Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

RI siap saingi Pakistan & Malaysia rebut dana di KTT Belt and Road

RI siap saingi Pakistan & Malaysia rebut dana di KTT Belt and Road Thomas Lembong. ©2014 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas (ratas) tertutup pada sore hari ini, Jumat (5/5). Rapat kali ini membahas persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) One Belt One Road di Beijing. KTT One Belt One Road ini fokus pada pembangunan infrastruktur.

"Ini (KTT One Belt One Road) salah satu program infrastruktur terbesar di dunia," ucap Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (5/5).

Lembong menyebut, KTT One Belt One Road akan dihadiri 29 kepala negara termasuk 7 di antaranya dari ASEAN dan 12 dari Eropa. Akan hadir juga Kepala Bank Dunia, Kepala (International Monetary Fund) IMF, dan Sekjen PBB.

"Jadi ini konferensi paling nomor 1 di 2017 di bidang infrastruktur dan mungkin di bidang kerja sama ekonomi internasional," sambungnya.

Dalam ratas tertutup, pemerintah berencana memanfaatkan momentum KTT One Belt One Road untuk pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Program pembangunan infrastruktur yang dicanangkan dalam KTT One Belt One Road harus bersinergi dengan pembangunan insfrastruktur di Indonesia.

Minggu depan, lanjut Lembong, perlu ada rapat koordinasi di tingkat menteri koordinator di bidangnya masing-masing untuk membahas persiapan KTT One Belt One Road. Semua program yang ingin didorong dalam KTT One Belt One Road harus dipersiapkan dengan matang.

"Bagaimana caranya agar kita bisa ambil lebih banyak manfaat dari program (KTT One Belt One Road) ini," ucapnya.

Lembong menambahkan, sebetulnya Indonesia sudah bergabung dengan KTT One Belt One Road pada tahun lalu namun belum diperhitungkan dalam forum tersebut. Di KTT One Belt One Road tahun ini, pemerintah optimis bisa bersaing dengan negara lain seperti Pakistan, Malaysia, dan Filipina.

"Pakistan itu sudah ambil USD 55 miliar dari program One Belt One Road. Malaysia sudah ambil lebih dari USD 30 miliar. Indonesia baru USD 5 miliar sampai USD 6 miliar. Artinya kita ketinggalan sekali," pungkas Lembong.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP