PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengumumkan proyeksi investasi yang substansial untuk pengembangan tambang bawah tanah tembaga Tujuh Bukit. Nilai investasi ini diperkirakan mencapai 1,5 miliar dolar AS, di luar pengembangan smelter yang terpisah. Proyek strategis ini berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur, dan menjadi fokus utama perusahaan dalam ekspansi pertambangan.
Proyek ambisius yang digarap oleh anak usaha MDKA, PT Bumi Suksesindo (BSI), ini telah dimulai dengan investasi awal sebesar 200 juta dolar AS pada tahun 2018. Kini, MDKA bersiap untuk memasuki fase pengembangan yang lebih besar dan kompleks. Komitmen ini menunjukkan keyakinan kuat perusahaan terhadap potensi mineral di wilayah tersebut serta prospek jangka panjangnya.
Head of Corporate Communications PT Merdeka Copper Gold Tbk, Tom Malik, menjelaskan detail proyek ini dalam sebuah lokakarya media di Banyuwangi. Ia menegaskan, "Untuk Tujuh Bukit underground (bawah tanah) itu, perkiraan pengembangan bawah tanahnya dan lain-lain bisa memenuhi investasi 1 miliar dolar AS sampai 1,5 miliar dolar AS, belum termasuk smelter.” Proyek ini masih dalam fase praproduksi, dengan pengeboran yang baru dilakukan di permukaan.
Advertisement
Advertisement
Potensi Cadangan dan Target Produksi MDKA
Data Mineral Resources Estimate (MRE) per Maret 2024 menunjukkan potensi cadangan yang sangat besar di tambang bawah tanah Tujuh Bukit. Proyek ini mengandung 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ounces emas. Angka ini menempatkan proyek ini sebagai salah satu cadangan mineral signifikan di Indonesia, menopang rencana jangka panjang MDKA dalam industri pertambangan.
Untuk tahun ini, MDKA menargetkan produksi emas sebesar 100-110 ribu ounces dan tembaga 11-13 ribu ton. Target produksi ini mencerminkan optimisme perusahaan terhadap operasional tambang yang sedang berjalan. Menurut Tom Malik, proses produksi sejauh ini masih sesuai dengan target perusahaan, meskipun ia tidak merinci realisasi spesifiknya kepada publik.
Potensi besar dari cadangan mineral dan target produksi yang ambisius menjadikan Investasi Tambang Bawah Tanah MDKA sangat strategis. Diharapkan, proyek ini akan menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan di masa depan. Selain itu, pengembangan ini juga berpotensi memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan nasional melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah.
Advertisement
Advertisement
Strategi Transisi Operasional dan Studi Kelayakan Berkelanjutan
Secara paralel, MDKA tengah mempersiapkan transisi operasional Tambang Tujuh Bukit dari metode penambangan terbuka menuju tambang bawah tanah. Transisi ini krusial untuk keberlanjutan dan peningkatan efisiensi penambangan dalam jangka panjang. Tambang terbuka Tujuh Bukit sendiri diperkirakan masih dapat beroperasi hingga tahun 2030, memberikan waktu yang cukup untuk perencanaan yang matang dan implementasi bertahap.
Pihak MDKA berupaya keras agar proses transisi ini dapat berlangsung tanpa jeda operasional. Tom Malik menyampaikan, "Kami harap bisa terjadi transisi langsung, tidak ada jeda. Tapi, belum keluar detailnya. Kami sedang feasibility study (studi kelayakan) untuk detailnya. Tahun ini mestinya selesai feasibility study-nya." Pernyataan ini menekankan pentingnya kelancaran proses dan minimisasi gangguan produksi.
Studi kelayakan (feasibility study) untuk proyek tambang bawah tanah ini diharapkan rampung pada tahun ini. Setelah studi kelayakan selesai, proyek akan memasuki tahap konstruksi sebelum akhirnya menuju fase produksi penuh. Ini adalah tahapan krusial dalam mewujudkan potensi penuh dari proyek tersebut dan memastikan operasional yang optimal.
Advertisement
Berdasarkan hasil studi prakelayakan (pre-feasibility study/PFS) pada Mei 2023, pada puncak produksi, proyek Tembaga Tujuh Bukit diperkirakan mampu memproses 24 juta ton bijih tembaga per tahun. Hasilnya bisa mencapai lebih dari 110.000 ton tembaga dan 350.000 ounces emas per tahun. Kapasitas produksi yang masif ini diproyeksikan bertahan selama lebih dari 30 tahun, menunjukkan skala dan durasi proyek yang luar biasa.
Sumber: AntaraNews