Rahasia Akun Ojol 'Anyep' Terungkap, Ternyata Ini Penyebabnya

Fenomena akun ojol ‘anyep’ memicu perdebatan soal algoritma platform. Pihak aplikator tegaskan algoritma adalah rahasia bisnis, sementara pakar sebut sistem hanya merekam kebiasaan driver.

Auria Setiarum Cahayani
Rahasia Akun Ojol 'Anyep' Terungkap, Ternyata Ini Penyebabnya
Seminar 'Masa Depan Ekonomi Gig & Platform di Indonesia' yang digelar Segara Institute pada Jumat (2/10) di Kebayoran Baru.

Penyebab ramai atau sepinya pesanan (gacor dan anyep) pada akun pengemudi ojek online (ojol) kembali menjadi perbincangan hangat. Isu transparansi algoritma platform ini mencuat dalam seminar bertajuk 'Masa Depan Ekonomi Gig & Platform di Indonesia' yang digelar Segara Institute pada Jumat (2/10/2026).

Forum yang mengumpulkan pelaku industri, pengamat, hingga perwakilan komunitas ojol ini mengulas dinamika kepastian perlindungan pekerja informal yang kini tengah digodok dalam RUU Ketenagakerjaan.

Dalam skema penugasan aplikasi, skema tarif murah atau komisi rendah sering kali menempatkan pengemudi di posisi serba salah. Pengemudi yang mau menerima order murah cenderung mendapat prioritas algoritma sehingga akunnya menjadi gacor.

Sebaliknya, jika pengemudi menolak pesanan karena kalkulasi jarak atau tarif yang dianggap tidak masuk akal, akun mereka berisiko terancam sepi orderan atau anyep.

Namun, sudut pandang berbeda justru datang dari pengemudi di lapangan. Ketua Komunitas Ojol (KAJOL), Firman, menilai fenomena akun sepi tak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada sistem aplikasi, melainkan juga dipengaruhi oleh kedisiplinan pengemudi itu sendiri.

"Akun anyep itu sering kali disebabkan driver yang terlalu sering menolak orderan. Saya ambil contoh: kalau saya dapat orderan ke Bogor, tapi karena saya ingin ngopi lalu saya tolak, nah itu salah satu penyebabnya. Jadi kita sebagai driver, kalau memang siap ya open bid, kalau tidak siap ya sebaiknya jangan," ujar Firman.

AI Merekam Kebiasaan, Algoritma Milik Platform Tetap Rahasia

Mitra Gojek
Ilustrasi ojek online (ojol). (Istimewa)

Menanggapi polemik tersebut, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menjelaskan bahwa algoritma berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada dasarnya dirancang untuk mengoptimalkan efisiensi pencocokan antara penumpang dan pengemudi.

"Algoritma itu merekam kebiasaan. Kalau driver memilih sistem penerimaan otomatis, sistem akan langsung menyalurkan order terdekat. Tapi kalau sering memilih-milih pesanan, sistem AI akan menyesuaikan dengan pola tersebut. Jadi jangan menyalahkan algoritmanya semata," jelas Piter.

Sementara itu, dari sudut pandang penyedia layanan, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan, menegaskan bahwa perusahaan platform tidak dapat membeberkan secara utuh kode algoritma ke publik karena merupakan rahasia dapur perusahaan.

"Kita tidak bisa membuka semua algoritma itu ke publik karena berkaitan dengan kerahasiaan perusahaan. Tapi yang bisa kami lakukan adalah memberikan lebih banyak informasi kepada para pelakunya," pungkas Budi.

Rekomendasi