Tahukah Anda? Limbah Tongkol Jagung Jadi Briket Ramah Lingkungan, DEB Unhas Dorong Kemandirian Energi Bontomanai
Tim DEB Unhas sukses mengubah limbah tongkol jagung menjadi briket ekonomis, mendorong kemandirian energi Bontomanai, Takalar, dan membuka peluang UMKM baru. Simak inovasi ini!
Tim Desa Energi Berdikari (DEB) Universitas Hasanuddin (Unhas) baru-baru ini meluncurkan inisiatif penting di Desa Bontomanai, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Program ini bertujuan untuk mendorong kemandirian energi serta perekonomian warga setempat melalui pemanfaatan potensi lokal yang belum optimal.
Inisiatif tersebut diwujudkan dengan membentuk kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) baru bernama Eko briket di desa tersebut. Kelompok ini fokus pada produksi briket dari limbah tongkol jagung, yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah pertanian tanpa nilai ekonomis.
Melalui pelatihan intensif, warga diajarkan cara membuat briket yang tidak hanya ekonomis dan ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai jual tinggi. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan peluang usaha baru sekaligus mendukung tercapainya kemandirian energi di Desa Bontomanai.
Inovasi Briket Tongkol Jagung: Dari Limbah Menjadi Berkah
Pemanfaatan limbah pertanian menjadi sumber energi terbarukan merupakan salah satu fokus utama program DEB Unhas. Tongkol jagung, yang melimpah di Desa Bontomanai, kini diubah menjadi briket yang efisien dan berkelanjutan.
Pelatih dari DEB Unhas, A Arya Setiawan, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya mengajarkan teknik pembuatan briket. "Selain mengajarkan cara membuat briket yang ekonomis dan ramah lingkungan karena berbahan dasar tongkol jagung sebagai peluang usaha baru, sekaligus mendorong kemandirian energi dan ekonomi," ujarnya.
Inovasi ini mengangkat potensi lokal yang selama ini terabaikan, memberikan nilai tambah pada limbah pertanian. Warga desa kini memiliki kemampuan untuk mengubah "sampah" menjadi produk bernilai ekonomi, yang secara langsung berkontribusi pada kemandirian energi Bontomanai.
Burhan, salah seorang peserta pelatihan, mengungkapkan antusiasmenya. "Tongkol jagung yang dulu dianggap sampah ternyata bisa jadi usaha karena itu kami antusias untuk mempelajarinya," katanya, menunjukkan optimisme terhadap potensi briket tongkol jagung ini.
Pemberdayaan UMKM dan Manajemen Usaha
Selain aspek teknis produksi, tim DEB Unhas juga membekali warga dengan pengetahuan manajerial yang krusial untuk keberlanjutan usaha. Pembentukan UMKM Ekobriket membutuhkan pemahaman yang kuat tentang pengelolaan bisnis.
Rizky Fauzi dari DEB Unhas bertanggung jawab membimbing peserta dalam aspek keuangan. Ia membimbing peserta pelatihan "memahami pencatatan keuangan dasar pengelolaan modal dan penentuan harga jual yang sehat bagi produk UMKM."
Pelatihan ini memastikan bahwa UMKM Ekobriket tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga mengelola usahanya secara profesional. Dengan demikian, produk briket tongkol jagung dapat bersaing di pasar dan memberikan keuntungan yang berkelanjutan bagi warga.
Aspek manajemen usaha ini sangat vital untuk memastikan program kemandirian energi Bontomanai melalui briket ini dapat terus berkembang. Kemampuan dalam mengelola modal dan menentukan harga jual yang kompetitif menjadi kunci sukses UMKM lokal.
Dukungan Pemerintah Desa dan Harapan Berkelanjutan
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah desa setempat. Kepala Desa Bontomanai, Aris, menyambut baik inisiatif dari DEB Unhas dan menyatakan komitmennya untuk mendukung UMKM Ekobriket.
"Ini menjadi langkah awal yang sangat positif bagi desa kami. Kami akan dukung Ekobriket agar bisa terus berjalan dan memberi manfaat nyata bagi warga," kata Aris, menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah.
Dengan pembentukan UMKM Ekobriket dari pelatihan dasar ini, tim DEB Unhas berharap warga Bontomanai dapat mulai membangun ekosistem usaha energi terbarukan secara mandiri dan berkelanjutan. Harapan ini mencerminkan visi jangka panjang untuk kemandirian energi Bontomanai.
Dukungan ini diharapkan dapat mempercepat adopsi briket tongkol jagung sebagai alternatif energi dan membuka lebih banyak peluang ekonomi. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews