Kesalahan kecil dalam bertransaksi kripto bisa berakibat fatal dan mengakibatkan kerugian yang signifikan. Pada bulan Januari, dua kejadian terpisah menyebabkan pengguna kripto kehilangan total sebesar USD62 juta, yang setara dengan ratusan miliar rupiah.
Hal itu terjadi akibat kesalahan dalam menyalin alamat wallet dan serangan phishing. Dikutip dari Crypto Potato pada Selasa (10/2), laporan dari solusi keamanan Web3 Scam Sniffer menyebutkan bahwa seorang pengguna kripto mengalami kerugian mencapai USD 12,25 juta pada bulan Januari setelah secara keliru menyalin alamat wallet. Sebelumnya, pada bulan Desember, insiden serupa juga terjadi dan mengakibatkan kerugian yang lebih besar, yaitu mencapai USD 50 juta.
Kedua kejadian ini menegaskan bahwa kesalahan manusia tetap menjadi salah satu celah terbesar dalam keamanan aset digital. Meskipun teknologi blockchain dikenal dengan keamanannya, proses transaksi yang bersifat tidak dapat dibatalkan menjadikan kesalahan sekecil apa pun dapat berdampak serius.
Scam Sniffer menilai bahwa tren ini merupakan peringatan yang sangat penting bagi pengguna kripto, terutama di tengah meningkatnya aktivitas penipuan yang memanfaatkan kelalaian korban saat melakukan transaksi.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Advertisement
Serangan Phishing Meningkat
Selain kesalahan dalam menyalin alamat dompet, Scam Sniffer juga mencatat adanya peningkatan yang signifikan dalam serangan signature phishing pada bulan Januari. Total dana yang berhasil dicuri melalui metode ini mencapai USD 6,27 juta, dengan jumlah korban mencapai 4.741 dompet, yang menunjukkan peningkatan sebesar 207% jika dibandingkan dengan bulan Desember.
Kasus pencurian terbesar melibatkan dana sebesar USD 3,02 juta dari token SLVon dan XAUt melalui skema permit/increaseAllowance. Sementara itu, sekitar USD 1,08 juta berhasil dicuri dari token aEthLBTC dengan menggunakan metode yang sama.
Menarik untuk dicatat bahwa hanya dua wallet penyerang yang bertanggung jawab atas sekitar 65% dari total kerugian yang diakibatkan oleh phishing, yang menunjukkan adanya aksi yang terorganisir dengan baik.
Modus address poisoning menjadi salah satu teknik yang paling sering diterapkan oleh para penipu. Mereka mengirimkan transaksi kecil dari alamat wallet yang sangat mirip dengan alamat asli, dengan harapan agar korban menyalin alamat palsu tersebut dari riwayat transaksi yang ada. Jika penipuan ini berhasil, dana korban akan langsung terkirim ke dompet penipu.
Serangan ini sering kali dipadukan dengan phishing tanda tangan, di mana korban tanpa sadar menandatangani izin berbahaya yang memberikan akses kepada penyerang untuk memindahkan aset di masa mendatang.
Advertisement
Kasus Multisig dan Peringatan dari Safe Walle Perlu Diperhatikan
Insiden serupa terjadi pada bulan November tahun lalu, di mana seorang pemilik kripto dilaporkan kehilangan lebih dari USD 3 juta dalam bentuk token PYTH. Kerugian ini disebabkan oleh kesalahan transfer dana ke dompet penipu. Menurut analisis dari Lookonchain, penyerang menciptakan alamat dompet palsu yang mirip dengan empat karakter awal dari alamat asli, dan melakukan transaksi kecil menggunakan token SOL untuk memberikan kesan bahwa alamat tersebut sah. Tanpa melakukan pemeriksaan yang memadai, korban akhirnya mentransfer 7 juta token PYTH, yang pada saat itu bernilai sekitar USD 3,08 juta.
Seiring dengan meningkatnya jumlah serangan semacam ini, dompet non-kustodian Safe, yang sebelumnya dikenal sebagai Gnosis Safe, juga mengeluarkan peringatan kepada para penggunanya. Platform ini mendeteksi adanya kampanye besar yang berkaitan dengan address poisoning dan rekayasa sosial yang menyasar dompet multisig.
Safe menegaskan bahwa serangan tersebut tidak disebabkan oleh celah dalam protokol, kebocoran infrastruktur, atau kerentanan pada kontrak pintar. Namun, para penyerang diketahui telah menciptakan ribuan alamat Safe palsu untuk menipu pengguna.
Sebagai langkah pencegahan, Safe telah mengidentifikasi sekitar 5.000 alamat berbahaya dan menghapusnya dari antarmuka Safe Wallet, guna mengurangi risiko kesalahan transfer dana yang dilakukan oleh pengguna.