Taktik China Lawan AS, Bangun Pelabuhan Megah Rp4,5 Triliun di Negara ASEAN

Proyek ini sedang berjalan dan direncanakan akan selesai pada akhir tahun 2027.

Satria Aji Saputra
Oleh Satria Aji Saputra - Reporter
Taktik China Lawan AS, Bangun Pelabuhan Megah Rp4,5 Triliun di Negara ASEAN
Ilustrasi pelabuhan (iStock) (© 2025 Liputan6.com)

China terus menelurkan berbagai inisiatif untuk memperkuat hubungan dagangnya dengan Asia Tenggara (ASEAN). Salah satu langkah yang diambil adalah melalui pengembangan pelabuhan besar di Brunei Darussalam.

China memilih lokasi ini untuk membangun pelabuhan demi meningkatkan ekspor, terutama di tengah ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).

Menurut informasi yang dikutip dari South China Morning Post, Dewan Pengembangan Ekonomi Brunei mengungkapkan bahwa pelabuhan terbesar di negara tersebut adalah pelabuhan di Muara. Pelabuhan ini akan dikembangkan melalui kerja sama dengan perusahaan milik negara China.

Pembangunan pelabuhan ini telah dimulai dan ditargetkan untuk meningkatkan kapasitas fasilitas menjadi lebih dari 500.000 unit setara 20 kaki (TEU). Proyek ini memerlukan investasi sebesar 2 miliar Yuan atau setara USD 278 juta, yang jika dikonversikan ke dalam rupiah mencapai sekitar Rp4,5 triliun.

Proyek ini sedang berjalan dan direncanakan akan selesai pada akhir tahun 2027, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Xinhua.

Asia Tenggara menjadi kawasan strategis bagi China, terutama sejak dimulainya perang dagang, karena negara dengan ekonomi terbesar kedua ini sangat bergantung pada ekspor yang terus meningkat ke wilayah tersebut untuk mengurangi dampak dari tarif yang dikenakan oleh AS.

Data bea cukai China menunjukkan bahwa pengiriman barang ke negara-negara ASEAN mengalami peningkatan sebesar 16,6 persen dibandingkan tahun lalu, sementara ekspor ke AS justru mengalami penurunan lebih dari 20 persen secara tahunan.

Hal ini menunjukkan bahwa China berusaha untuk memperkuat posisinya di pasar Asia Tenggara sebagai langkah strategis dalam menghadapi tantangan perdagangan global.

Tantangan Dihadapi China

Ekspor China ke negara-negara Asia Tenggara mengalami lonjakan yang memicu kekhawatiran di Amerika Serikat. Washington telah berusaha menekan pemerintah-pemerintah Asia Tenggara untuk menghentikan pengiriman ulang barang-barang yang berasal dari China selama beberapa bulan terakhir.

Data yang menunjukkan pertumbuhan perdagangan China memperlihatkan fluktuasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Terutama, pada Februari 2021, terdapat lonjakan drastis dalam ekspor dan impor dalam denominasi dolar Amerika (USD), di mana ekspor tumbuh hingga 155 persen secara tahunan. Ini merupakan kenaikan tertinggi yang tercatat dalam periode tersebut.

Memasuki tahun 2024 hingga 2025, pertumbuhan ekspor dan impor terlihat stabil dengan kisaran satu digit, meskipun terkadang mengalami penurunan kecil ke wilayah negatif.

Tren ini mencerminkan tantangan global yang dihadapi oleh China, termasuk dampak dari perang dagang, perlambatan ekonomi, dan perubahan dalam permintaan pasar internasional.

Dalam upaya untuk menjaga momentum ekspornya di tengah tekanan tarif dari AS, China sedang mengambil langkah-langkah strategis. Meskipun pertumbuhan perdagangan cenderung stabil, pergeseran orientasi pasar menunjukkan bahwa kawasan ASEAN memainkan peran penting dalam peta perdagangan global bagi negara Tirai Bambu.

Trump Tunda Tarif Impor untuk China Selama 90 Hari

Senjata Baru China Lawan AS: Bangun Pelabuhan Rp 4,5 Triliun di Brunei
Ilustrasi pelabuhan (iStock) © 2025 Liputan6.com

Sebelumnya, pada hari Senin (waktu setempat), Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk menunda penerapan tarif tinggi atas barang impor dari China selama 90 hari. Keputusan ini disampaikan oleh seorang pejabat Gedung Putih kepada CNBC.

Tarif yang seharusnya mulai berlaku pada hari Selasa tersebut, ditunda setelah Trump menandatangani perintah eksekutif beberapa jam sebelum batas waktu, yang memperpanjang tenggat hingga pertengahan November.

Menurut laporan CNBC, penundaan ini merupakan hasil dari perundingan dagang terbaru antara AS dan China yang berlangsung di Stockholm pada akhir bulan Juli. Jika tenggat waktu tersebut tidak diperpanjang, tarif impor yang dikenakan oleh AS terhadap China akan kembali naik ke tingkat yang berlaku pada bulan April lalu, saat ketegangan perang dagang antara kedua negara mencapai puncaknya.

Pada saat itu, Trump menaikkan tarif untuk semua barang dari China menjadi 145 persen, sementara China membalas dengan menerapkan tarif sebesar 125 persen untuk barang-barang dari AS. Namun, pada bulan Mei, kedua negara sepakat untuk mengurangi sebagian besar tarif tersebut, di mana AS menurunkan tarifnya menjadi 30 persen, sementara China mengurangi tarif menjadi 10 persen.

Rekomendasi