonomi rev2

Menurut Darmawan, negara mengeluarkan Rp300 triliun setiap tahunnya untuk mengimpor minyak. Setelah diterapkan program campuran 30 persen biodiesel dengan solar (B30) maka impor minyak dapat dihemat sebesar Rp50 triliun.

"Produksi minyak cenderung menurun. Akibatnya, impor produk Rp300 triliun dengan B30 turun jadi Rp250 triliun," kata Darmawan.

Menurut Darmawan, jika impor minyak bisa lebih dikurangi, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebab, uang yang dialokasikan untuk membeli minyak impor menjadi lebih sedikit.

"Kalau masalah ini selesai pertumbuhan ekonomi kita bukan lagi 5 persen tetapi 7 persen. Foreign base energy jadi national base energy," tuturnya.

Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
PLN Gandeng CEIA Dorong Inovasi Pengembangan Energi Baru Terbarukan
PLN Siap Jika Diminta Naikkan Tarif Listrik Tahun ini
PLN: Mobil Listrik Lebih Irit Dibanding Bensin, Cuma Butuh Rp3.000 per 10 Km
PLN Masih Matikan 26 Gardu Listrik Terdampak Banjir
Cerita PLN Terangi Wilayah Indonesia Hingga Majukan Pariwisata
PLN: Kelistrikan Ibu Kota Baru Menjadi yang Terbaik di Dunia
PLN: Gardu Induk Gambir Baru Kebakaran, Listrik di Sejumlah Wilayah DKI Padam

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini