Tahukah Anda? Industri Kokas Indonesia Berjuang Pertahankan Kontribusi Rp9,2 Triliun di Tengah Tekanan Global

Industri Kokas Indonesia menghadapi tekanan berat akibat kebijakan pembatasan impor India, namun terus berinovasi dengan mengalihkan pasar dan strategi konservatif demi kontribusi ekonomi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Industri Kokas Indonesia Berjuang Pertahankan Kontribusi Rp9,2 Triliun di Tengah Tekanan Global
Industri Kokas Indonesia menghadapi tekanan berat akibat kebijakan pembatasan impor India, namun terus berinovasi dengan mengalihkan pasar dan strategi konservatif demi kontribusi ekonomi. (Merdeka.com)

Industri kokas nasional, melalui Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN), gencar menjalankan strategi adaptif. Ini dilakukan demi mempertahankan kontribusi vital sektor ini terhadap perekonomian domestik Indonesia. Pasar yang menantang menuntut langkah inovatif dari pelaku usaha.

Tekanan berat datang dari kebijakan pembatasan kuota impor kokas oleh Pemerintah India yang diperkirakan berimbas di tahun 2025. Selain itu, kenaikan harga batu bara kokas global juga menjadi tantangan signifikan. Penurunan produksi baja dunia turut mendorong perusahaan untuk lebih berhati-hati dalam mengendalikan produksinya.

Untuk merespons situasi ini, perusahaan kokas di Indonesia mengambil sejumlah langkah strategis. Mereka mengalihkan arah penjualan ke negara lain dan menyesuaikan struktur produk. Operasional fasilitas pada beban rendah juga diterapkan demi menjaga daya saing di pasar global.

Strategi Adaptasi Industri Kokas di Tengah Badai Global

Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) atau Association of Indonesia Coke Industry (AICI) secara aktif mengimplementasikan berbagai strategi. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas dan kontribusi industri kokas terhadap ekonomi nasional. Penyesuaian struktur produk dan pengalihan fokus penjualan menjadi prioritas utama.

Ketua APUKN/AICI, Elias Ginting, menjelaskan bahwa respons terhadap pasar yang menantang melibatkan penyesuaian produksi. Perusahaan kokas di Indonesia berupaya mengalihkan penjualan ke negara lain dan mengoperasikan fasilitas pada beban rendah. Hal ini dilakukan untuk menjaga daya saing di tengah fluktuasi pasar global.

Elias Ginting menyebutkan, "Saat ini, industri kokas Indonesia tengah menghadapi tekanan berat akibat kebijakan pembatasan kuota impor kokas oleh Pemerintah India. Kebijakan tersebut membuat kinerja ekspor ke India merosot tajam pada 2025." Situasi ini diperparah oleh kenaikan harga batu bara kokas global dan penurunan produksi baja.

Prospek industri kokas hingga akhir 2025 menunjukkan tingkat utilisasi kapasitas diperkirakan bertahan di bawah 60 persen. Bahkan, prospek pada 2026 dinilai masih belum membaik, sehingga strategi konservatif akan terus diterapkan. APUKN juga menjajaki potensi pasar baru di Amerika Selatan, Eropa, dan Asia lainnya.

Kontribusi Signifikan dan Tantangan Ekspor Kokas Indonesia

Meskipun menghadapi tantangan, industri kokas Indonesia telah menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Mei 2025 total volume ekspor sektor ini mencapai 2,56 juta metrik ton (MT). Angka ini meningkat 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kokas merupakan komponen esensial dalam produksi baja, khususnya pada teknologi blast furnace. Sebagai agen reduktor dan sumber panas, kokas berperan krusial dalam mengubah bijih besi menjadi besi cair. Proses ini merupakan langkah awal sebelum diolah lebih lanjut menjadi baja.

Nilai ekspor industri kokas yang melonjak hingga sebesar 563 juta dolar AS atau setara Rp9,2 triliun (kurs Rp16.336) merupakan dampak dari tekanan pada harga komoditas kokas di pasar global. Angka ini menunjukkan potensi besar industri meskipun dihadapkan pada berbagai hambatan.

Kontribusi ini menegaskan pentingnya kokas bagi rantai pasok industri baja global. Oleh karena itu, menjaga keberlangsungan dan daya saing industri kokas menjadi prioritas utama bagi APUKN dan pemerintah.

Konsolidasi Internal dan Harapan Kebijakan Pemerintah

Dalam upaya penguatan konsolidasi sektor, APUKN telah melakukan kunjungan kerja ke empat fasilitas produksi kokas. Kunjungan ini dilakukan di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Fasilitas yang dikunjungi meliputi PT Kinrui New Energy Technologies Indonesia, PT Kinxiang New Energy Technologies Indonesia, PT Risun Wei Shan Indonesia, dan PT Detian Cooking Indonesia.

Kunjungan tersebut difokuskan pada pemantauan kondisi penjualan, produksi, serta integrasi tenaga kerja. Integrasi antara tenaga kerja China dan Indonesia menjadi salah satu aspek penting yang diperhatikan. Hal ini menunjukkan komitmen APUKN dalam memastikan operasional yang efisien dan harmonis.

APUKN berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret terkait pembatasan impor kokas yang berdampak pada kinerja ekspor. Mereka mengusulkan agar izin ekspor untuk tahun 2026 dapat diterbitkan sebelum 1 Januari 2026. Maksimal, izin tersebut diharapkan terbit pada minggu pertama Januari 2026.

Elias Ginting menegaskan, "Kami akan terus menunggu perkembangan kebijakan impor India, sambil menjajaki potensi pasar baru di Amerika Selatan, Eropa, maupun Asia lainnya, serta mengembangkan produk alternatif lain." Ini menunjukkan upaya proaktif industri dalam menghadapi ketidakpastian pasar.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi