Belasan Juta Warga RI Turun Kelas, Cita-Cita Indonesia Emas 2045 Terancam Cuma Wacana?

Riset IMF mengungkap populasi kelas menengah Indonesia menyusut drastis dalam 5 tahun terakhir. Intip penyebab dan dampaknya bagi ekonomi nasional!

Auria Setiarum Cahayani
Belasan Juta Warga RI Turun Kelas, Cita-Cita Indonesia Emas 2045 Terancam Cuma Wacana?
© 2026 Liputan6.com/Fandi Ahmad

Pemerintah berambisi membawa Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi lewat visi Indonesia Emas 2045. Namun, ambisi besar ini terancam sekadar wacana jika mesin utama penggerak ekonomi yakni masyarakat kelas menengah justru makin keropos dan menyusut.

Laporan terbaru dari International Monetary Fund (IMF) membeberkan fakta memprihatinkan: populasi kelas menengah di tanah air merosot tajam dalam lima tahun terakhir.

Lantas, bagaimana fenomena 'turun kelas' ini bisa terjadi secara masif? dan apakah cita-cita Indonesia Emas 2045 masih mungkin tergapai?

Merosot Lima Tahun Terakhir (2019-2024)

International Monetary Fund (IMF) itu ibarat lembaga patungan atau bank darurat raksasa milik negara-negara dunia. Lewat riset terbarunya, IMF membeberkan data mengejutkan soal nasib kelas menengah Indonesia.

Dulu, waktu ekonomi mulai pulih dari krisis, jumlah kelas menengah sempat melonjak drastis. Pada 2002, jumlah kelas menengah hanya 5% dari total penduduk. Namun di 2018, angka ini meroket ke 22,9% (sekitar 59,5 juta orang).

Sayangnya, masa-masa indah itu luntur. Angkanya pelan-pelan menyusut hingga tersisa di bawah 20% (sekitar 47,9 juta orang) pada 2024. Artinya, hanya dalam kurun lima tahun terakhir, ada sekitar 11,6 juta orang yang turun kelas dan terdorong kembali menjadi kelompok rentan pas-pasan.

Kelompok ini gagal mempertahankan kestabilan finansialnya dan kini berada di posisi aspiring middle class alias kelompok yang hidupnya sangat mepet dengan garis batas kemiskinan dan rentan terperosok jika dihantam krisis sekecil apa pun.

Penyebab Utama

Riset IMF membeberkan beberapa biang kerok di balik fenomena ini:

Pertama, maraknya peralihan ke kerja informal. Pascapandemi, banyak lapangan kerja formal bergaransi jaminan sosial yang hilang. Banyak orang terpaksa beralih jadi pekerja informal, seperti freelance hingga pengemudi ojol dengan pendapatan tak menentu.

Kedua, pendapatan riil yang tergerus. Gaji yang tak pasti membuat masyarakat kesulitan mengejar lonjakan harga bahan pokok, biaya pendidikan, sewa hunian, hingga layanan kesehatan.

Ketiga, efek luka memar (pandemic scarring) COVID-19. Tabungan dan dana darurat kelas menengah sudah telanjur habis terpakai untuk bertahan hidup selama pandemi, menyisakan benteng pertahanan finansial yang sangat rapuh.

Menurut IMF, kelas menengah Indonesia saat ini ibarat orang yang berjalan di atas papan tipis. Tampak stabil dari luar, tetapi sekali dihantam guncangan seperti PHK, kenaikan harga beras, atau anggota keluarga sakit, mereka bakal langsung terperosok jatuh miskin.

Ancaman Buat Indonesia Emas 2045

Jika fenomena ini dibiarkan, cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan cuma terancam molor, tapi bisa buyar sama sekali.

Tulang punggung ekonomi Indonesia itu ada di belanja masyarakat (konsumsi rumah tangga), dan kelas menengah adalah mesin pemutarnya. Begitu belasan juta orang turun kelas, mesin itu langsung macet total. Daya beli nasional bakal melesu parah.

Orang-orang bakal setop jajan baju lokal, berhenti nongkrong di coffeeshop, hingga memutus langganan hiburan demi irit bahan pokok. Efek dominonya? Sektor ritel dan bisnis UMKM bakal gulung tikar satu per satu karena kehilangan pembeli.

Ujung-ujungnya, Indonesia bakal terjebak dalam middle-income trap, kondisi tragis di mana orang terlanjur tua dan miskin sebelum sempat jadi negara maju. Mimpi tumbuh di atas 5% hanya jadi deretan angka di atas kertas kalau mesin utamanya sendiri dibiarkan merosot.

Lalu, Apa Solusinya?

Agar mobil ekonomi tidak makin mogok, IMF membeberkan beberapa resep perbaikan.

Pertama, pemerintah harus fokus menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas bukan sekadar nyerap tenaga kerja murah atau kerjaan informal tanpa jaminan. Kedua, skill pekerja harus terus di-upgrade biar tidak mudah tergerus otomatisasi dan AI.

Selain itu, kemudahan berusaha dan kepastian hukum perlu diperbaiki agar investor mau menanamkan modal jangka panjang. Terakhir, bantuan sosial jangan hanya fokus untuk warga miskin saja, tapi juga perlu menyasar kelompok kelas menengah bawah agar benteng finansial tidak jebol ketika krisis finansial melanda.

Rekomendasi