Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Riset: Penghasilan Mitra Amartha Naik Tajam dari Rp1,4 Juta jadi Rp10 Juta/Bulan

Riset: Penghasilan Mitra Amartha Naik Tajam dari Rp1,4 Juta jadi Rp10 Juta/Bulan PT Amartha Mikro Fintek. ©2019 Merdeka.com/Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha bersama dengan Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada merilis hasil riset bertajuk Peran Amartha dalam Peningkatkan Kesejahteraan Perempuan di Pedesaan. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa Amartha berhasil meningkatkan kesejahteraan hidup para mitranya yaitu para perempuan pengusaha mikro di pedesaan.

Sekretaris Eksekutif CfDS UGM, Dewa Ayu Diah Angendari mengatakan, pendanaan dan pendampingan usaha yang dilakukan Amartha kepada para mitra berhasil membuat pendapatan mereka naik hingga tujuh kali lipat, melebihi Upah Minimum Regional (UMR) setempat.

"94 persen mitra Amartha merasa lebih sejahtera setelah bergabung dengan Amartha. Penghasilan mereka naik jadi Rp5- Rp10 Juta per bulan dari yang awalnya hanya sekitar Rp1- Rp2 Juta per bulan," kata dia di Jakarta, Rabu (6/11).

Hasil riset menujukkan kenaikan tertinggi dirasakan oleh salah satu mitra Amartha di Klaten yang mengalami lonjakan pendapatan dari Rp1,4 juta menjadi Rp10 juta per bulan. Angka ini jauh melampaui UMR Klaten senilai Rp1.795.061.

Temuan riset lainnya juga mengungkap bahwa 76 persen mitra usaha Amartha mengaku dapat membayar uang sekolah anak dari pendapatan usaha mereka. Mereka juga merasakan hasil penjualan meningkat, usaha semakin berkembang, dapat turut membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar serta memiliki cadangan dana darurat.

Adapun riset kolaborasi ini dilakukan pada delapan puluh delapan responden mitra Amartha di delapan kota di Jawa (Bandung, Bogor, Subang, Sukabumi, Banyumas, Klaten, Kediri, dan Mojokerto) dengan menggabungkan metode survei, wawancara dan focus group discussion.

Chief Risk and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto mengatakan, setiap minggunya, Amartha mengadakan pertemuan majelis atau kelompok mitra beranggotakan 10-25 orang. Ini dilakukan untuk memberi pendampingan dan pendidikan mengenai tata kelola usaha dan keuangan.

"Dengan metode ini, Amartha dapat menjembatani kesenjangan yang muncul dari rendahnya tingkat pendidikan dan akses informasi perempuan di pedesaan," paparnya.

Kegiatan rutin mingguan ini diharapkan membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab untuk mengelola keuangan dengan lebih baik. Sebanyak 54,5 persen mitra Amartha merasa kemampuan mengelola keuangan meningkat setelah bergabung dengan Amartha.

Mayoritas Perempuan Berpendidikan Rendah

berpendidikan rendah rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Di samping itu, mayoritas perempuan di pedesaan memiliki tingkat pendidikan yang rendah serta mengalami keterbatasan dalam mengakses informasi. Sebanyak 52,3 persen mitra Amartha merupakan lulusan sekolah dasar yang rata-rata berprofesi sebagai pedagang berskala mikro dengan penghasilan kurang dari Rp3 juta per bulan.

Dalam mengakses informasi, para mitra Amartha masih mengandalkan televisi atau orang-orang di sekitar mereka. Sekitar 70 persen perempuan mitra Amartha berusia di atas 40 tahun dan sebanyak 62,5 persen mitra Amartha tidak memiliki telepon genggam yang memungkinkan mereka terhubung dengan internet.

"Menghadapi tantangan tersebut, Amartha menerjunkan business partner atau agen lapangan yang bertugas untuk menjembatani jurang tersebut," kata dia.

Sistem pendampingan melalui business partner Amartha membuat pengetahuan para perempuan desa tentang literasi keuangan semakin meningkat. Selain mengumpulkan pembayaran, business partner yang datang di setiap pertemuan mingguan turut membantu para mitra Amartha untuk mengelola pinjaman.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP