Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jayawijaya mengumumkan adanya penurunan signifikan pada tingkat inflasi di wilayah Papua Pegunungan. Penurunan ini terjadi pada Februari 2026, yang dipengaruhi oleh stabilisasi harga komoditas pangan pokok. Situasi ini berdampak positif terhadap perekonomian daerah secara menyeluruh.
Kepala BPS Kabupaten Jayawijaya, Arther L Purmiasa, menjelaskan bahwa inflasi tahunan (year-on-year/yoy) di Papua Pegunungan berhasil ditekan. Angka inflasi turun drastis dari 2,93 persen pada Januari 2026 menjadi hanya 0,63 persen pada Februari 2026. Pencapaian ini menempatkan Papua Pegunungan sebagai wilayah dengan inflasi terendah se-Indonesia pada periode tersebut.
Penurunan Inflasi Papua Pegunungan ini disebabkan oleh stabilisasi harga komoditas penting seperti beras dan ketela, serta adanya intervensi positif dari pemerintah daerah. Langkah-langkah strategis ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Advertisement
Advertisement
Tren Inflasi Papua Pegunungan Terendah Nasional
Data terbaru dari BPS Kabupaten Jayawijaya menunjukkan bahwa Inflasi Papua Pegunungan pada Februari 2026 mencapai 0,63 persen secara tahunan (yoy). Angka ini merupakan penurunan yang signifikan dibandingkan Januari 2026 yang tercatat 2,93 persen. Penurunan tersebut menempatkan Papua Pegunungan pada posisi teratas sebagai provinsi dengan inflasi terendah di seluruh Indonesia.
Tingkat inflasi year-to-date (ytd) untuk Februari 2026 berada di angka 0,43 persen. Perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya juga menunjukkan tren positif, di mana inflasi yoy Februari 2025 adalah 7,99 persen dan Februari 2024 sebesar 2,87 persen. Perubahan signifikan ini mencerminkan upaya keras pemerintah daerah dalam mengendalikan tingkat kemahalan.
Meskipun terjadi penurunan inflasi, indeks harga konsumen (IHK) di Papua Pegunungan mengalami kenaikan menjadi 115,90 pada Februari 2026. Kenaikan IHK ini terjadi dari 115,17 pada Februari 2025, menunjukkan dinamika harga yang tetap perlu dicermati. Inflasi month-on-month (mom) tercatat sebesar 0,49 persen pada bulan yang sama.
Advertisement
Advertisement
Peran Stabilisasi Harga Pangan dan Intervensi Pemerintah
Penurunan Inflasi Papua Pegunungan secara substansial tidak lepas dari stabilisasi harga komoditas pangan pokok. Komoditas seperti beras dan ketela menunjukkan penurunan harga yang signifikan di pasaran. Kondisi ini secara langsung mengurangi tekanan pada daya beli masyarakat di delapan kabupaten wilayah tersebut.
Arther L Purmiasa menegaskan bahwa intervensi positif dari pemerintah daerah memegang peranan krusial. Langkah-langkah yang diambil pemerintah, berdasarkan usulan dari BPS, berhasil menekan tingkat kemahalan di wilayah tersebut. Sinergi antara BPS dan pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan dalam mengendalikan inflasi.
Perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Namun, stabilisasi harga pangan pokok berhasil menyeimbangkan kondisi tersebut. Upaya berkelanjutan diperlukan untuk menjaga agar Inflasi Papua Pegunungan tetap terkendali di masa mendatang.
Advertisement
Advertisement
Cakupan Wilayah dan Pemantauan BPS Jayawijaya
BPS Kabupaten Jayawijaya memiliki tanggung jawab besar dalam mengukur dan memantau inflasi di seluruh wilayah Papua Pegunungan. Wilayah cakupan ini meliputi delapan kabupaten yang beragam. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah Jayawijaya, Nduga, Yahukimo, Tolikara, Mamberamo Tengah, Pegunungan Bintang, Yalimo, dan Lanny Jaya.
Pemantauan inflasi dilakukan secara berkala untuk mendapatkan data yang akurat dan relevan. Data ini kemudian menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Akurasi data BPS sangat penting untuk memastikan intervensi yang tepat sasaran.
Hasil pemantauan BPS Jayawijaya menjadi indikator utama kesehatan ekonomi di Papua Pegunungan. Dengan data yang transparan, diharapkan stabilitas harga dapat terus terjaga. Hal ini penting untuk mendukung kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah pegunungan tersebut.
Advertisement
Sumber: AntaraNews