Tahukah Anda 60% PDB Aceh Ditopang UMKM? BI Gelar Aceh Economic Forum 2025 Dorong Potensi UMKM Aceh ke Rantai Halal Dunia
Bank Indonesia (BI) menggelar Aceh Economic Forum 2025 untuk menggali potensi UMKM Aceh dan mendorong produk lokal masuk rantai halal global. Apa saja strateginya?
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Aceh secara resmi menyelenggarakan Aceh Economic Forum 2025 yang bertujuan strategis. Forum ini menjadi wadah penting untuk menggali potensi besar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ada di seluruh wilayah Tanah Rencong.
Acara tersebut juga secara spesifik berupaya mendorong hilirisasi produk-produk lokal Aceh agar memiliki daya saing global. Tujuannya adalah agar produk-produk tersebut dapat terintegrasi masuk ke dalam rantai nilai halal dunia yang semakin berkembang pesat.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari rangkaian pergelaran Meuseuraya Festival 2025 yang diselenggarakan oleh Perwakilan Bank Indonesia Aceh. Forum yang melibatkan 97 UMKM lokal ini berlangsung dari tanggal 24 hingga 28 September 2025 dan berpusat di Balee Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh.
Menggali Potensi dan Peran Strategis UMKM Aceh
Kepala KPw BI Aceh, Agus Chusaini, menegaskan bahwa UMKM memiliki peran sentral sebagai penopang utama perekonomian Aceh. Melalui forum ini, BI berharap dapat mengidentifikasi dan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki oleh UMKM di daerah tersebut.
"Melalui forum ini, kita berharap dapat menggali potensi UMKM Aceh yang merupakan penopang utama bagi perekonomian Aceh," kata Agus Chusaini saat membuka acara. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya sektor UMKM yang secara signifikan berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Aceh.
Lebih dari 60 persen PDB Aceh ditopang oleh UMKM, menunjukkan betapa vitalnya sektor ini bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun, Agus Chusaini juga mengakui bahwa UMKM masih menghadapi berbagai kendala krusial, termasuk dalam aspek pemasaran, pemanfaatan teknologi, dan akses terhadap pembiayaan yang memadai.
Oleh karena itu, Aceh Economic Forum diselenggarakan dengan harapan dapat memberikan sumbangsih nyata dalam mengatasi tantangan tersebut. Forum ini diharapkan mampu memfasilitasi solusi inovatif untuk mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan UMKM di Aceh.
Strategi Hilirisasi dan Ekonomi Syariah untuk Pasar Global
Forum ini mengangkat tema "Strategi Peningkatan Ekonomi Syariah Melalui Pengembangan Hilirisasi Produk UMKM yang Kompetitif dan Menjadi Bagian dari Global Halal Value Chain". Tema ini mencerminkan komitmen BI untuk memperkuat hilirisasi UMKM.
Penguatan hilirisasi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Aceh pada sektor primer dan memperkuat posisinya dalam rantai nilai global. BI secara aktif mendukung pengembangan ekonomi syariah, khususnya melalui penguatan produk halal.
Dukungan tersebut diwujudkan dalam berbagai inisiatif, seperti sertifikasi juru sembelih halal, pembentukan zona kuliner halal, serta peningkatan literasi dan inklusi gaya hidup halal. "BI mendukung pengembangan ekonomi syariah, hilirisasi UMKM melalui penguatan produk halal," ujar Agus Chusaini.
Peningkatan potensi UMKM juga memerlukan sinergi kuat antara berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah daerah, akademisi, asosiasi, dan masyarakat luas diharapkan dapat terus meningkatkan nilai produk UMKM secara berkelanjutan.
Komitmen Pemerintah Aceh dan Optimisme Rantai Nilai Halal Global
Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Pembangunan, Restu Adi Surya, menegaskan komitmen Pemerintah Aceh. Pemerintah daerah berupaya mewujudkan pengembangan ekonomi syariah melalui penerapan Qanun Keuangan Syariah dan Gerakan Aceh Berwakaf.
"Kita terus berkomitmen agar potensi Aceh dengan jumlah penduduk terbanyak dapat menjadi pemain bukan hanya penonton," kata Restu Adi Surya. Pernyataan ini menunjukkan ambisi Aceh untuk berperan aktif dalam peta ekonomi syariah nasional dan global.
Restu Adi Surya juga menyatakan optimisme bahwa industri UMKM Aceh memiliki potensi besar untuk masuk ke dalam rantai pasok nilai halal secara global. Optimisme ini didasari oleh potensi Indonesia yang diproyeksikan akan menjadi pusat industri halal dunia.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki oleh daerah Aceh, termasuk kekayaan sumber daya dan budaya, UMKM lokal diharapkan dapat menjadi bagian integral dari rantai pasok global tersebut. Hal ini akan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk Aceh.
Sumber: AntaraNews