Pasokan Sawit Indonesia Hadapi Tekanan Ganda Jelang 2027, Ajak India Perkuat Kemitraan

Program B50 dan kekeringan El Niño diproyeksi menekan ekspor sawit Indonesia pada 2027. GAPKI perkuat kemitraan dengan India dan Uni Eropa.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Pasokan Sawit Indonesia Hadapi Tekanan Ganda Jelang 2027, Ajak India Perkuat Kemitraan
<p>Tandan buah segar di pabrik pengolahan kelapa sawit (Foto: PT Austindo Nusantara Jaya Tbk/ANJT)</p>

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan pasokan minyak sawit Indonesia pada 2027 bakal tertekan dari dua arah sekaligus. Pertama lonjakan konsumsi dalam negeri akibat program biodiesel B50 dan penurunan produksi imbas cuaca ekstrem El Niño.

Sinyal tersebut disampaikan Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, saat membuka konferensi minyak nabati terbesar se-Asia Selatan, GlobOil India 2026, di Mumbai, India. Dalam ajang ini, Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI, Fadhil Hasan, juga tampil sebagai pembicara mewakili negara produsen sawit. 

Sebagai pionir biodiesel B50 secara nasional dengan target cakupan penuh per 1 Oktober 2026, Indonesia diproyeksikan menyerap 15,2–16,3 juta ton CPO per tahun. Alokasi jumbo ini otomatis memperketat sisa volume sawit untuk pasar ekspor.

Di sisi tata kelola, lima produk sawit wajib diekspor melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) mulai 1 Januari 2027. Eddy menegaskan langkah ini murni bentuk restrukturisasi tata kelola ekspor, bukan pembatasan perdagangan.

Sementara itu, ancaman kekeringan El Niño di Sumatra dan Kalimantan berpotensi menggerus produksi sawit 2027 hingga turun 2,9 persen menjadi sekitar 56,8 juta ton.

India Tetap Jadi Pasar Utama

Pasokan Sawit Indonesia Hadapi Tekanan Ganda Jelang 2027, Ajak India Perkuat Kemitraan
Pasokan Sawit Indonesia Hadapi Tekanan Ganda Jelang 2027, Ajak India Perkuat Kemitraan

Indonesia saat ini memenuhi hampir separuh kebutuhan sawit India. Pada triwulan I 2026 saja, ekspor sawit ke Negeri Tiga Sapi itu melesat 28 persen secara tahunan mencapai 988 ribu ton.

GAPKI pun menyambut positif kebijakan India yang memangkas bea masuk dasar CPO dari 10 persen menjadi 5 persen per 24 September 2026. India diproyeksikan tetap butuh impor sawit sekitar 7–8 juta ton per tahun hingga 2030.

Untuk memperkuat rantai pasok, GAPKI melanjutkan kerja sama dengan Solvent Extractors’ Association of India (SEA) dan Asian Palm Oil Alliance (APOA), serta meneken kesepakatan baru bersama Indian Vegetable Oil Producers’ Association (IVPA).

Peluang Pasar Eropa Lewat I-EU CEPA

Pada kesempatan yang sama, Fadhil Hasan memaparkan bahwa Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa (I-EU CEPA) membuka akses tarif bea masuk 0 persen bagi sawit Indonesia. Kuota awal dipatok 1,9 juta ton dan akan naik 3 persen per tahun selama sembilan tahun.

Kendati demikian, pemanfaatan fasilitas ini sangat bergantung pada kesiapan industri memenuhi Regulasi Bebas Deforestasi Uni Eropa (EUDR), khususnya terkait ketertelusuran kebun petani swadaya dan penyelarasan standar ISPO.

Mengingat harga sawit diprediksi tetap tinggi pada 2027, Fadhil menekankan pentingnya percepatan peremajaan sawit rakyat (replanting) demi mendongkrak produktivitas nasional. Through ajang GlobOil India 2026, GAPKI berharap dapat mempererat dialog bersama para pelaku industri global guna membangun kemitraan jangka panjang berbasis keberlanjutan.

Partisipasi GAPKI dalam Global India 2026 ini didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). BPDP melalui berbagai program mendukung kebijakan pemerintah untuk mewujudkan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Rekomendasi