Jakarta – Sebagian besar usaha keluarga di kawasan Asia ternyata belum memiliki persiapan matang terkait rencana penerus usaha mereka. Survei terbaru dari Sun Life Asia menunjukkan bahwa hampir tiga perempat dari usaha keluarga di wilayah tersebut belum menyiapkan penerus, meskipun niat untuk memiliki pengaturan warisan sangat tinggi di kalangan pemilik.
Maika Randini, Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, menekankan pentingnya persiapan ini mengingat adanya peralihan kekayaan lintas generasi dalam skala besar yang sedang berlangsung di Asia. Ia menyoroti bahwa banyak pemilik usaha ingin memastikan kekayaan mereka terjaga untuk generasi berikutnya, namun hanya sedikit yang memiliki rencana penerus usaha yang jelas.
Kesenjangan yang signifikan ini mengindikasikan perlunya langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan usaha serta kesejahteraan yang dihasilkan dari bisnis keluarga. Tanpa rencana yang memadai, risiko konflik dan ketidakpastian dalam transisi kepemilikan dapat mengancam kelangsungan operasional dan stabilitas finansial.
Advertisement
Advertisement
Kesenjangan Kesiapan Rencana Penerus Usaha
Survei yang dilakukan Sun Life Asia terhadap 1.823 pemilik usaha keluarga di enam negara Asia, termasuk Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam pada Oktober 2025, mengungkap data yang mencolok. Hanya 27 persen dari responden yang sudah memiliki rencana penerus usaha yang lengkap dan tersusun rapi.
Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas, atau sekitar 73 persen, usaha keluarga masih belum siap menghadapi transisi kepemimpinan dan pengelolaan kekayaan. Padahal, Maika Randini menyatakan bahwa "Rencana penerus usaha belum memadai, meski warisan menjadi prioritas utama."
Sebagian besar pemilik usaha keluarga (68 persen) berharap kekayaan yang mereka tinggalkan dapat digunakan untuk pertumbuhan jangka panjang bisnis. Namun, minimnya rencana konkret menjadi penghalang utama dalam mencapai tujuan tersebut, menciptakan risiko keberlanjutan yang signifikan bagi usaha keluarga.
Advertisement
Advertisement
Dilema Generasi Muda dan Masa Depan Usaha Keluarga
Selain kesiapan pemilik, survei ini juga menyoroti pandangan generasi berikutnya terhadap usaha keluarga. Kurang dari sepertiga (31 persen) dari generasi muda menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan usaha keluarga yang telah dirintis.
Fakta menarik lainnya adalah separuh dari generasi berikutnya (50 persen) justru menyatakan enggan mengambil alih usaha keluarga. Alasan utama di balik keengganan ini adalah keinginan untuk tetap mandiri dan mengejar tujuan pribadi di luar lingkup bisnis keluarga.
Maika Randini menjelaskan bahwa usaha keluarga di Asia saat ini berada pada titik krusial akibat perbedaan generasi yang semakin lebar. Generasi muda kini lebih mengutamakan kemandirian, tujuan hidup yang jelas, dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang berbeda dengan prioritas generasi sebelumnya.
Advertisement
Advertisement
Strategi Membangun Warisan Usaha yang Berkelanjutan
Untuk mengatasi tantangan ini, pemilik usaha perlu memperkuat rencana penerus usaha dan membuka ruang dialog yang konstruktif mengenai masa depan bisnis mereka. Dialog ini penting untuk menyelaraskan ekspektasi dan aspirasi antara generasi.
Temuan survei Sun Life Asia menggarisbawahi bahwa pemilik usaha keluarga membutuhkan wawasan profesional yang mendalam dan pendekatan jangka panjang yang disesuaikan. Nasihat proaktif dari para ahli dapat membantu dalam mencapai tujuan penerus usaha, mencegah konflik internal, dan menjaga warisan keluarga.
Baik layanan ahli individual maupun family office memiliki peran penting dalam menyediakan panduan yang komprehensif. Melalui dukungan ini, usaha keluarga dapat mengembangkan strategi yang kuat untuk memastikan transisi yang mulus dan keberlanjutan bisnis di tengah dinamika perubahan generasi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews