Sri Mulyani: Disiplin fiskal bukan berarti Indonesia jadi alergi dengan utang

Jumat, 23 Maret 2018 18:58 Reporter : Siti Nur Azzura
Sri Mulyani: Disiplin fiskal bukan berarti Indonesia jadi alergi dengan utang Sri Mulyani. ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pemerintah telah menggunakan utang dengan hati-hati. Meski demikian, disiplin fiskal tidak berarti Indonesia menjadi ketakutan dan panik atau bahkan menjadi alergi terhadap instrumen utang.

Menurutnya, Indonesia harus tetap menjaga instrumen tersebut sebagai salah satu pilihan kebijakan dalam mencapai tujuan pembangunan. Mengingat tujuan-tujuan yang hendak dicapai sangat beragam, seperti pengurangan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, penciptaan kesempatan kerja, perbaikan program pendidikan dan kesehatan, dan membantu infrastruktur dasar.

"Utang bukan satu-satunya instrumen kebijakan. Ada instrumen lain yang harus sama-sama bekerja secara efektif dan keras untuk mencapai tujuan nasional. Oleh karena itu, Pemerintah melakukan reformasi perpajakan dengan serius, karena Pemerintah sadar bahwa pajak merupakan tulang punggung negara," kata Sri Mulyani melalui keterangan tertulisnya, Jumat (23/3).

Pemerintah juga serius dalam memperbaiki iklim investasi, agar investasi dan daya kompetisi ekonomi dan ekspor kita meningkat. Hasilnya skor kemudahan investasi kita sudah semakin baik dan Indonesia menjadi tempat investasi paling menarik di dunia.

Tak hanya itu, langkah konsisten dan hati-hati dari pemerintah telah menghasilkan kepercayaan yang makin kuat terhadap APBN dan perekonomian Indonesia. Hal ini dikonfirmasi oleh peringkat investasi dari lima lembaga pemeringkat dunia (S&P, Moodys, Fitch, JCR, dan R&I), yang menandakan Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang memiliki undang-undang yang menjaga disiplin APBN (fiscal responsibility rules) dan konsisten menjalankannya.

Selain itu, pengelolaan APBN yang hati-hati dan baik menghasilkan perbaikan dalam bentuk menurunnya imbal hasil (yield) Surat Utang Negara berjangka 10 tahun dari 7,93 persen pada Desember 2016, menurun menjadi 6,63 persen pada pertengahan Maret 2018.

"Ini prestasi yang tidak mudah, karena pada saat yang sama justru Federal Reserve Amerika melakukan kenaikan suku bunga pada akhir Desember 2016, dan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga tiga kali pada tahun 2017," tandasnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini