Kemenhub Tangani Antrean Panjang di Pelabuhan Merak Akibat Cuaca Ekstrem dan Lonjakan Kendaraan

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sigap tangani antrean panjang kendaraan di Pelabuhan Merak akibat cuaca ekstrem dan lonjakan permintaan, memastikan kelancaran penyeberangan ke Bakauheni.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenhub Tangani Antrean Panjang di Pelabuhan Merak Akibat Cuaca Ekstrem dan Lonjakan Kendaraan
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sigap tangani antrean panjang kendaraan di Pelabuhan Merak akibat cuaca ekstrem dan lonjakan permintaan, memastikan kelancaran penyeberangan ke Bakauheni. (AntaraNews)

Kemenhub Tangani Antrean Panjang di Pelabuhan Merak Akibat Cuaca Ekstrem dan Lonjakan Kendaraan

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bergerak cepat menangani antrean panjang kendaraan yang terjadi di Pelabuhan Penyeberangan Merak, Banten. Penanganan ini bertujuan untuk memastikan kelancaran perjalanan menyeberang menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung, di tengah kondisi yang menantang. Situasi ini menjadi perhatian utama mengingat pentingnya jalur Merak-Bakauheni sebagai urat nadi transportasi.

Antrean kendaraan tersebut disebabkan oleh kondisi cuaca ekstrem yang melanda Perairan Selat Sunda. Cuaca buruk ditandai dengan gelombang tinggi serta angin kencang, yang secara signifikan mengganggu operasional penyeberangan kapal. Kondisi ini berdampak langsung pada jadwal dan kapasitas layanan penyeberangan.

Selain faktor cuaca, peningkatan signifikan pada permintaan jasa penyeberangan juga turut memperparah kepadatan. Terutama, lonjakan terjadi pada kendaraan angkutan logistik yang menuju Pelabuhan Merak. Kemenhub terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengurai kepadatan ini.

Penyebab Utama Antrean: Cuaca Ekstrem dan Lonjakan Permintaan

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, menjelaskan bahwa antrean panjang di Pelabuhan Merak utamanya dipicu oleh cuaca ekstrem di Selat Sunda. Gelombang tinggi dan angin kencang menyebabkan kapal mengalami kesulitan saat bersandar di dermaga. Akibatnya, proses bongkar muat tidak dapat berjalan secara optimal, memperlambat seluruh alur penyeberangan.

"Gangguan cuaca ekstrem berdampak langsung pada operasional kapal, terutama saat sandar di dermaga, sehingga memicu penumpukan kendaraan di area pelabuhan," kata Aan Suhanan di Merak pada Minggu (21/12). Pernyataan ini menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi alam yang tidak menentu.

Di samping cuaca buruk, peningkatan jumlah kendaraan angkutan logistik juga menjadi penyebab signifikan. Permintaan jasa penyeberangan yang melonjak, khususnya untuk kendaraan logistik, menambah volume kendaraan yang harus dilayani. Hal ini menciptakan tekanan tambahan pada kapasitas pelabuhan dan armada kapal yang beroperasi.

Strategi Kemenhub Mengurai Kepadatan di Pelabuhan Merak

Untuk mengatasi kepadatan antrean di Pelabuhan Merak, Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub menjalin kerja sama erat dengan berbagai pihak. Kolaborasi ini melibatkan Kepolisian, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Banten, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten, serta PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat penanganan dan meminimalkan dampak antrean.

Kemenhub juga mengoptimalkan penerapan beberapa sistem pengaturan lalu lintas. Sistem tersebut meliputi delaying system, buffer zone, dan penyekatan kendaraan. "Kami turut mengoptimalkan penerapan delaying system, buffer zone, dan penyekatan kendaraan, dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan penyeberangan," jelas Aan Suhanan. Langkah-langkah ini diambil untuk mengatur arus kendaraan agar tidak terjadi penumpukan yang berlebihan di dalam area pelabuhan.

Upaya penguraian kepadatan juga didukung dengan penambahan kapal berkapasitas besar di setiap dermaga. Penambahan ini telah dilakukan sejak dini hari tanggal 18 Desember 2025. Selain itu, delaying system diterapkan secara aktif saat terjadi gangguan cuaca pada level Peringatan Dini I dan Peringatan Dini II, memberikan fleksibilitas operasional di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan bahwa tiket pengguna jasa tetap berlaku dan tidak kedaluwarsa selama penerapan delaying system akibat cuaca buruk. Kebijakan ini memberikan rasa aman bagi para penumpang dan pengemudi yang terdampak penundaan keberangkatan.

Koordinasi dan Imbauan Keselamatan Jelang Nataru

Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan terkait. Koordinasi ini bertujuan untuk memastikan keselamatan dan kelancaran angkutan penyeberangan, khususnya pada lintasan Merak–Bakauheni. Persiapan matang sangat penting menjelang periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Kemenhub juga mengimbau masyarakat untuk memantau secara berkala informasi potensi cuaca ekstrem sebelum melakukan perjalanan. Informasi ini dapat diakses dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang telah memprediksi adanya cuaca ekstrem selama periode Nataru. Pemantauan cuaca menjadi langkah mitigasi risiko penting bagi keselamatan perjalanan.

Imbauan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko keselamatan perjalanan yang komprehensif. Dengan informasi yang akurat dan persiapan yang memadai, diharapkan masyarakat dapat merencanakan perjalanan dengan lebih bijak. Keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna jasa penyeberangan menjadi prioritas utama Kemenhub.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi