Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Jawa Timur, terus mengintensifkan komunikasi dengan pemerintah pusat terkait realisasi program hilirisasi garam di wilayah pesisirnya. Langkah ini diambil untuk memastikan adanya kepastian dukungan dari pusat dalam pengembangan industri garam lokal.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, menyatakan bahwa meskipun usulan lokasi telah diajukan, program hilirisasi garam untuk Kabupaten Malang masih dalam tahap koordinasi. Usulan lokasi proyek hilirisasi garam tersebut berpusat di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo.
Pemilihan Desa Sumberoto sebagai lokasi strategis didasarkan pada potensinya yang tinggi sebagai sentra produksi garam krosok menggunakan sistem tunnel. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi petani garam di daerah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Potensi dan Lokasi Pengembangan Hilirisasi Garam Malang
Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, telah diusulkan menjadi pusat proyek hilirisasi garam karena merupakan salah satu titik potensial produksi garam krosok dengan sistem tunnel. Sistem ini dikenal mampu menghasilkan garam berkualitas tinggi.
Data Dinas Perikanan Kabupaten Malang menunjukkan bahwa pada semester I 2026, produksi garam krosok di Desa Sumberoto, khususnya di kawasan Pantai Modangan, mencapai 30.150 kilogram. Angka ini jauh melampaui produksi di Pantai Perawan (1.250 kilogram) dan Pantai Ngantep (3.200 kilogram).
Dengan potensi produksi yang signifikan, Pemkab Malang menargetkan total produksi garam krosok tahun ini dapat mencapai 60 ribu kilogram. Target ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengoptimalkan sektor pergaraman.
Advertisement
Advertisement
Peningkatan Nilai dan Manfaat Ekonomi Hilirisasi Garam
Victor Sembiring menjelaskan bahwa hilirisasi akan memberikan nilai tambah yang besar pada komoditas garam, mengubah garam krosok menjadi produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi. Proses ini esensial untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam.
Produk turunan yang dihasilkan dari hilirisasi garam sangat beragam, meliputi garam konsumsi, bahan baku untuk industri makanan dan minuman, farmasi, hingga produk kecantikan. Diversifikasi produk ini membuka peluang pasar yang lebih luas.
Perbedaan harga menjadi salah satu pendorong utama hilirisasi; garam krosok dipasarkan dengan harga Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram, sedangkan garam konsumsi dari bahan baku yang sama bisa mencapai minimal Rp6.000 per kilogram. Garam dari sistem tunnel bahkan masuk kategori K1, menjanjikan harga yang lebih tinggi.
Advertisement
Advertisement
Prospek dan Tantangan Hilirisasi Garam Malang
Meskipun potensi **hilirisasi garam Malang** sangat besar, realisasinya masih bergantung pada komunikasi dan dukungan dari pemerintah pusat. Pemkab Malang berharap program ini dapat terwujud setidaknya pada tahun ini untuk segera memberikan dampak positif.
Saat ini, area pemasaran garam krosok dari Kabupaten Malang memiliki pasar utama di industri pengolahan garam di Kabupaten Tulungagung. Selain itu, pasar lokal di Malang memanfaatkan garam untuk kebutuhan ternak dan garam ikan.
Dengan dukungan pemerintah pusat, program hilirisasi diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pendapatan petani secara signifikan. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal serta menciptakan lapangan kerja baru.
Advertisement
Sumber: AntaraNews