Bank Indonesia (BI) Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengambil langkah proaktif untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan cabai rawit menjelang periode Ramadhan dan Lebaran 2026. Upaya ini dilakukan melalui fasilitasi kerja sama pasokan antar daerah di NTB serta mendatangkan komoditas strategis ini dari luar wilayah.
Kepala BI Wilayah NTB, Hario Kartiko Pamungkas, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk menekan potensi kenaikan harga yang kerap terjadi akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan. Pada awal Ramadhan, pasokan hasil panen di NTB tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, membuat permintaan lebih tinggi dari penawaran.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BI menghubungkan kelompok tani di sentra produksi dengan pembeli di wilayah yang memiliki permintaan tinggi. Selain itu, penyisiran klaster pertanian binaan juga dilakukan untuk memastikan potensi panen cabai rawit di tengah cuaca yang didominasi hujan.
Advertisement
Advertisement
Bank Indonesia secara aktif menyisir klaster pertanian binaan yang tersebar di sejumlah wilayah NTB guna memastikan ketersediaan cabai rawit. Langkah ini krusial untuk mengidentifikasi potensi panen yang dapat menopang kebutuhan masyarakat selama Ramadhan 2026.
Dua klaster pertanian binaan BI, yang berlokasi di Lombok Utara dan Lombok Tengah, menunjukkan hasil positif. Meskipun menghadapi kondisi cuaca yang didominasi hujan, kedua klaster ini masih mampu melakukan panen cabai rawit.
Hario Kartiko Pamungkas menegaskan bahwa hasil panen dari Lombok Utara tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan warga setempat, melainkan juga mampu memenuhi permintaan masyarakat di Mataram. Ini menunjukkan efektivitas strategi distribusi internal yang difasilitasi oleh BI untuk **Pasokan Cabai Rawit NTB**.
Advertisement
Optimalisasi pasokan dari klaster binaan ini menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas harga cabai rawit di pasar lokal. Dengan demikian, ketergantungan pada pasokan dari luar daerah dapat diminimalisir.
Advertisement
Selain mengoptimalkan pasokan internal, Bank Indonesia juga mendorong penambahan pasokan cabai rawit dari luar daerah untuk mencukupi kebutuhan masyarakat NTB. Kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci dalam strategi ini.
Badan Pangan Nasional, bersama Satgas Saber Pangan dan Pemerintah Lombok Tengah, telah berhasil mendatangkan sejumlah pasokan vital. Detail pasokan tambahan ini meliputi:
Upaya kolektif ini memperkuat ketersediaan **Pasokan Cabai Rawit NTB** secara signifikan. Badan Pangan Nasional juga memberikan fasilitas distribusi pangan yang komprehensif, termasuk menanggung seluruh biaya pengiriman cabai rawit dari Sulawesi Selatan maupun daerah lain ke NTB. Ini adalah bentuk penguatan distribusi yang vital.
Advertisement
Advertisement
Dalam menghadapi potensi lonjakan permintaan selama Ramadhan hingga Lebaran 2026, Hario Kartiko Pamungkas mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola belanja bijak dan konsumsi wajar. Perilaku konsumen memiliki dampak besar terhadap dinamika harga.
Belanja yang bijak berarti membeli sesuai kebutuhan, tanpa menimbun atau melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu kelangkaan semu. Konsumsi wajar juga penting untuk menghindari pemborosan.
"Kalau kita semua bisa belanja secara bijak dan konsumsi secara wajar, mudah-mudahan kita bisa berkontribusi terhadap pengendalian harga pangan di NTB," pungkas Hario.
Advertisement
Imbauan ini menjadi bagian integral dari upaya menjaga stabilitas harga pangan, termasuk **Pasokan Cabai Rawit NTB**, agar tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sumber: AntaraNews