Indonesia Siapkan 700 Ton Ikan Patin untuk Konsumsi Jemaah Haji

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkirakan akan mengekspor sekitar 700 ton ikan patin untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.

Arief Rahman H
Oleh Arief Rahman H - Reporter
Indonesia Siapkan 700 Ton Ikan Patin untuk Konsumsi Jemaah Haji
Komoditas unggulan baru berupa spesies ikan patin "luar biasa" yang dinamakan Patin Perkasa (dok: KKP) (© 2026 Liputan6.com)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkirakan bahwa sekitar 700 ton ikan patin akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Jumlah tersebut ditargetkan untuk melayani konsumsi sebanyak 200 ribu jemaah. Plt Direktur Jenderal Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), KKP, Machmud, menyatakan bahwa estimasi jumlah ikan yang akan diekspor ini masih dalam tahap proses persetujuan.

"Kalau untuk hajian itu kurang lebih sekitar kalau kemarin ya sekitar kalau 200.000 jemaah itu kita diminta sekitar 600 sampai 700 ton ya itu," ungkap Machmud saat ditemui di Kantor KKP, Jakarta, pada Kamis (19/2/2026).

Di sisi lain, permintaan ikan patin untuk umroh diperkirakan akan lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa umroh dapat dilakukan sepanjang tahun dan tergantung pada pilihan menu yang tersedia. Machmud menambahkan bahwa rencana ekspor ini bukanlah yang pertama kalinya.

Indonesia sebelumnya pernah mengekspor ikan patin untuk jemaah haji pada tahun 2019 dengan total sebanyak 300 ton. "Setelah itu karena covid kemudian kita akan mencoba masuk lagi ternyata ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Mudah-mudahan syarat-syarat ini segera bisa selesai sehingga kita bisa melakukan ekspor patin lagi ke Arab Saudi sana. Karena yang dikonsumsi itu patin," tuturnya.

Favorit Jemaah Haji

Indonesia Bakal Kirim 700 Ton Ikan Patin Buat Konsumsi Jemaah Haji
Komoditas unggulan baru berupa spesies ikan patin "luar biasa" yang dinamakan Patin Perkasa (dok: KKP) © 2026 Liputan6.com

Dia menjelaskan bahwa ikan patin fillet akan diekspor dan menjadi salah satu menu favorit bagi jemaah haji. Selain ikan patin, ekspor juga mencakup tuna dan cakalang kaleng yang cukup diminati.

"Tapi kalau untuk tuna kaleng itu Indonesia sudah ekspor ke sana, cakalang dan tuna kaleng, dan itu juga sudah digunakan untuk haji dan umrah," katanya. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki produk makanan yang diterima baik oleh jemaah haji.

Sementara itu, terdapat negara lain yang juga menyuplai makanan ke Arab Saudi untuk jemaah haji. "Memang ada saingan untuk tuna kaleng itu ada dari Thailand. Thailand pun mengekspor juga ke Arab Saudi untuk tuna dan cakalang kaleng," ujarnya. Persaingan ini menunjukkan bahwa pasar makanan untuk jemaah haji cukup kompetitif, dengan beberapa negara berusaha untuk memenuhi kebutuhan jemaah dengan produk-produk berkualitas.

Tim Pengiriman Ikan Patin Menuju Arab Saudi

Indonesia Bakal Kirim 700 Ton Ikan Patin Buat Konsumsi Jemaah Haji
Komoditas unggulan baru berupa spesies ikan patin "luar biasa" yang dinamakan Patin Perkasa (dok: KKP) © 2026 Liputan6.com

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengumumkan rencana untuk mengekspor ikan patin ke Arab Saudi. Tujuan utama dari ekspor ini adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji dan umrah asal Indonesia.

KKP telah melengkapi berbagai persyaratan yang diperlukan untuk proses ekspor tersebut. Kepala Badan Mutu KKP, Ishartini, menjelaskan bahwa rencana ekspor ini telah dibahas secara mendalam dalam tim yang dibentuk oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.

"Untuk ekspor hasil budidaya ke Arab Saudi Pak Menko Pangan sudah menyusun tim untuk ekosistem Pangan Haji dan Umroh, salah satu anggotanya adalah KKP," kata Ishartini dalam Konferensi Pers di Media Center KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Rencana ini menunjukkan komitmen KKP dalam mendukung kebutuhan pangan jemaah haji dan umrah, serta meningkatkan potensi ekspor produk perikanan Indonesia. Dengan adanya tim yang dibentuk, diharapkan proses ekspor dapat berjalan lancar dan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Hal ini juga menjadi langkah strategis untuk memperluas pasar ikan patin Indonesia di luar negeri, khususnya di negara-negara dengan permintaan tinggi. Keberhasilan ekspor ini tentunya akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan meningkatkan kesejahteraan para petani ikan di tanah air.

Proses Negosiasi Masih Berlangsung

Dia menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan negosiasi dengan Saudi Food and Drug Authority (SFDA) untuk memasukkan ikan budidaya dari Indonesia ke Arab Saudi.

"Memang kita belum mendapatkan approval, namun demikian ini sudah di dalam proses. Seluruh persyaratan yang diminta oleh SFDA sudah kita penuhi, dalam hal ini dari pak Dirjen (perikanan) budidaya sudah memenuhi persyaratan-persyaratannya," tutur dia.

Ishartini menegaskan bahwa proses koordinasi antara kedua negara masih berlangsung secara aktif. Dengan demikian, mereka hanya tinggal menunggu kepastian mengenai langkah ekspor ikan patin tersebut.

"Jadi kita tinggal menunggu saja, mudah-mudahan dengan adanya tim terpadu untuk ekosistem haji dan umroh ini produk budidaya bisa segera memasuki pasar Saudi Arabia," jelasnya. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pihak Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar Arab Saudi dan memanfaatkan peluang yang ada di sektor perikanan.

Rekomendasi