Pemerintah Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, meluncurkan inisiatif progresif melalui Program Desa Preneur guna menggerakkan perekonomian lokal. Program ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut. Tujuannya adalah mendorong kemandirian ekonomi desa dengan memanfaatkan potensi serta kearifan lokal yang ada.
Salah satu hasil nyata dari program ini adalah pengembangan inovasi Mi Lethek Kemasan kering siap saji, yang kini dikenal dengan merek Yumurti. Produk ini berhasil mengubah mi lethek tradisional menjadi hidangan praktis layaknya mi instan, menjadikannya lebih mudah diakses oleh masyarakat luas. Inovasi ini tidak hanya melestarikan kuliner khas, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih besar.
Panewu Srandakan, Karjiyem, menjelaskan bahwa Program Desa Preneur berupaya membentuk unit-unit usaha berskala desa yang dikelola langsung oleh warga setempat. Melalui penguatan kapasitas wirausaha, pelatihan keterampilan, serta digitalisasi, program ini diharapkan mampu menciptakan dampak ekonomi yang signifikan. Pengembangan Mi Lethek Kemasan Yumurti menjadi bukti keberhasilan pendekatan tersebut.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Desa Preneur Membangun Kemandirian Ekonomi
Program Desa Preneur di Kapanewon Srandakan merupakan langkah strategis pemerintah daerah untuk memberdayakan masyarakat secara ekonomi. Inisiatif ini dirancang untuk mendorong pertumbuhan UMKM dengan memanfaatkan potensi unik setiap desa. Fokus utamanya adalah memberikan pelatihan dan dukungan agar warga mampu mengelola unit usaha mereka sendiri.
Karjiyem, Panewu Srandakan, menegaskan bahwa program ini tidak hanya sekadar memberikan modal, tetapi juga membangun kapasitas wirausaha. Pelatihan keterampilan yang relevan dan adopsi teknologi digital menjadi pilar utama dalam pengembangan usaha. Tujuannya adalah agar produk lokal dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Melalui Desa Preneur, produk tradisional seperti mi lethek mendapatkan sentuhan inovasi yang modern. Transformasi ini memungkinkan mi lethek tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk menembus pasar nasional bahkan internasional. Hal ini sejalan dengan visi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Srandakan.
Advertisement
Advertisement
Mi Lethek Kemasan Yumurti: Praktis, Lezat, dan Bebas Gluten
Mi Lethek Yumurti adalah produk unggulan yang lahir dari Program Desa Preneur Trimurti, Srandakan, mengambil nama dari Kalurahan Trimurti. Produk ini merupakan inovasi mi lethek tradisional yang diolah menjadi kemasan kering siap saji. Keunggulan utamanya terletak pada bahan alami tanpa pengawet, menjadikannya pilihan sehat bagi konsumen.
Produk Mi Lethek Kemasan ini tersedia dalam berbagai varian rasa untuk memenuhi selera pasar modern. Saat ini, terdapat lima varian rasa yang ditawarkan, meliputi kari, soto, plecing, mi rebus original, dan mi goreng original. Cara pengolahannya pun sangat praktis, menyerupai mi instan pada umumnya, sehingga mudah disajikan kapan saja dan di mana saja.
Sulastri, Ketua Desa Preneur Kalurahan Trimurti, menjelaskan bahwa ide pengembangan Mi Lethek Kemasan ini muncul dari kesulitan masyarakat dalam meracik bumbu mi lethek sendiri. "Tidak semua orang bisa membuat bumbu mi lethek, jadi kami berinovasi agar bumbu ini bisa dimasak dengan mudah di mana saja," ujarnya.
Advertisement
Mi lethek sendiri terbuat dari tepung singkong, yang menjadikannya bebas gluten. Bahan baku tepung singkong ini didatangkan dari daerah sekitar seperti Kulon Progo dan Pundong, karena Kalurahan Trimurti tidak memiliki area budidaya singkong khusus.
Advertisement
Dampak Ekonomi dan Strategi Pemasaran Inovatif
Kehadiran Desa Preneur dan pengembangan Mi Lethek Kemasan Yumurti telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal. Program ini berhasil menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat. Saat ini, enam orang telah dipekerjakan untuk memproduksi mi lethek kemasan kering, menunjukkan kontribusi nyata terhadap penyerapan tenaga kerja.
Dalam hal pemasaran, Mi Lethek Kemasan Yumurti tidak hanya mengandalkan penjualan offline. Produk ini telah dipasarkan di sekitar 50 toko oleh-oleh di Yogyakarta sejak kelahirannya pada tahun 2024. Selain itu, promosi juga gencar dilakukan secara daring melalui media sosial dan berbagai platform marketplace.
Sulastri juga mengungkapkan bahwa strategi siaran langsung di TikTok turut membantu meningkatkan penjualan. "Kadang kami juga siaran langsung di TikTok karena cukup membantu penjualan," katanya. Pendekatan pemasaran yang bervariasi ini memastikan produk dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Advertisement
Advertisement
Potensi Pasar Luas dan Kontribusi Terhadap Kuliner Nasional
Dengan kapasitas produksi harian mencapai 100 hingga 200 bungkus Mi Lethek Kemasan kering, Desa Preneur Trimurti mampu meraih omzet kotor bulanan yang signifikan. Omzet rata-rata berkisar antara Rp10 juta hingga Rp15 juta. Angka ini bahkan dapat melonjak hingga Rp20 juta saat musim liburan atau Lebaran, menunjukkan potensi pasar yang besar.
Harga jual Mi Lethek Kemasan cukup terjangkau, dengan varian goreng seharga Rp17 ribu dan varian rebus Rp15 ribu per kemasan sekitar 100 gram. Produk ini juga menjadi upaya efektif untuk memperkenalkan makanan khas Bantul ke seluruh Indonesia, bahkan hingga mancanegara. "Kalau warga sini berkunjung ke luar Jawa, produk ini bisa dijadikan oleh-oleh," tambah Sulastri.
Pengembangan produk ini sejak awal didampingi oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY, memastikan kualitas dan standar produksi terjaga. Mi lethek yang digunakan dalam produk kemasan ini juga diproduksi oleh pelaku UMKM di sekitar, sehingga turut meningkatkan kesejahteraan UMKM lokal secara keseluruhan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews