Menjadi ilustrator profesional bukan hanya perkara bisa menggambar. Di balik karya yang terlihat menarik di media sosial maupun ruang pameran, ada tantangan untuk menemukan identitas, membangun pasar, hingga mempertahankan profesi dalam jangka panjang.
Hal itu tergambar dari perbincangan merdeka.com dengan tiga ilustrator yang hadir dalam Jakarta Illustration and Creative Arts Fair (JICAF) 2026, yakni Nadine atau Dindros, Fikri, dan Adhidharma alias Stereoflow.
Ketiganya memiliki perjalanan dan pendekatan berbeda dalam berkarya. Namun, mereka sama-sama melihat bahwa ekosistem dan kemampuan mempertahankan identitas menjadi bagian penting dari perjalanan seorang ilustrator.
Advertisement
Bukan Sekadar Ikut Tren
Bagi Nadine atau Dindraws, salah satu modal penting agar ilustrator Indonesia bisa dikenal lebih luas adalah memiliki karakter yang otentik. Menurutnya, ilustrator perlu berani mempertahankan identitasnya sendiri, alih-alih sekadar mengikuti gaya yang sedang populer.
“Originalitas kali ya, being authentic to yourself itu lumayan penting,” kata Dindraws.
Indonesia sendiri, menurut dia, memiliki banyak sumber inspirasi yang dapat menjadi pembeda di mata audiens internasional. Mulai dari budaya, kebiasaan masyarakat hingga isu lingkungan dapat diolah menjadi gagasan dalam karya.
“Di Indonesia kan banyak banget culture, elemen culture yang bisa diangkat, atau kayak kebiasaan orang-orangnya, atau bisa juga ngangkat isu lingkungan,” ujarnya.
Bagi Dindraws, kekayaan tersebut dapat menjadi kekuatan tersendiri bagi ilustrator Indonesia untuk memiliki karakter yang berbeda ketika memasuki ruang kreatif internasional.
Karya yang ia bawa ke JICAF pun berangkat dari hal-hal yang dekat dengan dirinya. Ia membuat berbagai art print dengan inspirasi dari hal-hal yang disukai sejak kecil, termasuk buku-buku yang pernah memberi pengaruh.
Advertisement
Ekosistem Dalam Negeri Perlu Diperkuat
Pandangan sedikit berbeda disampaikan Fikri. Menurutnya, upaya membawa ilustrator Indonesia ke pasar internasional tidak bisa hanya bertumpu pada kemampuan individu.
Ia menilai ekosistem di dalam negeri juga perlu diperkuat agar kreator memiliki ruang untuk berkarya sekaligus mendapatkan penghidupan dari karyanya.
Fikri mencontohkan Jepang yang memiliki ekosistem kuat untuk IP dan pop culture di dalam negeri.
"Kenapa mereka bisa besar banget sampai internasional, itu karena di dalam negerinya pun mereka benar-benar meng-embrace IP dan pop culture mereka," ujarnya.
Menurut Fikri, ketika kreator memiliki ruang yang cukup di dalam negeri, termasuk dari sisi ekonomi, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan karya dan membangun IP secara berkelanjutan.
“Jadi kreator itu pasti punya ruang di situ, termasuk dalam segi ekonomi. Jadi mereka bisa hidup dari karya,” katanya.
Fikri sendiri mulai menekuni ilustrasi secara profesional setelah lulus kuliah pada 2024. Sementara menggambar sudah ia lakukan sejak kecil.
Advertisement
Ketika Seni Harus Berhadapan dengan Kondisi Ekonomi
Perjalanan menjadi ilustrator profesional juga tidak lepas dari kondisi di luar dunia seni.
Fikri menilai situasi ekonomi dan politik dapat ikut memengaruhi keberlangsungan profesi kreatif. Sebab, karya seni dan produk kreatif kerap ditempatkan sebagai kebutuhan tersier.
"Tantangan terbesar, yang pasti hal-hal eksternal sih justru sebenarnya. Kayak seperti yang kita ketahui saat ini, keadaan ekonomi dan politik juga sangat berpengaruh,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi pekerja kreatif di Indonesia karena masyarakat dapat mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan yang dianggap bukan prioritas ketika kondisi ekonomi berubah.
Dindraws memiliki pandangan serupa. Selain kondisi ekosistem, ia menilai masyarakat juga perlu semakin terbuka terhadap berbagai bentuk seni. “Celebrate art in many forms,” katanya.
Advertisement
Hampir 20 Tahun Berkarya
Sementara itu, Adi Dharma alias Stereoflow melihat persoalan dari perspektif yang lebih panjang.
Stereoflow telah menjalani perjalanan profesional sebagai seniman selama bertahun-tahun. Ia juga aktif dalam berbagai pameran dan kolaborasi, termasuk melalui Special Drop JICAF 2026. Dalam gelaran tersebut, ia membawa sejumlah produk seperti saddle cover, stem bag, cycling cap dan bandana.
Bagi Stereoflow, tantangan terbesar seorang ilustrator justru adalah menjaga konsistensi.
“Terbesar mungkin untuk konsisten. Kayaknya banyak teman-teman juga yang gimana sih untuk konsisten terus,” ujarnya.
Ia menilai kemampuan bertahan dan terus menghasilkan karya menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang seniman.
“Banyak teman-teman yang baru mulai, dan gimana sih caranya survive atau hidup, mungkin satu-satunya jawaban untuk konsisten itu,” lanjutnya.
Stereoflow sendiri tidak hanya mengandalkan karya personal. Ia juga menjalani berbagai kolaborasi dengan brand sebagai bagian dari profesinya.
Advertisement
Personal Branding Tak Harus Berarti Merubah Personal
Di era media sosial, perjalanan seorang ilustrator juga tidak bisa dilepaskan dari cara mereka memperkenalkan karya.
Dindraws membangun identitas visual melalui karakter satwa liar seperti orang utan dan gorila, lengkap dengan penggunaan warna yang menjadi ciri dalam karyanya. Karya-karya tersebut ia bagikan melalui Instagram.
Stereoflow juga melihat kehadiran di media sosial dan ruang fisik sama-sama penting. Menurutnya, ilustrator perlu aktif memperkenalkan karya, baik melalui platform digital maupun pameran secara langsung.
Namun, Fikri justru memiliki pandangan yang cukup berbeda mengenai personal branding. “Menurut personal branding yang baik, adalah tidak ada personal branding,” katanya.
Bagi Fikri, seorang ilustrator tidak perlu menciptakan persona yang berbeda dari dirinya sendiri hanya demi membangun citra di media sosial.
“Jadi yaudah diri sendiri, diri sendiri aja, tapi yaudah tetap pede aja,” ujarnya.
Meski demikian, bukan berarti media sosial bisa digunakan tanpa pertimbangan. Fikri tetap memperhatikan cara berkomunikasi ketika mempromosikan karya.
Menurutnya, pemilihan unggahan hingga caption tetap perlu disusun dengan baik karena media sosial merupakan ruang publik. “Kalau kita ingin promosi sesuatu, kita ingin menunjukkan ke kalian, kita tetap harus punya alur komunikasi yang rapi,” katanya.
Pada akhirnya, bagi tiga ilustrator tersebut, perjalanan menjadi profesional tidak memiliki satu rumus yang sama.
Dindraws melihat pentingnya keaslian dan keberanian mengangkat identitas lokal. Fikri menyoroti pentingnya ekosistem yang mampu memberi ruang ekonomi bagi kreator. Sementara Stereoflow menekankan konsistensi untuk terus bertahan dan berkarya.
Di tengah perkembangan industri kreatif, menjadi ilustrator pun akhirnya bukan cuma soal bagaimana membuat gambar yang bagus. Ada pekerjaan panjang untuk menemukan suara sendiri, membangun audiens, menciptakan pasar, dan tetap berkarya ketika situasi tidak selalu ideal.