Serangan Drone Lumpuhkan Petroline, Saudi Setop Pasokan Minyak Eropa

Serangan drone melumpuhkan Petroline. Aramco membekukan pasokan minyak Eropa untuk Oktober. Inilah dampak ke harga dan risiko lanjutan.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Serangan Drone Lumpuhkan Petroline, Saudi Setop Pasokan Minyak Eropa
Arab Saudi Ubah Kilang Minyak di Tengah Laut Jadi Taman Hiburan Ekstrem, Berani Coba? (sumber: Odditycentral)

Saudi Aramco menghentikan sementara pengiriman minyak mentah ke seluruh kilang di Eropa untuk periode pengiriman Oktober, menyusul serangan drone yang melumpuhkan pipa distribusi utama menuju Laut Merah—langkah yang berdampak pada pasokan minyak Eropa.

Kebijakan pembekuan ini berlaku bagi semua pembeli di benua tersebut. Selama ini, banyak kilang Eropa mengandalkan kontrak jangka panjang dengan Saudi Aramco untuk suplai rutin setiap bulan. Perusahaan belum memberikan tanggapan resmi terkait keputusan tersebut.

Mengutip Anadolu, Minggu (20/9/2026), pipa East-West (Petroline) ditutup pekan lalu setelah diserang drone. Operasional diperkirakan pulih bertahap dalam beberapa hari ke depan dan baru akan kembali penuh dalam kurun enam minggu.

Petroline menyalurkan minyak mentah dari pusat produksi utama di timur Arab Saudi menuju pesisir Laut Merah, menjadi jalur alternatif agar pengiriman dapat menghindari Selat Hormuz.

Dari Laut Merah, minyak dialirkan melalui pipa SUMED menuju pelabuhan Sidi Kerir di Mesir, yang menjadi pintu masuk utama pasokan minyak Saudi ke kilang-kilang Eropa.

Akibat penghentian jalur ini, sejumlah kilang di Eropa mulai mencari pemasok alternatif. Perusahaan kilang asal Polandia, Orlen, dilaporkan telah membuka lebih dari 10 tender untuk mengamankan cadangan pengganti.

Menurut laporan pasar minyak terbaru Badan Energi Internasional (IEA), negara-negara Eropa anggota OECD mengimpor rata-rata 577.000 barel minyak mentah per hari dari Arab Saudi pada Juni lalu.

Harga Minyak Melemah Tiga Sesi Beruntun

Harga minyak dunia melemah untuk sesi ketiga berturut-turut pada Jumat, 18 September 2026, seiring pasar memperkirakan penutupan pipa East-West Arab Saudi tidak akan berdampak sebesar kekhawatiran awal terhadap suplai.

Mengutip CNBC, Sabtu (19/9/2026), harga West Texas Intermediate (WTI) turun 1,6% ke US$ 100,30 per barel, sementara Brent terkoreksi 0,9% ke US$ 103,87. Minyak Amerika Serikat menutup pekan nyaris tanpa perubahan, sedangkan Brent turun hampir 1%.

Sebelumnya, harga telah naik lebih dari 5% sejak serangan drone yang diluncurkan dari Irak merusak pipa Saudi pada Kamis dan memaksanya untuk ditutup.

"Arus minyak dari Timur Tengah tetap kuat secara mengejutkan meskipun terjadi gangguan pada pipa East-West Arab Saudi," ujar Kepala Strategi Komoditas Global di JPMorgan, Natasha Kaneva dalam sebuah catatan Jumat pekan ini.

JPMorgan memperkirakan total arus minyak dari Timur Tengah rata-rata sekitar 17 juta barel per hari selama 10 hari terakhir; sekitar 6 juta barel per hari di bawah rata-rata 2025.

Kaneva menuturkan, citra satelit menunjukkan pihak Saudi telah mengalirkan 2,8 juta barel per hari melalui Selat Hormuz selama enam hari terakhir, dibandingkan dengan hanya 700.000 barel per hari pada Agustus. Total ekspor kerajaan tersebut mencapai 5 juta barel per hari pada hari Selasa berdasarkan rata-rata bergerak 10 hari, ungkap analis tersebut.

Ancaman Terhadap Pasokan Minyak Eropa

Kaneva memperingatkan volume arus yang lebih tinggi ini mungkin sulit dipertahankan dalam jangka waktu lama. "Untuk saat ini, solusi alternatif tersebut tampaknya berhasil selama Iran membiarkannya," kata analis itu.

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai potensi gangguan terhadap pasokan minyak mentah dan produk turunannya tergolong signifikan.

"Kelompok Houthi di Yaman yang merupakan sekutu Iran kemungkinan masih memiliki pasokan drone dan senjata yang diperlukan untuk serangan lebih lanjut terhadap Pipa East-West dan infrastruktur energi di sepanjang Laut Merah," kata Croft dalam sebuah catatan Kamis.

Rapidan Energy memperkirakan gangguan pada pipa tersebut akan membatasi produksi dan ekspor minyak mentah Saudi setidaknya hingga akhir September.

"Risiko masih condong ke arah gangguan yang lebih besar jika penghentian operasional pipa berlanjut hingga melewati bulan September, atau jika Iran, kelompok Houthi, maupun kelompok proksi lainnya meningkatkan serangan," ujar Rapidan dalam sebuah catatan pada Kamis.

Rekomendasi