Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) mengumumkan bahwa biaya perbaikan Jalan Pelantar II Kota Tanjungpinang setara dengan pembangunan sebuah jembatan. Jalan yang amblas sejak awal 2025 ini membutuhkan anggaran besar karena menggunakan metode konstruksi khusus. Hal ini bertujuan untuk memastikan kekuatan jalan mampu menahan beban kendaraan Muatan Sumbu Terberat (MST) hingga 15 ton.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Provinsi Kepri, Rodi Yantari, menjelaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pekerjaan tambal sulam biasa. Pengerjaan konstruksi jalan sepanjang 24,2 meter dengan lebar 6 meter ini memerlukan pendekatan yang berbeda. Pemilihan metode konstruksi yang mahal ini didasarkan pada pertimbangan teknis dan lingkungan yang sangat cermat.
Angka perbaikan jalan amblas tersebut mencapai sekitar Rp27 juta per meter persegi, sebuah nilai yang mendekati biaya pembangunan jalan beton di atas air atau jembatan. Total nilai proyek secara keseluruhan sebesar Rp3,9 miliar, lebih rendah Rp600 juta dari pagu anggaran awal Rp4,5 miliar yang bersumber dari APBD 2025 melalui Belanja Tidak Terduga (BTT). Proyek ini diharapkan dapat segera dimulai dan diselesaikan demi kelancaran aktivitas masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Metode Konstruksi Khusus dan Biaya Tinggi Perbaikan Jalan Pelantar II
Pembangunan Jalan Pelantar II Tanjungpinang menggunakan metode pondasi bore pile dengan full casing, bukan tiang pancang atau spun pile. Pondasi bore pile adalah pondasi dalam berbentuk tabung panjang yang ditancapkan ke tanah, berfungsi mengalirkan beban berat konstruksi ke lapisan tanah yang lebih keras. Metode ini memastikan bangunan dapat berdiri kokoh dan tahan lama.
Rodi Yantari menegaskan bahwa penggunaan pondasi bore pile full casing ini adalah standar jembatan, sehingga biayanya relatif lebih mahal. Jika menggunakan pondasi tiang pancang, getaran yang dihasilkan berpotensi merusak rumah warga di sekitar lokasi yang berdempetan dengan permukiman. Oleh karena itu, pilihan metode ini menjadi krusial untuk menjaga keamanan dan kenyamanan warga.
Konstruksi Jalan Pelantar II Tanjungpinang ini dirancang setara dengan jalan provinsi, mirip akses ke pelabuhan atau jalan penghubung daerah. Ini jauh berbeda dari sekadar jalan lingkungan biasa. Desain proyek rekonstruksi ini juga mengikuti konsep integrasi dengan Pelantar I dan II Tanjungpinang yang sudah dikerjakan sebelumnya, meskipun dengan perbedaan pada jenis pondasi yang digunakan.
Advertisement
Advertisement
Urgensi Perbaikan dan Dampak Ekonomi Jalan Pelantar II
Proyek rekonstruksi Jalan Pelantar II Tanjungpinang harus segera tuntas karena jalan ini merupakan akses vital menuju Pelabuhan Kuala Riau. Pelabuhan ini menjadi tempat keluar masuk truk bongkar muat logistik yang menopang perekonomian daerah. Penutupan jalur sejak jalan amblas telah membuat arus barang terpaksa dialihkan ke Pelantar I, yang menimbulkan kepadatan dan kemacetan.
Kondisi ini berpotensi mengganggu distribusi kebutuhan pokok masyarakat dan menghambat arus logistik secara keseluruhan. Rodi Yantari menekankan bahwa jika tidak segera diperbaiki, arus logistik bisa terus tersendat. Padahal, kawasan ini merupakan salah satu pusat perekonomian yang menopang kebutuhan pokok masyarakat di ibu kota Kepri, sehingga perbaikan menjadi prioritas utama.
Masyarakat setempat memberikan dukungan penuh terhadap proyek ini, menyadari pentingnya Jalan Pelantar II bagi kelancaran aktivitas ekonomi dan distribusi barang. Dukungan ini menjadi faktor pendorong bagi pemerintah untuk mempercepat proses pengerjaan. Rekonstruksi ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi vital jalan dan mendukung stabilitas ekonomi daerah.
Advertisement
Advertisement
Tahapan Rekonstruksi Jalan Pelantar II
Rekonstruksi Jalan Pelantar II Tanjungpinang akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama akan fokus pada titik amblas sepanjang 24,3 meter dan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2025. Ini adalah bagian paling krusial yang membutuhkan penanganan segera untuk mengembalikan fungsi dasar jalan.
Sedangkan tahap kedua akan menyusul pada tahun 2026, yang akan mencakup perbaikan sisa ruas sepanjang lebih kurang 190 meter. Pembagian tahapan ini memungkinkan fokus pada area yang paling rusak terlebih dahulu. Pendekatan bertahap ini juga membantu dalam pengelolaan anggaran dan sumber daya secara efisien.
Dengan perencanaan dan pelaksanaan yang matang, diharapkan seluruh proyek rekonstruksi Jalan Pelantar II dapat selesai sesuai target. Rampungnya proyek ini akan sangat membantu kelancaran transportasi dan distribusi logistik di Tanjungpinang, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah Kepulauan Riau.
Advertisement
Sumber: AntaraNews